
Nyonya Lista senang dengan hari ini, karena hari ini ia bisa berlibur sejenak dalam urusan bisnis nya. Nyonya Lista menegak jus jeruk dengan bersantai di pinggir kolam renangnya.
"Bukannya dari waktu itu Zen kau belajar untuk mengingat masa lalu mu lagi" Gumam Nyonya Lista senang.
--
Zen berjalan keluar kantor dengan Ken yang ada di belakang nya, tiba di tempat parkiran Ken membuka kan pintu mobil belakang untuk Zen mulai memasukinya.
Sebenarnya Zen sudah mulai ingat waktu dulu ia selalu duduk di depan, di samping Ken yang sedang mengemudi namun Zen pura-pura lupa saja.
Setelah siap Ken melajukan mobil milik Zen yang berwarna merah muda itu. Satu jam perjalanan akhirnya Ken dan Zen tiba di tempat tujuan namun sayang Ken dan Zen harus jalan jauh sebelum benar-benar tiba di tempat yang Zen inginkan.
"Maaf nona kita harus berjalan untuk sampai di taman yang nona maksu" Tutur Ken.
"Sudah tahu" Balas Zen nyelonong pergi.
"Apa? Nona sudah tahu, apakah ingatan nona telah kembali? Ah tak mungkin barusan saja nona duduk di belakang mobil bukan di samping ku. Ngarep kau ini Ken" Batin Ken sedih.
Zen yang melihat Ken melamun langsung saja memanggilnya.
"Cepat Ken jangan banyak melamun" Teriak Zen.
Dengan cepat Ken berlari menyusul Zen, sudah setengah perjalanan dan akhirnya nya Ken dan Zen tiba di tempat yang Zen mau.
"Akhirnya sampai juga" Tutur Zen.
Zen berjalan menuju bangku kosong dan langsung mendudukinya.
"Apa ada yang mau nona sampai kan pada saya?" Tanya Ken.
"Ah.. Apa kau ingat Ken dahulu aku pernah kesini?" Balas Zen bertanya balik.
"Ya nona saya sangat mengingat nya" Balas Zen masih penasaran dengan apa yang akan Zen sampaikan.
"Aku boleh bertanya?" Tutur Zen memandang wajah Ken.
"Tentu saja nona, silahkan tanyakan apa yang akan anda tanyakan, saya akan mencoba menjawabnya" Balas Ken.
"Waktu aku kembali dari Belanda apa kau tahu Ken?" Tanya Zen.
"Ya nona saya tahu" Balas Ken.
"Setelah pulang dari Belanda, aku pergi ke apartemen mu" Tutur Zen berdiri dari duduk nya dan mulai berhadapan dengan Ken.
"Apartemen saya?" Balas Ken bingung.
__ADS_1
"Ya saat di Belanda aku sangat rindu padamu walaupun aku tahu kita hanya sebatas atasan dan bawahan Ken" Tutur Zen.
"Maksud nona bagaimana? Mengapa nona rindu saya?" Balas Ken bertanya.
"Mungkin beberapa bulan lalu sebelum ingatan ku hilang aku sangat mencintaimu, saat aku pulang dari Belanda aku ingin menghampiri mu untuk melepas rindu namun sayang Ken kau sedang bersama dengan seorang wanita yang tak ku kenal menuju apartemen mu" Tutur Zen dengan mata yang sudah mengeluar kan air mata.
Ken berpikir sejenak untuk mengingat beberapa bulan lalu saat Zen pulng kembali ke London dan ingatan Zen berpusat pada wanita yang dulu memintanya untuk memotret.
"Maaf nona sungguh aku tak tahu wanita itu siapa aku hanya membantunya" Balas Ken menundukan kepalanya.
"Sakit hati itu yang membuat aku kecelakaan Ken, sekarang aku ingat siapa aku dan siapa kau sebenarnya" Tutur Zen menangis.
"Maaf nona karena kesalah pahaman nona kecelakaan" Balas Ken.
"Hanya maaf? Apa kau tak ingin membalas persaan ku Ken? Aku mencintaimu!" Teriak Zen dengan isak tangis sambil memukul Ken.
Ken diam menunduk tanpa berkata sepatah katapun.
"Kau tak menjawab ku Ken? Kenapa? Karena aku atasan mu? Kau takut aku pecat? Kau pria pengecut Ken!" Teriak Zen pergi.
"Ini kesempatan bagi mu Ken, buktikan bahwa kau lebih dulu mencintainya" Batin Ken.
Ken menarik tangan Zen yang hendak akan pergi.
"Apa?!" Tanya Zen masih dengan tangisannya.
"Maaf saya, maaf kan saya nona" Tutur Ken masih dengan pelukannya.
Zen berontak saat Ken peluk, Zen mencoba memukul Ken namun pelukan hangat Ken meluluhkan emosi Zen.
"Kau jahat Ken" Balas Zen dengan tangisnya.
Dilihatnya Zen sudah tenang, Ken mulai melepaskan pelukannya, Ken menghapus air mata Zen dengan tangannya.
"Maaf saya nona, bukan maksud saya tak ingin membalas cinta nona. Saya tahu diri saya yang menyebabkan nona celaka dan saya pikir saya bukan pria yang pantas untuk nona cintai" Tutur Ken tersenyum.
"Lupakan masa lalu, aku sudah tak apa-apa sekarang" Balas Zen.
"Jika jujur saya memang telah lebih dahulu mencintai nona namun nona tak pernah membalas nya" Tutur Ken.
"Iyakah Ken" Balas Zen tak percaya.
"Iya nona, namun sekarang bagi saya usaha saya sekarang sia-sia karena saya penyeban kecelakaan nona" Tuan Ken dengan wajah kecewa.
"Berhenti menyalahkan dirimu, mari kita lalui masa sekarang dengan bersama" Balas Zen tersenyum.
__ADS_1
Zen menatap wajah Ken dengan tatapan yang sangat dalam dan tak tahu ada keberanian dari mana, Zen mencium bibir Ken membuat Ken yang tak sadar ada serangan mendadak merasa terkejut.
Perlahan Ken larut dalam ciuman yang di berikan Zen begitupun Zen, ciuman itu berlangsung lama dan saat ponsel Ken berdering membuat ciuman itu terhenti.
Ken mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan tertera nama salah satu klien nya, setelah diangkat hanya ada masalah kecil saja.
"Maaf nona" Tutur Ken merasa canggung.
"Tak apa Ken, jangan panggil aku nona panggil saja aku Zen dan jangan merasa canggung denganku, karena aku ingin hidup bersama mu" Balas Zen tersenyum.
Ken merasa dirinya telah berhasil karena sudah bertahun-tahun mencintai dalam diam dan kini Zen telah menerima nya untuk saling mencintai.
"Terimakasih mau menerima saya nona, walaupun saya hanya bawahan nona saja" Tutur Ken sambil memegang tangan Zen.
Zen mencubit perut Ken dengan pelang membuat Ken meringis kesakitan.
"Aww.. nona" Ringis Ken.
"Jangan panggil aku nona, panggil aku Zen" Balas Zen menekan kata namanya.
Kriuk.. kriuk..
Suara perut Zen berbunyi menandakan Zen kelaparan.
"Kau lapar ya?" Ejek Ken.
"Ya aku lapar, ayo cari tempat makan" Balas Zen dengan ketus.
"Zen.. jangan marah, aku hanya memastikan saja" Rayu Ken.
"Baiklah jika kau tak mau aku marah gendong aku" Tutur Zen tersenyum.
Dengan senang hati Ken menggendong pujaan hatinya itu untuk mencari tempat makan dan kemudian pulang karena waktu sudah menandakan petang.
Setengah perjalanan Ken terus bertahan untuk menggendong Zen.
"Kau kelihatan capek" Tutur Zen.
"Mana ada" Balas Ken.
"Turunkan aku Ken" Perintah Zen.
Ken perlahan menurun Zen, nafas Ken masih ngos-ngosan karena kecapean.
"Kita jalan saja, aku tak mau kau kecapean" Ajak Zen menggandeng tangan Ken.
__ADS_1
Ken yang merasa bahagia karena Zen sungguh mengerti akan posisin Ken, maupun keadaan Ken saat ini.