
Malam hari Bu Tari telah tiba di Inggris dengan menenteng koper di tangannya, Bu Tari memberhentikan taxi untuk mengantar nya menuju rumah ibu nya.
Usai mendapat taxi Bu Tari masuk kedalan taxi, dalam perjalanan Bu Tari masih berperang dengan rasa malu nya namun rasa rindu yang mendera pada anak nya mengalahkan semua nya.
--
Ken tengah bahagia karena Zen kini menjadi istrinya begitupun dengan Zen. Zen yang sedang bersandar pada dada bidang Ken merasa nyaman dan ingin selamanya begini.
"Sa-sayang, aku ada hadiah pernikahan untuk mu" Tutur Ken terbata.
Zen menengadah kan wajah nya melirik pada Ken.
"Apa?" Balas Zen.
"Besok aku akan membawa mu kesana" Tutur Ken tersenyum.
"Ken apa aku boleh memanggil mu dengan sebutan " mas"?" Tanya Zen.
"Kenapa tak boleh? Aku kan suami mu sekarang, tentu saja boleh sayang" Balas Ken sudah tak terbata.
Zen senang beberapa jam berlalu Ken sudah mulai hangat dengannya bahkan tak formal lagi. Saat sedang asik berdua, pintu kamar hotel berbunyi dengan cepat Ken membuka nya. Nampak pelayan hotel dengan makanan yang di pesan Ken untuk Zen, setelah menerima makanannya Ken meletakan di meja depan sofa.
Zen dengan cepat menghampiri Ken yang tengah menata makanannya, setelah siap Zen dan Ken memakannya dengan acara suap-suapan nya karena Ken sekarang mulai sedikit manja.
Setelah perut terisi dengan kenyang, Zen membereskan sisa makanan dan Ken lebih dulu ke ranjang. Ken menanti Zen untuk menyusul nya dan tibalah Zen menaiki ranjang. Ken menunggu momen malam pertamanya namun di lihat nya Zen yang kelelahan dengan mata sayup nya membuat Ken enggan untuk melakukan malam pertama.
Dengan keberanian Ken tidur menyamping menghadap Zen, Zen senang dengan suaminya yang memperlakukan nya dengan baik. Ken mengelus rambut Zen dengan lembut.
"Hari ini kita tak melakukan malam pertama dulu ya" Tutur Ken.
"Kenapa mas?" Balas Zen kecewa.
"Mas melihat mu kecapean sayang, jadi kita tunda ya" Tutur Ken sedikit kecewa.
Zen mengerti akan Ken yang mengkhwatir kan nya dan Zen mencoba untuk mengikuti ucapan suami nya.
"Baiklah, peluk aku saja" Tutur Zen.
Sudah tak malu-malu lagi kini Ken dengan senang memeluk Zen, sangat nyaman karena sekarang Ken maupun Zen tak tidur sendiri lagi.
--
Bu Tari tiba di rumah ibunya, Bu Tari turun dari taksi tak lupa untuk membayar nya. Nampak satpam yang membukakan pagar untuk.
__ADS_1
"Ibu ada?" Tanya Bu Tari.
"Nyonya belum kembali Nyonya muda, beliau masih di hotel tempat di gelar nya acar pernikahan nona muda. Apa nyonya muda tak kesana?" Balas Satpam.
"Aku baru kembali dari Indonesia jadi tak ke buru" Tutur Bu Tari.
"Bagitu nyonya muda" Balas satpam.
Bu Tari memasuki area rumah ibunya, Bu Tari di sambut oleh pelayan yang sudah lama bekerja dengan Nyonya Lista.
"Nyonya muda baru datang?" Tanya si pelayan.
"Iya, beritahu saya jika ibu sudah kembali" Balas Bu Tari melenggang menuju kamar nya.
Pelayan kembali bekerja seperti biasanya.
--
Pagi hari bagi si pengantin baru, Zen dan Ken masih terlelap dalam tidurnya dengan saling memeluk. Ponsel Zen di simpan di nakas berdering tiba-tiba membangun Zen yang tengah terlelap dalam pelukan hangat suami nya. Dengan malas Zen mengambil ponsel nya, tertera nama Vanka di layar ponsel nya dengan cepat Zen menganhkat telpon dari sahabatnya itu.
*Pagi pengantin baru, gimana nih malam pertama nya?. Sapa Vanka.
*Ada apa sih menelpon pagi-pagi gini?. Balas Zen dengan suara khas bangun tidur.
*Gak jelas dah ah aku mau mandi bye. Tutup Zen.
Zen yang sudah tanggung bangun dari tidur nya bergegas untuk mandi, sedangkan Ken masih nyenyak dengan tidurnya. Satu jam selesai mandi, pintu kamar Zen di ketuk sedangkan Zen masih memakai kimono nya dengan terpaksa Zen membangun kan Ken.
"Mas bangun" Tutur Zen.
Ken terbangun dengan nampak Zen memakai kimono yang semalam membuat nafsu nya meninggi.
"Ada apa sayang, apa pagi-pagi kita akan melakukan nya?" Balas Ken ngaur.
"Kamu ini mas, tolong buka pintu ada yang mengetuk nya. Aku tanggung belum pakai baju" Tutur Zen pergin menuju ruang ganti baju.
Dengan malas Ken beranjak dari tidur nya kemudian membuka pintu kamar yang nampak Nyonya Lista di hadapannya.
"Nyonya, silahkan masuk Nyonya" Tutur Ken mempersilahkan masuk.
Nyonya Lista masuk dengan tawa kecil melihat tingkah laku suami cucuk nya. Nyonya Lista duduk di sofa yang semalam Zen dan Ken gunakan sebagai meja makan.
"Maaf Nyonya saya permisi untuk ke kamar mandi, sebentar lagi Zen keluar" Tutur Ken masuk kamar mandi karena malu bahwa Ken belum mencuci muka atau pun gosok gigi.
__ADS_1
Tak lama dari Ken memasuki kamar mandi, keluarlah Zen dari ruang ganti dan melihat nenek nya yang sedang duduk di sofa.
"Nek, ada apa kesini?" Tanya Zen ikut duduk di sebelah Nyonya Lista.
"Zen, nenek akan pulang bersama dengan ayah dan ibu tirimu. Nenek ingin berpamitan, nenek takut kau mencari nenek nanti" Balad Nyonya Lista.
"Oh begitu baiklah, sampaikan ucapan terimakasih ku pada ayah dan ibu nek" Tutur Zen.
"Baik Zen, Zen jika boleh kau urus dulu kantor mu sampai nenek menemukan orang yang tepat untuk mengelola perusahaan mu" Balas Nyonya Lista.
"Baiklah nek aku akan pasti kan mengurus perusahaan ku dulu, dan terimakasih kasih nek sudah mengurusku hingga saat ini" Tutur Zen memeluk neneknya.
Nyonya Lista ingin menangis namun Nyonya Lista menahan tangisannya agar tak membuat Zen sedih, usai niat nya tersampaikan Nyonya Lista keluar dari kamar Zen dengan Jessie yang sudah menunggu di luar kamar Zen.
"Jess kok kamu nganter nenek" Tutur Zen.
"Tak apa kak, aku takut nenek kenapa-kenapa jika jalan sendirian" Balas Jessie tersenyum pada Nyonya Lista.
"Baiklah Jessie terimakasih kasih" Tutur Zen.
Nyonya Lista yang diantar Jessie pergi meninggalkan kamar Zen, Zen kembali kedalam kamar. Zen meriasa wajah nya dengan make up yang tak terlalu tebal usai selesai make up Zen menunggu Ken keluar dari kamar mandi.
Ken keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan pada pinggang nya maka nampak lah perut Ken yang seperti roti sobek berotot dan kekar membuat Zen yang melihat nya panas dingin.
"Nyonya kemana sayang?" Tanya Ken.
"Panggil nenek, karena kamu itu suami ku dan cucuk nya jadi panggil nenek mas" Balas Zen mengingatkan.
"Iya sayang iya" Tutur Ken melangkah menuju ruang ganti.
Usai selesai berganti pakaian nampak Ken keluar dengan celana hitam di padukan dengan kemeja putihnya nampak serasi saat di pakai oleh tubuh kekar Ken.
"Sayang, kamu udah sarapan?" Tanya Ken.
"Belum, aku ingin sarapan di luar makanan di hotel ini tak enak" Balas Zen.
"Baiklah, setelah sarapan kita pergi menuju hadiah pernikahan untuk mu" Tutur Ken.
"Apa yang mas hadiah kan pada ku sehingga harus kita yang menjumpai nya mas" Balas Zen.
"Nanti kamu akan tahu sayang" Tutur Ken.
Ken dan Zen membereskan pakaian nya karena hari ini mereka akan chek out dari hotel, semua tamu pun sudah banyak yang pulang sesudah acara resepsi pernikahan mereka
__ADS_1