
Usai tempo hari Zen di kejutkan dengan panggilan Ken menyala, Zen nampak khawatir jika ia yang dalam kondisi mabuk merancau kemana saja.
Hari ini Zen sudah mengepak pakaian nya ke dalam koper untuk berangkat ke Bali bersama dengan Arkas dan Kenya.
Dari arah pintu nampam Ken yang sedang menggendong Sean dengan mats yang berkaca-kaca.
"Apa kau yakin tidak ingin mengajak kami, setidak nya Sean lah bawa" Tutur Ken.
Zen menoleh kemudian mendekati Ken yang menggendong Sean, Zen mengusap air mata putranya.
"Nak mommy tidak berlibur tapi mommy bekerja, mencari uang untuk Sean" Tutur Zen memberi pengertian.
"Mommy janji tidak lama, Sean dan daddy menunggu mommy" Balas Sean menangis.
"Jangan menangis dong jagoan mommy, nanti Sean minta daddy belikan mainan yang banyak, oke?" Tutur Zen menghibur.
Sean tersenyum kemudian Zen menggendong nya sedangkan Ken membawa koper Zen keluar.
Di ruang tamu nampak Tari, Satri yang sedang berbincang dengan Kenya dan Arkas, Zen memberikan Sean kepada Tari.
"Apa semua sudah selesai Zen?" Tanya Tari tersenyum.
"Sudah bu" Balas Zen.
"Have fun ya" Tutur Satria
Zen hanya tersenyum lalu mendekat pada Ken yang membawa koper milik Zen.
"Akan aku pastikan sepulang nya aku dari Bali, aku akan mengakui perasaan ku lagi" Tutur Zen berbisik ke telinga Ken.
Ken hanya tersenyum senang mendekar perkataan Zen.
"Jagalah perusahaan ku bersama dengan Satria" Tutur Zen mengambil koper nya dari tangan Ken.
"Arkas, Kenya ayo berangkat!" Ajak Zen.
1 jam di perjalanan menuju bandara membuat Zen pegal-pegal, Zen di antar oleh Ken menuju bandara. Usai sampai Ken terus memandang kepergian Zen ke Bali.
Pesawat penerbangan ke Bali akan segera lepas landas, Zen bersama dengan rekan sudah ada di dalam pesawat.
Zen memasang earphone agar tak berisik tanpa ada nya koneksi internet, Zen bisa saja naik halipad milik nenek nya namun Zen belum bisa menerima kepergian nenek nya dan jika di pakai pasti Zen akan histeris.
--
Ken pulang setelah pesawat yang di tumpangi Zen lepas landas, Ken mengarah mobil nya menuju kantor cabang nya sebentar usai itu Ken akan mengajak Sean untuk belanja mainan.
Sampai di kantor cabang Joe dan teman-teman nya heboh, kedua teman Joe mendorong nya hingga menabrak Ken.
Ken yang siaga langsung menangkap Joe agar tak terjatuh, Sani dan Arva siap dengan ponsel nya untuk memotret momen langka itu.
__ADS_1
Sampai pada Arka asisten Ken menghampiri nya, Ken langsung menjatuh Joe. Sani dan Arva kaget karena Joe di jatuhkan dengan siaga Sani dan Arva menolong Joe.
"Maaf tuan Ken mengganggu" Tutur Arka.
"Tadi hanya ketidak sengajaan, jika ada perlu mari kita bicarakan di ruangan Pak Kim" Balas Ken dingin.
Ken melenggang pergi meninggalkan Arka dan karyawan heboh nya, Arka menatap mata sinis ketiga karyawan yang mencoba mendekati Ken.
Arka bergegas menyusul Ken yang sudah lebih dulu menaiki lift meninggalkan geng Joe.
"Joe lihat deh, kau sangat serasi dengan Pak bos" Tutur Arva memperlihat kan hasil jepretan nya.
"Lo motret gua sama pak bos?" Balas Joe.
"Iya lah, ini tuh momen langka. Kita harus mengabadikan nya" Tambah Sani yang sama seperti Arva memotret nya.
"Gua masukin medsos ah, pasti temen yang di Indonesia iri sama lo karena dapet pelukan dari bos besar perusahaan Wijaya Corp. Perusahaan ke 4 terbesar se-Asia" Tutur Arva.
Boleh juga nih, kan jika banyak yang melihat mungkin aku akan di akui sebagai kekasih nya pak bos. Gak apa-apa lah duda anak satu yang penting tampan dan banyak duit. Batin Joe licik.
"Gimana kalo gua posting Joe?" Tanya Sani.
"Iya nih gua juga mau posting" Tambah Arva.
"Terserah kalian" Balas Joe tersenyum licik meninggalkan Arva dan Sani.
--
Tak banyak memakan waktu, Zen dan kedua rekan nya sudah sampai di hotel. Kamar Zen tak berjauhan dengan kamar Arkas dan Kenya, Zen merapihkan barang bawaanya lalu melenggang untuk pergi mandi.
Usai selesai Zen keluar kamar dengan dres berwarna putih selutut, nampak Kenya dan Arkas sudan menunggu dengan laptop yang di bawa nya.
"Kita mau bekerja dimana?" Tanya Kenya.
"Di resto dekat pantai mau, sambil menghirup udara segar" Balas Zen memberi usul.
"Saya ikut saja nona" Tambah Arkas.
Sudah selesai memutuskan tempat kerja dimana, Zen dan kedua rekan nya melenggang menuju resto dekat pantai.
Keindah alam yang luar biasa membuat Zen dan kedua rekan nya takjub, pekerjaan pun di mulai. Kenya dan Arkas sibuk dengan laptop nya berbeda dengan Zen yang sibuk dengan ponsel.
--
Ponsel Ken berdering singkat menandakan ada yang mengirim nya pesan, terlihat nama Zenaya dengan emot love hitam di layar ponsel nya.
Ken yang tengah berbincang dengan Pak Kim dan Arka meminta izin untuk menjeda nya sebentar, Ken membuka pesannya yang ternyata kiriman foto dari Zen.
Zen:
__ADS_1
Aku sudah sampai, jagalah Sean dan juga perusahaan ku.
Ken:
Baiklah, jangan lupa perkataan mu.
Zen:
Ya, ya aku tak akan lupa. Selamat bekerja.
Pak Kim dan Arka saling pandang melihat gelagat Ken yang senyum-senyum sendiri.
"Maaf tuan, apa perbincangan ini akan di terus kan?" Tanya Arkas.
"Ya, ya bicaralah aku mendengar ucapan kalian" Balas Ken tanpa menoleh karena sibuk dengan pesan Zen.
Pak Kim dan Arka kembali membahas masalah kantor dengan Ken selaku bos yang hanya mendengar nya saja.
Satu jam berlalu berbincangan pun selesai namun Ken masih senyum-senyum sendiri.
"Tuan kami sudah selesai, apa anda akan terus begitu? Bukan kah tuan akan pergi menemui putra tuan" Tanya Arka.
Ken menoleh pada Arka yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ah iya aku lupa, tunggulah sebentar" Balas Ken.
Ken yang tengah asik chattingan dengan Zen mencoba untuk mengakhitinya.
Ken:
Aku akan mengajak Sean jalan, kau bersenang-senang lah. Jangan sedih.
Zen:
Baik, pergilah dan jaga Sean dengan benar.
Ken mematikan ponselnya lalu memandang Arka yang masih terdiam, Ken beranjak.
"Kenapa melihat ku begitu?" Tanya Ken mendelik.
"Tuan aneh" Balas Arka melenggang pergi.
"Hei asisten bodoh!! Siapa yang kau bilang aneh? Mau aku turun kan gaji mu!!!" Teriak Ken kepada Arka.
Ken dan Arka sudah seperti kakak beradik kelakuan nya tak membedakan bahwa mereka adalah atasan dan bawahan.
--
Vote and like please
__ADS_1
Gomawo