
Usai pemakaman Nyonya Lista, keluarga besar Nyonya Lista dan kolega bisnis nya mengahadiri kediama Nyonya Lista mereka ikut berbelasungkawa.
Ali mantan suami Tari dan juga Elle istri nya yang sedang hamil pun datang beserta dengan Satria dan Jessie.
Zen masih terpukul atas kematian nenek nya, pasalnya Zen sangat menyayangi Nyonya Lista sejak kecil Zen selalu di asuh nya sedangkan kedua orang tua nya sibuk bertengkar.
Sean yang rindu akan pelukan hangat ibu nya terpaksa di tahan Ken karena takut jika Sean mendekat Zen akan memarahi nya.
Zen duduk di atas ranjang Nyonya Lista di sekeliling dinding kamar dan nakas nampak berjejer foto Nyonya Lista dan Zen yang tersenyum sangat lebar.
Zen turun dari ranjang mengambil foto yang terletak di atas nakas, nampak foto dirinya dan Nyonya Lista saat Zen masih sekolah menengah atas, Zen memandang foto nya sambil air mata Zen bercucuran.
"Kenapa? Kenapa nenek ninggalin Zen? Kenapa nek?" Tutur Zen menangis terduduk di lantai.
Dari arah luar pintu nampak Ali ayah kandung dari Zen memandangi putri nya yang sedang menangis di lantai, Ali menghampiri Zen lalu membantu nya untuk duduk di sisi ranjang.
"Jangan seperti ini nak?" Tutur Ali mengusap kepala Zen.
"Nenek kenapa pergi ayah? Bahkan Zen tidak tahu jika nenek sakit" Balas Zen menangis memandang ayah nya.
Mata Ali sudah mulai berkaca-kaca melihat keadaan putri nya yang sangat amat terpukul.
"Kita semua tak tahu jika nenek sakit, mungkin nenek begitu karena ada alasan nya nak" Balas Ali.
Zen menangis menatap arah lurus pandanganya membuat Ali sangat prihatin.
"Jangan seperti ini, jika kau terus begini nenek tidak akan tenang Zen. Sapa para kerabat nenek, jangan seperti ini" Tutur Ali mengusap air mata Zen.
Ali pamit keluar meninggalkan Zen yang masih terdiam, setelah Ali pergi nampak Sean yang berlari di kejar Ken. Sean menatap Zen dari arah pintu dengan Ken yang di belakang khawatir jika Zen akan marah pada Sean.
"Sayang anak nya daddy yang tampan, kita keluar yu?" Ajak Ken.
Zen menoleh kemudia. menghampiri Sean dan Ken.
"Zen jangan marahi Sean, tadi aku sudah melarang nya masuk kemari tapi Sean terus saja memaksa" Tutur Ken khawatir.
Zen hanya menoleh pada Ken, Zen berjongkok di hadapan Sean, Sean mengusap pipi ibu nya.
"Mommy jangan nagis, masih ada Sean di sini. Mommy tidak akan kesepian" Tutur Sean polos.
Ken sudah khawatir bagaimana marah nya Zen pada Sean.
__ADS_1
"Sean janji gak akan ninggalin mommy?" Balas Zen mengacungkan jari kelingking nya.
Apa? Zen tidak marah? Hah syukurlah kau kali ini selamat nak. Batin Ken lega.
Sean menyatukan jari kelingking dengan jari Zen sambil tersenyum lebar pada arah Zen.
"Sean janji mommy" Balas Sean.
Sean melepas jari kelingking nya lalu memeluk Zen dengan penuh hati.
"I love you mommy" Tutur Sean dalam pelukan Zen.
"I love you too son" Balas Sean mendelik pada Ken.
Zen melepas pelukan nya dari Sean, Zen merapihkan rambut Sean.
"Sean main keluar ya, mommy mau berbicara dengan daddy" Tutur Zen.
Zen berteriak memanggil suster Sean dan dengan begitu Sean di bawa oleh suster nya meninggalkan Zen dan Ken.
Zen melangkah menuju arah jendela kamar, Ken di persilahkan duduk di sofa yang berada di dalam kamar.
"Ada apa?" Tanya Ken.
"Sean anak ku juga sudah seharusnya aku menjaga nya juga" Balas Ken.
"Apa semenjak kau pergi, kau melupakan ku dan kandungan ku dulu?" Tanya Zen duduk di sebelah Ken.
"Tentu saja tidak, bahkan aku selalu menyuruh anak buah ku untuk selalu memantau kau" Balas Ken.
"Syukur lah Ken" Tutur Zen tersenyum dengan mata nya yang sembab.
"Mengapa bertanya seperti itu?" Tanya Ken penasaran.
"Tidak, kau boleh keluar" Balas Zen.
Apa? Hanya itu saja? Aku berharap kau mengatakan apa aku masih mencintai mu? Ah sudah lah Ken kau terlalu berharap. Batin Ken berharap.
Ken beranjak kemudian keluar dari kamar Nyonya Lista, Zen berganti pakain lalu menyusul Ken keluar. Nampak di rumah masih ramai oleh para rekan kerja dan kerabat Nyonya Lista.
Zen menghampiri Satria yang tengah duduk di meja makan sendirian, Satria terkejut Zen duduk di meja makan tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Zen kau keluar?" Tanya Satria yang tengah mengunyah apel.
"Kakak bisa lihat sendiri" Balas Zen mengupas jeruk.
"Kau tak bergabung dengan para kerabat dan rekan kerja Nyonya Lista? Ibu mu, ibu ku, ayah ku ayah mu juga, Jessie, Ken beserta Sean merek sedang berkumpul di ruang tamu. Mengapa kamu kemari?" Tutur Satria panjag lebar.
"Kakak juga kenapa di sini dengan para pelayan? Jangan mencari jodoh di sini, di sini pelayan nya udah tua semua" Balas Zen berbisik.
"Kau ini Zen" Tutur Satria menggelengkan kepala.
"Aku malas bergabung kak, jika bergabung mereka selalu membicarakan nenek yang membuat aku kembali bersedih" Balas Zen memakan jeruk nya.
"Apa besok kau mau jalan-jalan?" Tanya Satria.
"Kemana kak?" Balas Zen
"Bali? Di sana kamu pasti bisa menjernihkan pikiran" Tutur Satria.
"Indonesia? Udah lama juga sih gak ke tanah air, jadi boleh tuh. Nanti aku titip kan Sean pada Ken" Balas Zen tersenyum.
Ken dari kejauhan melihat keakraban Zen dan Satria walaupun Ken tahu jika Satria adalah kakak tiri nya namun sama aja cemburu tak memandang status.
Ken berjalan keluar rumah dengan wajah kesal nya meninggalkan Sean dengan Tari, Ken duduk di bangku taman sendirian.
Wanita itu dengan siapa pun akrab, apa dia tak tahu jika aku cemburu?. Batin Ken kesal.
Saat sedang terdiam dengan kekesalannya Zen datang menghampiri Ken, Zen duduk di bangku sebelah Ken.
"Kenapa keluar?" Tanya Zen ramah.
"Apa kau harus tahu alasannya?" Balas Ken ketus.
"Kaya nya kau sedang marah? Ada apa ceritalah?" Tutur Zen yang tak tahu Ken marah karena ulah nya.
"Mau tahu aja!!" Balas Ken ketus pergi meninggalkan Zen.
Zen masih terdiam melihat tingkah laku Ken yang aneh, selama bersama Ken, Zen tak pernah melihat Ken seperti itu.
Kenapa dia? Kok marah ke aku sih?. Batin Zen bertanya-tanya.
Dari arah gerbang masuk tiga mobil yang tak lain ialah mobil milik Arul, Kevin dan juga milik Avin. Zen berlari menunggu sahabat nya turun dari mobil dengan menyembunyikan wajah kesedihan nya. Zen tak mau harus berlarut-larut dalam kesedihan nya yang mengakibat kan luka-luka nya kembali sakit atas kepergian Nyonya Lista.
__ADS_1
--
Like and vote nya yuuu readers.