
Hari berganti hari, bulan berganti bulan namun sayang ingatan Zen belum kembali seperti semua. Nyonya Lista terkadang sangat bingung bagaimana membuat Zen ingat masa lalu nya.
Pagi hari yang tak begitu baik untuk Nyonya Lista, Nyonya Lista yang sedang makan di buat pusing oleh Zen, pasal nya saat amnesia Zen tak pernah menginjakan kaki nya lagi di perusahaan.
"Zen, kapan kamu kembali ke perusahaan? Apa kamu tak melihat? nenek mu ini sudah tua! sudah seharusnya nenek istirahat dari dunia bisnis" Tutur Nyonya Lista.
"Nek, Zen gak tahu dunia pembisnisan" Balas Zen santai.
"Dulu kan kamu bos di perusahaan milik mu sendiri" Tutur Nyonya Lista dengan nada yang sedikit meninggi.
"Nek! Itu aku dulu tapi sekarang aku amnesia, aku lupa semua nya nek! soal kerja, soal pembisnisan sungguh aku lupa nek! Lagian kan ada Ken" Balas Zen kesal.
"Cukup Zen! Belajarlah untuk mengingat, karena ingatan tidak akan kembali jika kamu tidak menginginkannya!!" Tutur Nyonya Lista marah meninggalkan Zen di meja makan.
Usai Nyonya Lista pergi, Zen merenung mencoba mencerna ucapan nenek nya. Kalau di pikir Zen memang tidak ingin mengembalikan ingatan yang buruk nya namun Zen kasian pada nenek nya.
Apa aku harus belajar mengingat masa laluku? Bagaimana jika menyakitkan? Tapi jika aku tak belajar mengingat nya nenek akan kesusahan di masa tua nya. Aku harus minta bantuan pada Ken. Batin Zen.
~
Nyonya Lista yang sedang marah meninggalkan Zen sendirian di meja makan, Nyonya Lista hendak keluar menuju kantor. Saat keluar dari rumah, Ken sudah menunggu nya untuk mengantar Nyonya Lista menuju kantor.
"Pagi Nyonya" Sapa Ken sembari membuka pintu mobil belakang.
"Pagi Ken" Balas Nyonya Lista memasuki mobil.
Usai Nyonya Lista masuk, Ken menyusul masuk dudul di depa kemudi mobil. Ken langsung melajukan mobil yang di tumpangi nya menuju kantor, di perjalanan kota sangat ramai sehingga menimbulkan kemacetan.
"Ken, pagi ini saya merasa sedih" Tutur Nyonya Lista.
"Maaf Nyonya, kenapa Nyonya sedih?" Balas Ken penasaran.
"Selama saya merawat Zen, saat Zen di telantarkan orang tua nya bahkan saat Zen masih menjadi balita saya tidak pernah memarahi nya atau pun membentak. Saat Zen ingin sesuatu saya selalu menuruti nya Ken, tapi kenapa di saat saya ingin Zen mengingat semua nya Zen malah marah membentak? Apakah saya salah Ken?" Tutur Nyonya Lista menangis.
"Mungkin Nona Zen ada alasan lain mengapa ia tidak ingin belajar untuk mengingat masa lalu nya" Balas Ken menenangkan.
"Apa alasan nya Ken?" Tutur Nyonya Lista bertanya.
"Mungkin Nona Zen takut mengingat perceraian keluarga nya, atau Nona Zen takut untuk mengingat kenangan bersama Avin" Balas Ken tersenyum.
Mendengarkan jawaban Ken, seketika Nyonya Lista terdiam.
Apakah Zen takut itu? Jika memang begitu aku tidak akan memaksa Zen, biarlah ingatan itu muncul dengan sendiri nya. Batin Nyonya Lista.
__ADS_1
Setelah tak ada pertanyaan lagi dari Nyonya Lista, Ken terdiam dan memfokuskan pandangan nya menuju jalanan.
Beberapa jam di perjalanan karena macet akhirnya Nyonya Lista dan Ken sampai di kantor. Ken membuka kembali pintu mobil untuk Nyonya Lista, usai Nyonya Lista keluar dan memasuki area kantor, Ken mengekor di belakang Nyonya Lista.
Ken menekan tombol lift untuk Nyonya Lista, saat pintu terbuka masuklah Nyonya Lista dan Ken.
Tingg..
Pintu lift terbuka Nyonya Lista dan Ken berjalan menyusuri koridor menuju ruangan nya.
"Selamat bekerja Ken" Tutur Nyonya Lista.
"Baik Nyonya" Balas Ken.
Ken memasuki ruangan nya, Ken menduduki kursi dan memulai membuka laptop untuk melihat perkembangan kantor.
-
Zen sedang bercermin di depan kaca kamar nya dengan pakaian feminim nya, rok span warna hitam di padukan dengan kemeja putih dan blezer hitam, dengan sepatu heels 5cm yang berwarna hitam, Zen tampak cantik.
"Baiklah Zen, mulai hari ini kamu harus belajar mengingat semua nya" Tutur Zen sendiri.
Usai merapikan dan mencocokan gaya nya Zen kemudian pergi menuju kantor nya dengan mobil pemberian nenek berwarna merah muda.
Karena jalanan tak begitu padat pada jam segini alhasil Zen tiba lebih cepat, Zen memasuki area kantor untuk memarkir kan mobilnya, beres memarkirkan mobil nya Zen berjalan melangkah menuny lobi kantor.
"Mrs. Zenaya?" Sapa salah satu karyawan.
"Yes, I am Zenaya" Balas Zen ramah.
"Wellcome back the your office" Tutur karyawan lain.
"Thank's you, thank's you so much" Balas Zen senang.
Usai asik dengan karyawan lobi, Zen mencoba memasuki lift untuk menuju ruangan nya. Zen sungguh tak ingat di lantai berapa ia bekerja, Zen mencoba menekan lantai atas karena menurut nenek nya Zen adalah bos nya.
Pintu lift terbuka, Zen melangkah menyusuri koridor lantai atas ada banyak pintu di koridor membuat Zen pusing yang mana ruangan nya.
Zen melihat pintu yang merasa itu adalah ruangan nya, saat Zen hendak membuka pintu ternyata pintu yang Zen tuju terbuka terlebih dahulu, alhsil Zen menatap mata sang asisten yaitu Ken dan Ken sebaliknya terkejut melihat Zen berdiri di hadapa nya.
Jadi ini ruangan nya Ken, tatapan Ken membuat aku ingat sesuatu. Batin Zen.
Mengapa nona ada di sini? Jangan menatap ku nona:( sungguh aku jatuh cinta, pulih lah nona. Batin Ken.
__ADS_1
Adegab tatapan itu berlangsung sangat lama sehingga Nyonya Lista menyaksikan apa yang ada di hadapan nya.
"Eheem.. " Nyonya Lista berdehem pelan.
Zen dan Ken sadar akan suara itu, Zen dan Ken membuang tatapan masing-masing ke sembarang arah.
"Ah nenek.. " Tutur Zen gugup.
"Nyonya.. " Timpal Ken tersenyum.
"Ah apa?" Balas Nyonya Lista mengejek.
"Ah tidak apa-apa nek" Tutur Zen tersenyum.
"Ada apa kesini Zen, bahkan kamu menggunakan pakaian formal?" Tutur Nyonya Lista bertanya.
"Ah begini nek setelah aku pikir-pikir aku akan belajar mengingat semua nya" Balas Zen senyum kecil.
"Benarkah? Bagus sekali Zen, belajarlah hari ini bersama Ken, nenek harus pergi beristirahat mandi dengan air hangat" Tutur Nyonya Lista senang.
"Baik Nek.." Balas Zen senang.
"Ken jagalah cucuk ku ini, ingatkan akan hal masa lalu nya" Tutur Nyonya Lista.
"Baik Nyonya" Balas Ken.
"Aku akan pergi sekarang" Tutur Nyonya Lista.
"Apa mau saya antarkan nyonya?" Tawar Ken.
"Tak perlu! Ingatkan saja cucuk ku untuk bisa mengingat semua nya" Balas Nyonya Lista pergi.
Kini tinggallah Zen dan Ken di koridor depan ruang kerja Ken.
"Baik antar aku keruangan ku" Tutur Zen.
"Baik Nona ikuti saya" Balas Ken dengan tampang maco nya.
Ken berjalan terlebih dahulu dan Zen mengekor di belakang ken.
**Haii, udah lama gak update. Author minta buat para readers yang berkenan hati nya untuk vote dan like novel recehan author ini, author sangat berterimakasih atas dukungan nya untuk author.
Buat para readers yang ingin kenal lebih dekat dengan author, boleh cek ig author.
__ADS_1
Ig: rsmnttan_
Jangan lupa untuk mampir ke cerita author yang baru "Dokter Cantik Penakluk Hati Billioner**".