Anak Broken Home Menemukan Cintanya

Anak Broken Home Menemukan Cintanya
Bab 59


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana sidang Ken dan Zen akan berlangsung, Zen sudah rapih dengan pakaian nya untuk segera memenuhi panggilan nya.


Zen yang di antar oleh Nyonya Lista, Tari dan juga ayah tiri Zen sudah siap berangkat, saat dalam mobil Tari sangat takut keputusan yang Zen ambil adalah keputusan yang salah.


"Apa kau siap nak?" Tanya Kim.


"Yes dad I ready" Balas Zen dengan senyuman.


Kim melajukan mobilnya menuju pengadilan dengan hati dan tekat yang sudah bulat.


--


Ken di dampingi oleh paman dan bibinya tak lupa Arga sekretaris nya ikut untuk menyaksikan persidangan.


Ken dengan hati yang lapang mencoba ikhlas dengan keputusan apa yang di buat Zen.


Zen melajukan mobilnya untuk hadir di acara persidangan nya.


Satu jam perjalanan akhirnya Ken dan keluarga sampai bertepatan dengan keluarga Zen, Ken mencoba kuat begitupun dengan Zen yang sudah menangis di pelukan ibu nya.


Nyonya Lista menghampiri Ken yang masih mematung di dekat mobil sedang kan keluarga nya sudah memasuki gedung.


"Ken" Sapa Nyonya Lista.


Ken menatap Nyonya Lista kemudian Ken memeluk Nyonya Lista sambil menangis.


"Ken gagal nek, Ken gagal untuk terus bisa hidup dengan Zen" Tutur Ken menangis.


"Nenek tahu kau tak salah, nenek tahu itu" Balas Nyonya Lista sama menangis.


"Jaga Zen dan calon anak Ken nek" Tutur Ken.


"Nenek akan menjaga nya untuk mu Ken" Balas Nyonya Lista.


Nyonya Lista dan Ken memasuki gedung, Zen dan Ken sama-sama menangis dengan perceraian ini.


Aku gak kuat!! Gak kuat!! Jujur aku masih cinta!!. Batin Zen menangis.


Zen menangis dalam diam begitu pun Ken sampai palu di ketuk dan persidangan akan di akan minggu depan sehingga sesudah itu Ken dan Zen resmi berpisah.


Usai selesai persidangan Zen yang hendak menyusuk keluarga nya di tarik oleh Ken.


"Izin kan aku berkata sedikit" Tutur Ken.


Zen menatap mata Ken, Ken tak banyak berubah hanya saja tubuh Ken menjadi lebih kecil.


"Silahkan" Balas Zen sudah dengan tangisannya.

__ADS_1


"Aku kali tidak akan memaksa, aku hanya ingin kau berjanji untuk menjaga anak ku!!" Tutur Ken.


"Tak berjanji padamu pun aku akan menjaga nya Ken" Balas Zen.


"Jangan banyak tingkah, istirahat lah kau banyak bekerja" Tutur Ken tersenyum.


"Kau pun Ken, badan mu kini mengecil. Makanlah yang banyak dan beristirahat, maaf aku pamit" Balas Zen melenggang dengan air mata yang tak kunjung surut.


Ken melihat Zen yang berlari menjauh dari nya, kini kesedihan Ken makin menjadi. Ken merasa dirinya telah gagal menjadi seorang kepala rumah tangga.


--


Zen beserta keluarga nya sudah sampai di kediaman Nyonya Lista, Zen pamit untuk pergi ke kamar nya. Di kamar Zen membuka foto lama dirinya dan juga Ken, foto saat masih kecil, saat sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah atas hingga akhirnya Zen dan Ken berpisah untuk menempuh pendidikan nya masing-masing.


Zen menangis kita melihat foto berpigura, foto yang Zen lihat ialah foto dimana dirinya dan Ken memakai baju senada, foto yang di ambil saat mengucapkan janji sehidup semati saat ijab qobul.


Apa keputusan ku benar? Atau salah? Aku masih menginginkan nya, aku tahu itu salah paham tapi itu rasa nya sakit. Batin Zen menangis.


Zen melepas cincin pernikahan nya kemudian Zen menaruh di sebuah kotak kecil, Zen mengumpulkan barang yang berbau Ken.


Dimasukannya kedalam kardus mulai dari foto pernikahan, cincin nikah, hingga barang yang dulu Ken beri pada Zen.


--


Ken kembali ke apartemen lama nya lagi karena tak ada guna nya lagi Ken menetap di rumah yang ia beli untuk Zen, semakin lama tinggal di sana semakin dalam rasa sakit yang Ken rasa.


Ken teringat bahwa kopi latte adalah minuman kesukaannya dan juga Zen.


Betapa payah nya aku!! Aku seorang kepala rumah tangga yang gagal!!. Batin Ken.


Saat sedang beradu argumen di pikirannya seseorang wanita yang tak lain ialah bibinya menghampiri lalu ikut duduk bersama dengan Ken.


Bibi Ken masih berada di Inggris karena bibi dan paman Ken belum bisa meninggalkan Ken dalam kesedihan perceraian nya.


"Ken, kau tak apa nak?" Tanya si bibi.


"Aku baik-baik saja" Balas Ken tersenyum.


"Kau anak bodoh!! Bibi merawat mu sejak kecil jadi bibi tahu wajah kau yang menandakan tidak apa-apa" Tutur si bibi.


"Jika harus berkata jujur, aku belum siap dengan semua ini bi. Kesalah itu hanyalah salah paham" Balas Ken.


"Bibi tahu dan bibi percaya padamu, jika ini jalan yang terbaik untuk mu ikhlas kan dan jikalau nanti kau berjodoh dengan Zen, kau akan selamanya bersama lagi dengan Zen" Tutur si bibi.


"Aku mendambakan kesempatan itu bi" Balas Ken.


Bibi Ken memeluk Ken yang masih tak terima dengan hal buruk menimpa ponakannya.

__ADS_1


--


Pagi hari menyapa memancarkan sinar sang surya, Zen bangun dari tidur nya dengan mengelus perut nya yang kian bulan membuncit.


"Selamat pagi anak mommy" Tutur Zen tersenyum.


Zen melengkah kan kaki nya menuju kamar mandi untuk mandi, karena hari ini hari Minggu Zen bebas bermalasan sepanjang hari di rumah nya.


Usai beres mandi Zen keluar dari kamar menemui Nyonya Lista beserta ibu dan ayah tirinya yang sedang asik sarapan.


"Morning my girls" Tutur Tari.


"Morning mom" Balas Zen duduk di sebelah Tari.


"Apa rencana mu hari ini?" Tanya Nyonya Lista.


"Entah, mungkin aku akan tidur sepanjang hari nek" Balas Zen memakan roti.


"Ibu hamil jangan banyak tidur, gimana kalo kita yoga" Tutur Tari menyarankan.


"Nah bagus itu, sehat untuk kehamilan mu" Tambah Nyonya Lista.


"Ayah gak ikut-ikutan deh kalo masalah wanita" Tutur Kim yang teracuhkan.


"Ayah ke gym aja biar otot nya tambah gede" Balas Zen tertawa.


"Ayah berotot tahu" Tutur Kim tertawa.


Pagi hari keluarga Zen yang di awali dengan tertawaan membuat Zen sedikit ceria atas kesedihannya akibat perceraian.


Usai sarapan Zen bersiap untuk senam yoga kehamilan bersama ibunya, saat sedang berganti pakaian ponsel Zen berdering menandakan ada yang menelpon dengan gesit Zen menganggkat telpon dari sahabat nya yaitu Vanka.


*Sedang dimana ibu hamil?. Tanya Vanka.


*Di rumah nih, tapi sebentar lagi mau jalan. Balas Zen.


*Kemana? Gak ngajak. Tanya Vanka.


*Senam sama ibu, kalo mau ikut ayo nanti aku share lok lokasinya. Balas Zen.


*Boleh tuh mumpung anak aku lagi di rumah mertua. Tutur Vanka.


*Yaudah aku share lok. Balas Zen menutup telponnya.


Zen beserta ibu nya sudah siap sebelumnya Zen memberi tahu lokasi senam nya kepada Vanka, Zen hanya pergi berdua dengan ibunya tanpa supir dan Kim terbang ke Korea untuk melihat kinerja perusahaan nya.


--

__ADS_1


Kencengin dong vote dan like nya.


__ADS_2