Anak Broken Home Menemukan Cintanya

Anak Broken Home Menemukan Cintanya
Sean Bersedih (2)


__ADS_3

Zen dan Ken mendekat pada Sean yang terduduk di atas ranjang nya.


"Ada apa nak?" Tutur Zen mengelus kepala Sean.


Mata Sean mulai berkaca-kaca dan tak lama air mata Sean turun.


"Anak daddy yang paling tampan kenapa menangis? Apa mommy selalu memarahi mu?" Hibur Ken menghapus air mata Sean.


Zen yang menjadi kambing hitam tak terima lalu mencubit pinggang Ken membuat Ken meringis kesakita, ringisan Ken mendapat gelak tawa dari sang putra nya.


"Daddy dan mommy lucu" Tutur Sean tertawa.


Zen dan Ken saling pandang, kemudian sama-sama tersenyum.


"Jadi ceritakan pada mommy, apa yang membuat jagoan mommy ini menangis seperti wanita" Tutur Zen tersenyum.


"Mommy dan daddy tidak berpisah kan?" Balas Sean menunduk.


Zen dan Ken saling pandang, Ken mengangkat dagu Sean kemudian tersenyum ke arah nya.


"Sean lihat sendiri kan mommy dan daddy selalu bersama" Balas Ken menunjukam kebersamaannya.


"Jika begitu luangkan sedikit saja waktu mommy dan daddy untuk kita pergi ke taman bermain, nanti Sean janji. Sean akan membayar satu hari itu dengan uang dari oma" Tutur Sean tersenyum polos.


"Kenapa harus bayar nak?" Tanya Zen.


"Kata oma dan juga grandma, mommy dan daddy bekerja mencari uang untuk Sean dan jika mommy dan daddy tak bekerja karena bermain dengan Sean mommy dan daddy tidak akan dapat uang. Maka dari itu Sean ingin satu hari bersama dengan mommy dan daddy, Sean janji akan bayar momm, daddy" Balas Sean lagi-lagi tersenyum polos.


Apa aku sangat sibuk? Sean rela membayar untuk bisa satu hari bermain dengan kami. Ibu macam apa aku yang banyak melupakan mu. Batin Zen menyesal.


Apa Zen sangat melupakan Sean saat aku tak kembali kemari? Apa Zen tak menyayangi Sean?. Batin Ken bercampur.


Zen menitikan air mata nya memandang wajah polos Sean yang sangat ingin menghabis kan satu hari nya dengan kami.


"At look mommy, daddy. Mommy menangis" Tutur Sean.


Ken menoleh, Sean mendekat lagi wajah nya pada wajah Zen. Sean menghapus air mata Zen yang turun membasahi pipi.


"Mommy jangan nangis! Wajah mommy nanti jelek" Tutur Sean dengan tawa nya.

__ADS_1


Zen tersenyum mendengar ocehan sang putra nya, Ken pun sangat bahagia melihat Sean tertawa dengan ria nya.


"Sean maaf mommy, mommy janji akhir pekan kita bermain bersama" Tutur Zen memeluk Sean.


Ken pun memeluk Sean dengan begitu hangat nya.


"Sekarang Sean bermain sama suster dulu, mommy masih ada kerjaan yang harus di bereskan" Tutur Zen.


Sean bermain kemali dengan suster nya, sedang kan Zen dan Ken bergabung dengan Nyonya Lista, Tari beserta suami nya di ruang keluarga.


"Apa akal mu hilang?" Tutur Tari marah.


Zen menuduk karena memang diri nya yang salah, sedang kan Ken masih bertahan dengan sikap dingin nya.


"Jawab ibu Zen?! Apa kau bisu tak mau menjawab!?" Teriak Tari yang semakin marah.


"Hentikan lah Tari, kita bisa membicarakan nya tanpa berteriak. Jika Sean mendengar ia pasti akan menangis" Balas Nyonya Lista menenangkan.


Tari meredam emosi nya.


"Zen apa kau mau Sean menjadi seperti diri mu dulu? Menjadi seorang anak yang kurang kasih sayang dari ayah dan ibu nya?" Tanya Nyonya Lista.


"Zen tahu nek, Zen salah. Zen hanya mementingkan kehidupan Zen tanpa tahu jika Sean sangat membutuh kan Zen di masa pertumbuhan nya" Balas Zen menangis.


"Nyonya, mohon maaf menyela yang bersalah di sini bukan Zen tapi saya juga bersalah" Tutur Ken tersenyum pada Zen.


"Bagus jika kalian tersadar, luangkan banyak waktu untuk Sean sebelum semua nya berakhir dengan penyesalan!" Balas Tari


Perbincangan pun selesai Zen dan Ken pamit untuk melanjutkan pekerjaan mereka, karena ada meeting bersama Zen, Ken menawarkan agar mereka satu mobil.


Awal nya Zen menolak namun Ken terus memasak dan akhirnya mereka satu mobil kembali setelah sekian lama tak berjumpa.


Di dalam mobil tak ada yang bersuara mau Ken atau pun Zen karena usai perceraian itu mereka menjadi sedikit canggung.


Apa aku harus meminta maaf pada Ken? Dulu kan aku sangat egois. Batin Zen.


Satu mobil kembali, apa kita akan satu atap bersama lagi? Ah entahlah hanya tuhan yang akan menakdir aku dan Zen bisa kembali. Batin Ken berharap.


"Maaf" Tutur Zen memecahkan kehingan di antara kedua nya.

__ADS_1


Ken menoleh sebentar kemudia membalikan pandangan nya kembali menuju arah jalan.


"Maaf untuk apa?" Balas Ken bingung.


"Maaf karena dulu aku egois" Tutur Zen menunduk.


"Tak apa jangan di pikir kan, aku pun minta maaf" Balas Ken menoleh.


"Untuk?" Tanya Zen penasaran.


"Untuk kesalah ku yang meninggalkan mu saat hamil Sean, seharus nya waktu dulu usai perceraian aku tak meninggalkan mu" Balas Ken menyesal.


"Tak apa, kita saling memaafkan saja" Tutur Zen tersenyum.


"Baik" Balas Ken sama tersenyum.


Tak terasa sepanjang jalan mengobrol akhirnya Ken dan Zen tiba di kantor cabang milik Ken, Ken sudah di sambut oleh asisten nya dan juga kepala cabang.


Saat bersamaan masuk seorang wanita yang tak lain ialah Joeya menabrak Ken, refleks Ken membantu nya. Zen yang melihat nya memcoba bodo amat namun sama saja api cemburu Zen sudah berkoar.


Ken membatu Joeya berdiri.


"Tak apa?" Tanya Ken.


"Tak apa tuan" Balas Joeya senang.


"Baiklah" Tutur Ken pergi yang di ikuti Zen dan asisten beserta kepala cabang.


Omg!!! Mimpi apa aku semalam, sebentar cuek sebentar perhatian. Eh tapi siapa wanita yang mengikuti tuan Ken? Wajah nya tak asing. Batin Joeya masih memandang punggung Ken yang semakin menghilang.


Joeya masuk ke dalam ruangannya, Joeya di sambut oleh kedua sahabatnya, Joeya menceritakan bahwa ia tadi di tabrak oleh Ken dan di pegang nya.


Tinggg...


Pintu lift terbuka, Ken dan Zen berjalan menuju ruang meeting yang usai asisten dan kepala cabang nya di persiap kan.


Ken dan Zen mulai membahas penanaman saham nya di perusahaan Zen, Ken ingin cabang nya yang berada di sini lebih maju dan berkembang secara perusahaan ZEN Group sudah terkenal di berbagai manca negara.


Namun Zen masih mempertimbangan kan penanaman saham kantor cabang Ken di perusahaan nya, karena kondisi perusahaan Zen yang masih kekurangan karyawan akibat cabang perusahaan Zen yang terus bertambah dan harus di kepalai oleh karyawan yang tahu akan seluk beluk perusahaan Zen.

__ADS_1


--


Ayoo dong vote dan like nya cusss


__ADS_2