
Hari ini Zen dan Ken akan berjanji untuk satu harian penuh bermain bersama, Zen terbangun dari tidur nya karena gorden kamar nya di buka oleh ibu nya.
Zen mengerjapkan mata akibat terkena silau matahari pagi, Zen bangun kemudian duduk di ranjang nya memandang Tari.
"Ibu sekarang doyan yah buka gorden kamar aku" Tutur Zen.
Tari menoleh lalu menyelesaikan membuka gorden nya.
"Apa kau tak mau mandi?Ken dan Sean sudah bersiap untuk bermain" Balas Tari selesai membuka gorden kamar Zen.
Zen yang sedang mengucek mata nya langsung kaget karena Ken sudah tiba sedang kan diri nya masih sibuk dengan kantuk nya.
"Apa Ken sudah tiba?" Balas Zen kaget.
Dasar pria itu suka datang lebih awal. Batin Zen.
"Apa kau tak mau buru-buru mandi?" Tanya Tari mendekat pada Zen.
"Tenang saja bu ini kan baru pukul 7 pagi" Balas Zen merebahkan kembali tubuh nya.
Tari menggeleng kan kepala nya, Tari menggambil jam yang ada di nakas Zen kemudian menodongkan nya ke arah pandangan Zen.
"Lihat!" Tutur Tari.
Zen yang menutup mata untuk tidur kembali seketika membuka mata nya lagi, Zen kaget di hadapan nya sudah ada jam yang Tari pegang. Zen bukan lalu mengambil jam nya dari tangan Tari.
"Ibu ini mengganggu saja, memang nya ini jam berapa jika bukan jam 7 pagi" Gerutu Zen melihat jam.
Zen panik karena jarum jam menunjukan pukul 10.25, Zen bergegas ke kamar mandi dengan buru-buru.
"Anak itu, selalu saja begitu" Tutur Tari tertawa pelan.
Ken sudah bermain dengan Sean di ruang keluarga bersama dengan Nyonya Lista yang menontonnya di atas sofa dari kejauhan.
Tari menghampiri Nyonya Lista.
"Apa Zen sudah bangun?" Tanya Nyonya Lista.
"Ya dia sudah bangun bu" Balas Tari tersenyum.
"Zenaya Callista, anak mu selalu saja seperti itu" Tutur Nyonya Lista tertawa.
Di dalam hati Tari anak satu-satu nya Nyonya Lista, Tari merasa sedih karena usia Nyonya Lista sudah berkepala 7.
__ADS_1
Ah ibu aku sudah banyak berdosa pada mu, aku harap tuhan memberi mu umur panjang untuk kita selalu bersama lebih lama dan lama lagi. Batin Tari menangis.
"Ibu, apa ibu sudah makan dan minum obat?" Tanya Tari khawatir.
"Tenang lah Tari, ibu mu ini masih sehat dan kuat" Balas Nyonya Lista.
"Ibu pergi sarapan dulu, Tari mau ke kamar ibu untuk mengambil obat" Tutur Tari meninggalkan Nyonya Lista.
Nyonya Lista masih terdiam di tempat nya, tiba-tiba bagian jantung Nyonya Lista sakit. Nyonya Lista menahan sakit nya agar tak mengacau keinginan Sean.
Kenapa ini? kenapa ini sangat sakit? Apa aku akam mati sekarang? Jika iya, tak apa tuhan aku sudah siap. Batin Nyonya Lista kesakitan.
Nyonya Lista tertatih berjalan sampai Nyonya Lista tak kuat dan tubuh nya terhempas jatuh ke lantai, Ken yang memang sedang memperhatikan Nyonya Lista langsung menghampiri nya yang di ikuti oleh Sean.
"Nyonya, Nyonya bangun!! Ibu!! Zen!!!!" Teriak Ken keras.
Tari dan Zen yang kebetulan sudah selesai mandi menghampiri Ken yang berteriak, alangkah terkejut nya Tari dan Zen begitu pun dengan semua pelayan.
Zen langsung menghampiri Nyonya Lista begitu pun Tari, Sean yang menangis di tenang kan oleh suster nya.
"Nek bangun!! Nenek kenapa? Hiks.. hiks.." Tutur Zen menangis.
"Kenapa ibu Ken?" Tanya Tari sama menangis nya dengan Zen.
Ken dan Zen beserta Tari membawa Nyonya Lista ke rumah sakit sedang kan Sean untuk tidak ikut ke rumah sakit karena manis kecil, Sean di asuh oleh suster nya dan juga pelayan.
Tiba di rumah sakit Nyonya Lista langsung di bawa ke UGD, Zen dan Tari beserta Ken menunggu di bangku depan UGD.
Ada apa ini ya tuhan, baru saja aku meminta do' agar ibu berumur panjang. Batin Tari menangis.
Zen sangat amat terpukul dengan keadaan Nyonya Lista yang sekaranga, pasal nya Zen sangat menyayangi Nyonya Lista di banding ibu nya.
Tari mendekat pada Zen yang menangis dalam diam nya memandang arah UGD.
"Apa nenek baik-baik saja?"
"Apa ibu tak memberi obat nenek?"
"Apa nenek akan bangun seperti sedia kala?"
Pertanyaan Zen yang membuat Tari ketakutan, Tari duduk di samping Zen.
"Hanya tuhan yang akan menjawab" Balas Tari menangis.
__ADS_1
"Apa tuhan lupa memberi obat nenek?" Tanya Zen tanpa menoleh ibu nya.
Pintu ruangan terbuka nampak dokter keluar dari ruangan UGD, Zen, Tari dan Ken langsung menghampiri nya.
"Why is my grandma?" Tanya Zen dengan antusias.
"You can speaking Indonesia?" Tanya si dokter.
"Ya kami bisa, cepat kata kan apa yang terjadi dengan ibu saya!!" Teriak Tarii.
Dokter pun berdiam sejenak lalu mengumpulkan udara dan membuang nya kasar.
"Saya sebagai dokter memohon maaf, Nyonya Lista mengalami serangan jantung yang amat fatal, beliau juga jarang mengomsumsi obat" Balas si dokter.
"Jangan banyak bicara lagi!! Kata kan pada intinyaa dokter bodoh!!!" Teriak Zen sudang kehilangan akal sehat nya.
"Saya tak bisa menyelamat kan nyawa Nyonya Lista, jantung nya sudah sangat mengkhwatirkan karena jarang sekali berobat ke rumah sakit" Balas si dokter.
"Berita palsu macam apa ini?! Minggir!!" Tutur Zen menerobos masuk ruang UGD.
Nampak Nyonya Lista terbaring dengan kain yang sudah menutupi nya sampai batas kepala, Zen memeluk Nyonya Lista dengan tangisan yang sangat haru.
Tari dan Ken menyusul masuk melihat Zen menangis sangat sedih, Tari mendekat kemudian sama menangis nya seperti Zen.
Apa ini mimpi? Aku tak percaya Nyonya pergi, Nyonya pasti bergurau. Batin Ken tegar.
Mencoba tegar namun sayang air mata Ken jatuh juga, Ken menangis karena tak terima jika Nyonya Lista yang banyak membantu nya pulang dengan cepat.
--
Pemakaman Nyonya Lista pun berlangsung, banyak kolega bisnis dari berbagai negri datang untuk mendoakan Nyonya Lista.
Berbeda dengan Tari yang masih tegar dan dapat menyapa tamu, Zen yang mengurung dirinya di kamar sendiri terus menerus menangis.
Nenek jahat, nenek tak mau melihat aku sukses!! Nenek tak mau melihat Sean tampan-ku tumbuh dewasa?!!! Nenek kenapa seperti ini, kembali lah nek kembali. Batin Zen menangis yang belum menerima kenyataan jika nenek nya telah pulang untuk selama-lamanya.
Ken yang khawatir dengan Zen terus menunggu nya di depan kamar Zen dengan Sean yang selalu menemani nya di mana pun.
Ken khawatir jika Zen akan nekat dan melakukan hal yang ta di ingin kan.
---
Ayo dong vote dan like nya cuss...
__ADS_1