Anak Broken Home Menemukan Cintanya

Anak Broken Home Menemukan Cintanya
Bab 15


__ADS_3

Pagi hari sekali Zen sudah berpakaian rapih dan menenteng kopernya, Zen menyeret kopernya hinggan tepat di meja makan.


Di dapati nya nenek, ibu beserta adik tirinya sedang sarapan.


"Moring grils" Sapa Bu Tari mencium kening Zen yang sudah duduk untuk sarapan.


"Apa kau akan minggat dari rumah nenek?" Tanya Nyonya Lista bingung.


"Nek, aku akan mengahadiri acara pernikahan Vanka di Skotlandia, aku akan berangkat hari ini bersama Ken" Balas Zen menguyah roti tawar nya.


"Bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Nyonya Lista.


"Aku ingin nenek mengurusnya" Balas Zen santai.


"Kanya akan membantu ibu mengurus perusahaan Zen" Timpal Bu Tari.


Kanya yang mendengar ucapan ibu tirinya menjadi sumringah.


"Tidak ibu, aku tidak suka jika orang lain mengurus perusahaan ku!" Balas Zen marah.


"Hentikan semua ini Zen! Kanya adik mu!" Ucap Bu Tari sama-sama marah.


"Dia bukan adik tiriku!" Balas Zen menunjuk Kanya.


"Apa ini yang nenek mu ajarkan, dan apa ini pendidikan yang sangat mahal membuat mu menentang perkataan ibu mu" Timpal Kanya berani.


"Kanya!" Teriak Bu Tari.


"Jangan kau hina cara nenek ku mendidik ku! Kau dan keluarga mu hanya benalu yang merusak keluarga kecilku!" Balas Zen marah.


Zen berlalu menyeret koper nya memasuki mobil dan melajukan mobil nya menuju apartemen Ken.


"Kau tau Tari apa kesalahan mu?" Tanya Nyonya Lista sama marahnya.


"A-aku tau bu" Balas Bu Tari gugup.


"Bagus bereskan semua ini, ibu akan pergi ke kantor Zen mengurus disana" Ucap Nyonya Lista berlalu.


Setelah kepergian Zen dan Nyonya Lista, Bu Tari memandang wajah anak tirinya yang ketakutan.


"Pulang lah Kanya, ibu akan disini mengambil kepercayaan anak kandung ibu lagi. Ibu akan mengantarkan mu ke bandara siang nanti" Ucap Bu Tari berlalu.


"Tapi bu" Balas Kanya berteriak.

__ADS_1


~


Zen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan Zen terus menitikan air matanya. Baru kali ini Zen di cibir oleh adik tirinya.


Tak terasa akhirnya Zen sampai di apartemen Ken, Zen memarkirkan mobil nya kemudian turun menuju loby apartemen.


Zen melangkah kan kaki nya menuju lift, Zen menekan tombol tempat kamar Ken terletak. Pinti lift terbuka Zen keluar menghampiri kamar Ken.


Di depan kamar Ken, Zen menekan bell apartemen Ken tak lama Ken membuka pintu nya. Terlihat Ken sudah rapih dengan stelan kemeja dan celana berwarna hitam.


"Nona, silahkan masuk" Ajak Ken, karena Ken tau mata Zen yang sembab menandakan Zen usai menangis.


Zen memasuki apartemen Ken, Zen duduk di sofa tepat di hadapan televisi yang besar dan tipis. Sedangkan Ken, ia bergulat di dapur dan membawakan secangkir coffe latte kesukaan Zen.


Ken duduk di sofa terpisah dari Zen dan menyimpan secangkir coffe.


"Silahkan diminum nona" Ucap Ken.


"Maafkan aku Ken, aku selalu membuat mu susah" Balas Zen menangis.


"Nona tak apa, ini sudah kewajiban ku sebagai bawahan" Ucap Ken.


"Terimakasih Ken" Balas Zen tersenyum.


Zen menerima gelas yang Ken sodorkan, dengan perlahan Zen meminum kopi yang Ken buatkan.


"Ken apa aku boleh memberi usul pada kopi buatan mu" Ucap Zen.


"Tentu saja nona silahkan dengan senang hati" Balas Ken tersenyum.


"Apa kau tidak bisa membedakan gula dengan garam? Atau ini kopi rasa baru?" Tanya Zen.


Ken yang mendengar pertanyaan Zen terasa aneh.


Apa aku salah memasukan gula?. Batin Ken.


Dengan penasaran Ken mengambil gelas kopi yang Zen pegang dan langsung menyeruput nya.


Seketika Ken kembali memuntahkan kopi yang di buat nya.


"Kenapa di minum nona? Ini kan asin" Tanya Ken berasa bersalah.


"Aku kira ada varian rasa baru" Balas Zen polos.

__ADS_1


Lepas dari masalah kopi, kini jam di tangan Zen menunjukan pukul 8 pagi di wilayah negara Inggris, dengan buru-buru Zen mengajak Ken untuk segera pergi. Sebelumnya Ken sudah memesan tiket menuju Skotlandia dan memboking salah satu hotel di Skotlandia


Zen dan Ken turun dari lift dan langsung melangkah kaki nya menuju parkiran.


"Ken siapa yang akan mengantarkan mobil kembali kerumah ku?" Tanya Zen bingung.


"Tenang saja nona, sudah Pak Roy yang menunggu di bandara" Balas Ken.


"Baiklah pakai mobil ku saja" Ucap Zen memasuki mobilnya.


Dengan cekatan Ken mengemudikan mobil Zen yang berwarna kuning cerah itu, Ken melajukan mobil nya membelah jalanan yang padat.


30 menit berlalu, Zen dan Ken tiba di bandara. Terlihat Pak Roy sudah menunggu, dengan cekatan Pak Roy menurunkan koper milik Zen dan Ken.


"Ambil ini, berikan kunci ini pada nenek" Ucap Zen menyodorkan kunci mobil nya.


"Baik nona muda" Balas Pak Roy berlalu.


Zen dan Ken memasuki area bandara, dan sebentar lagi pesawat tujuan Amsterdam akan berangkat dengan cekatan Zen dan Ken sedikit berlari.


Tiba di dalam pesawat, Zen dan Ken duduk di bangku yang sama. Zen memilih duduk di dekat jendela.


Sang pramugari datang untuk mengajari cara memakai safety bel dan pelampung, namun bagi Zen dan Ken ini hal biasa karena Zen dan Ken sering menaiki pesawat.


Setelah pramugari pergi, Zen mengaktifkan ponsel nya tanpa menyalakan sambungan internet nya, karena jika di sambungkan akan sangat fatal akibat nya.


"Nona jangan menyambungkan sambungan internet" Ucap Ken memberitahu.


"Apa kau bodoh Ken? Aku sering menaiki pesawat dan aku tau betul laranganya" Balas Zen.


"Lalu nona?" Tanya Ken bingung.


"Aku hanya ingin berfoto dengan mu" Balas Zen spontan.


Ahh apa ini mimpi? Pukul aku. Seperti mimpi nona Zen mengajak ku berfoto. Batin Ken senang.


Dengan gaya masing-masing mereka berfoto bersama, hingga kantuk Zen tiba, Zen menyandarkan kepala nya di bahu Ken. Ken yang bahu nya di pakai sebagai bantal oleh Zen merasa senang, Ken memandang lekat wajah Zen yang putih, bersih dan juga memancarkan aura sang pemilik nya.


Ken menyibakan rambut kecil Zen dan menyelipkap kan nya pada teling.


"Sungguh indah ciptaan mu tuhan" Gumam Ken pelan.


Andai saja aku bisa mendapatkan cinta nona Zen, mungkin aku sudah memjadi lelaki yang sangat beruntung untuk bisa menjaga. Batin Ken.

__ADS_1


Karena rasa kantuk Ken juga tiba, Ken memilih untuk tidur bersandar pada bangku yang ia duduki. Perlahan Ken menutup mata nya membuyar kan lamunan bahwa ia ingin mendapatkan cintanya Zen, namun itu hanya mimpi saja belum tentu Zen menyukai nya karena Zen selama ini hanya menganggap sebagai kakak nya saja.


__ADS_2