
Zen berlari menuju parkiran tempat mobil nya terparkir, Zen duduk di pinggiran mobil dengan air mata yang berurai. Tak lama Ken menyusul dengan berlari cepat, Ken melirik sana-sini untuk menemukan istrinya. Ken berlari menuju parkiran, Ken berfikir bahwa Zen ada di tempat parkiran.
Dari kejauhan nampak Zen sedang menangis tersedu dengan kecepatan kilat Ken menghampiri nya.
"Sayang.." Tutur Ken berjongkok di hadapan istrinya.
Zen yang tertunduk melihat ke arah sumber suara.
"Apa!.. Bukan kah mau makan siang bareng sekretaris ke ganjenan itu" Balas Zen marah.
"Heii, sayang Siska itu janda masa aku mau sama janda sih" Tutur Ken bercanda.
"Oh.. jadi jika bukan janda kamu mau?" Balas Zen tambah marah.
"Nggak lah, kan mas sudah punya istri" Tutur Ken tersenyum.
"Halah kamu ini" Balas Zen buang muka.
"Sayang dengar yah, mau janda atau tidak pilihan ku tetap lah kamu. Istri yang aku idamkan sejak kecil lalu" Tutur Ken serius.
Zen tersipu dengan perkataan Ken, ya memang dulu Zen dan Ken menghabis kan waktu bersama hingga masa kuliah tiba mereka berpisaha.
"Iya mas, iya aku percaya pada mu" Balas Zen memeluk Ken.
Ken membalas pelukan istrinya, kemudian mereka bangkit kembali menuju loby kantor karena sudah ada yang menunggu Ken dan Zen.
Saat memasuki loby Ken dan Zen di tunggu oleh Arul, Avin, Kevin dan juga sekretaris mereka masing-masing.
"Pasutri doyan banget berantem" Goda Kevin.
"Apa sih Kevin" Balas Zen salah tingkah.
"Eh.. aku tahu Vin kenapa mereka doyan berantem" Tutur Arul.
"Kenapa?" Balas Kevin.
"Katanya Vanka, mereka berdua itu sahabatan dari kecil nah dari kecil itu doyan banget berantem" Tutur Arul.
"Ngaco kamu" Balas Zen mengelak.
"Sudah.. sudah, maaf atas kejadian barusan. Bagaimana jika kita berangkat makan siang sekarang" Tutur Ken melerai.
"Ayo" Balas Arul dan Kevin.
"Maaf sekali untuk makan siang hari ini aku tak bisa ikut, Rara sedang repot karena Vira sakit, jadi saya makan siang dirumah" Tutur Avin.
"Oh begitu, silahkan salam untuk Rara dari saya dan Zen" Balas Ken ramah.
"Salam juga dari aku sama istri" Tambah Arul.
"Dari aku juga" Tambah Kevin.
__ADS_1
"Baik-baik, saya permisi" Balas Avin berlalu.
Saat Avin sudah pergi, giliran Ken dan temannya yang pergi untuk makan siang.
*Kediaman Nyonya Lista.
Nyonya Lista tengah bersantai dengan camilan dan jus jeruk nya di pinggiran kolam renang, saat sedang menikmati jus jeruknya seorang pelayan datang menghampiri Nyonya Lista.
"Maaf nyonya, di depan ada nona Jessie" Tutur si pelayan.
"Jessie anak dari Ali?" Balas Nyonya Lista.
"Iya betul nyonya" Tutur si pelayan.
"Suruh masuk, nanti saya keluar" Balas Nyonya Lista.
Si pelayan meninggalkan Nyonya Lista lalu berlari menuju pintu depan.
"Nona Jessie silahkan masuk dan mohon menunggu sebentar" Tutur si pelayan.
"Oh iya, terimakasih" Balas Jessie tersenyum.
"Sama-sama nona, mari" Tutur si pelayan mempersilahkan.
Jessie duduk di ruang tamu yang mewah sedang kan si pelayan kembali ke dapur untuk mengambil air, tak lama dari si pelayan pergi keluarlah Nyonya Lista dengan senyuman nya.
"Duduklah" Tutur Nyonya Lista.
Jessie kembali duduk di sofa tadi kemudian diikuti oleh Nyonya Lista yang duduk di sofa berkapasitas satu orang.
"Ada kamu ingin bertemu dengan nenek, kemarin kakak mu kemari" Tutur Nyonya Lista.
"Kakak? Apakah kakak kemari?" Balas Jessie.
"Iya kemarin Satria kemari" Balas Nyonya Lista.
"Jessie kira kak Satria langsung ke Dubai" Tutur Jessie.
"Dubai? Mau apa kakak mu itu kesana?" Balas Nyonya Lista.
"Kak Satria sedang membangun cabang perusahaan ayah di Dubai nek" Tutur Jessie.
"Wah, hebat sekali Ali. Nah sekarang ada perlu apa kamu kemari" Balas Nyonya Lista.
"Jessie hanya rindu nek, kebetulan dua hari lagi Jessie kuliah ke Havard- Amerika. Tapi sebelum kesana Jessie mampir dulu kemari" Tutur Jessie tersenyum.
"Kamu ini Jes.. " Balas Nyonya Lista.
"Kak Zen sering kemari nek?" Tanya Jessie.
__ADS_1
"Sudah lama Zen tak kemari, mungkin Zen repot dengan kantor juga mengurus suaminya. Sedang kan suami Zen kan membuka perusahaan baru" Balas Nyonya Lista sedih.
"Nenek gak usah sedih, kan kalo nenek kangen kak Zen tinggal datang aja ke kantor nya" Tutur Jessie menghibur.
"Nenek sudah tua Jes, nenek ingin beristirahat" Balas Nyonya Lista.
"Jessie tahu apa yang nenek sedihkan" Tutur Jessie.
Jessie memeluk Nyonya Lista dengan penuh hati agar Nyonya Lista tak bersedih dengan ketidak hadirannya Zen.
Hari sudah menjelang sore Jessie pamit pada Nyonya Lista untuk pergi menjalankan pendidikan nya lagi di Havard.
Usai kepergian Jessie, Nyonya Lista merasa sedih karena kesepian cucuk nya yang sudah mempunyai keluarga nya sendiri jarang berkunjung kemari, sedang anak kandung Nyonya Lista tak tahu keberadaan nya sekarang.
--
Donghae, Korea Selatan.
Tari anak satu-satunya Nyonya Lista kini menetap di Korea dengan suami baru nya yang bertemu di bandara Suekarno Hatta saat Tari di usir oleh Nyonya Lista.
Kehidupan Tari kini jauh lebih baik karena suami Tari sangat lah penyayang dan yang tentu suami Tari bukanlah musuh ayah nya dahulu.
Kim Lee Su suami dari Tari yang bekerja sebagai CEO dari perusahaan properti yang lumayan besar di Korea.
Ada kesedihan saat pernikahan dirinya dan Kim, anak bahkan ibu nya tak ia undang karena Tari cukup malu untuk mengundang keduanya, Kim mengerti akan keadaan istrinya dan Kim masih bersabar untuk menunggu istrinya membawa Kim kehadapan ibu dan anak dari Tari.
Sebelum menikah dengan Tari Kim hanyalah duda yang tak di karunia anak dari pernikahan sebelumnya, Kim mengingankan anak maka dari itu Kim menunggu Tari agar mau mempertemukan Kim dan anak nya.
Saat ini Tari tengah termenung di taman rumah nya, Kim yang berlibur bekerja melihat Tari dengan tatapan yang sulit di artikan. Kim melangkah menghampiri Tari, Tari yang terkejut melihat kedatangan suaminya mencoba tersenyum.
"Sayang apa yang membuat mu termenung seperti ini?" Tutur Kim duduk di sebelah Tari.
"Aku tak tahu harus bagaimana, rasa rindu pada anak dan ibu semakin hari semakin mendera" Balas Tari menangis.
Kim memeluk Tari mencoba menenangkan nya.
"Aku akan siap menunggu mu sampai kau mau menemui mereka sayang" Balas Kim tersenyum.
"Terimakasih sudah mau mengerti keadaan ku sayang" Tutur Tari.
"Sudah kewajiban ku sebagai suami mu" Balas Kim.
Tari bersyukur karena mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari Kemal.
--
Maaf author jarang update soalnya author harus kerja, susah bagi waktu.
Author mohon untuk tidak meninggalkan karangan author yang satu ini, tetap vote dan like agar author update.
Jaga kesehatan, jaga jarak.
__ADS_1
Salam hangat author.