Anak Broken Home Menemukan Cintanya

Anak Broken Home Menemukan Cintanya
Aku masih mencintai mu


__ADS_3

Beberapa minggu dari kematian Nyonya Lista, banyak orang kecewa dengan kematian Nyonya Lista pasal nya Nyonya Lista ialah seseorang yang banyak berjasa dan murah hati.


Zen yang masih sakit akan kematian nenek nya mencoba tegar dan tabah, hari ini Zen berencana untuk menenangkan diri nya melepas kesedihan dan merileks kan diri dari pekerjaan nya.


Zen menemui Ken si sebuah caffe kesukaan mereka dahulu, Zen memainkan ponselnya agar tidak bosan menunggu Ken.


Dari kejauhan Ken datang menghampiri Zen yang duduk sendirian dengan coffe latte kesukaannya.


"Maaf menunggu lama" Tutur Ken duduk di bangku berhadapan dengan Zen.


Zen tersenyum, "Tak apa Ken".


"Ada apa?" Tanya Ken penasaran.


"Pesan lah dahulu" Balas Zen singkat.


Ken memanggil pelayan lalu memesan coffe latte sama seperti Zen.


"Aku sudah pesan, ada apa?" Tanya Ken penasaran.


"Ah iya begini Ken, lusa aku akan berangkat ke Bali" Balas Zen menjelaskan.


"Apa kau mau mengajak ku?" Tutur Ken dengan tawa kecil nya.


"Bukan, aku mau menitip kan Sean pada mu" Balas Zen.


Ken yang tertawa kecil tiba-tiba diam mendengar maksu Zen mengajak nya ke caffe.


"Ah jadi kau mengajak bertemu hanya untuk menitip kan Sean?" Tanya Ken mendelik.


"Ya kita masih berhubungan baik karena masalah anak kan tidak lebih" Balas Zen menyeruput kopi nya.


Sial Ken, kau terlalu kepedean! Seperti nya Zen sudah tidak mencintai ku. Batin Ken malu.


"Ah iya jika ingin menitip kan Sean tak perlu sungkan, Sean juga anak ku" Tutur Ken tersenyum.


"Terimakasih Ken" Balas Zen.


"Ada rencana apa ke Bali?" Tanya Ken penasaran.


"Tidak ada aku hanya ingin menenangkan diri" Balas Zen.


"Dengan siapa?" Ken terus bertanya.


Zen merasa aneh dengan semua pertanyaan Ken, Ken bertanya seperti suami yang mengintrogasi istrinya.


Pria ini kenapa sih? Aneh sekali, apa mungkin dia khawatir pada ku?. Batin Zen tersenyum.

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Zen membuat Ken bingung, apa Ken terlihat posesif di hadapan Zen.


"Ah maaf Zen aku banyak bertanya" Tutur Ken membuang pandangan nya ke sembarang arah.


Pelayan datang dengan kopi yang Ken pesan, usai pelayan pergi Ken menyeruput kopi panas itu dengan hati-hati.


"Tak apa Ken, aku kesana bersama dengan Kenya dan Arkas" Balas Zen ikut menyeruput kopi milik nya.


Sial ada pria nya, aku harus mengintai nya. Tapi bagaimana dengan Sean? Ah nanti aku kirim orang ku saja ke sana. Batin Ken membuat rencana.


"Oh begitu, baiklah aku akan menjadi ayah yang siaga untuk Sean selagi mommy nya pergi berlibur" Tutur Ken tersenyum.


"Aku tak berlibur Ken, aku mengajak Kenya dan Arkas ke Bali supaya aku juga bisa bekerja di sana" Balas Zen tertawa kecil.


"Perusahaan mu?" Tanya Ken menaikan satu alis nya.


"Perusahaan akan ayah ku handle dulu, sedang kan yang di Belanda akan kak Satria urus" Balas Zen.


"Baiklah jangan lama" Tutur Ken.


Sampai kopi mereka habis, Zen dan Ken pamit pulang masing-masing. Ken lusa akan ke kediaman Nyonya Lista untuk memenuhi perintah Zen menitip kan Sean pada nya.


Zen tiba di ke kediaman Nyonya Lista, saat masuk ke dalam rumah ada rasa sedih melanda hati Zen. Saat Zen melihat ke sofa tamu tempat Nyonya Lista duduk, air mata Zen keluar lagi.


Zen duduk di sofa tempat di mana Nyonya Lista sering duduki, saat sedang melamun dari arah dalam datang Sean berteriak.


Zen melirik ke arah sumber suara, nampak anak nya yang sudah dewasa berlari dengan cepat nya, Zen memeluk Sean.


"Tampan seperti daddy" Balas Sean tersenyum.


"Grandma mana?" Tanya Zen menggendong Sean.


"Grandma and grandpa pergi" Balas Sean.


Asik berbincang dengan putra nya dari dalam datang suster Sean mengejar.


"Sustet enni, ibu kemana yah?" Tanya Zen.


"Nyonya sedang keluar dengan tuan Kim" Balas suster Enni.


"Kemana?" Tanya Zen.


"Saya kurang tahu nona" Balas suster Enni.


"Baiklah, suster boleh istirahat Sean biar saya yang urus" Tutur Zen tersenyum pada Sean.


"Baik nona, terimakasih" Balas suster Enni.

__ADS_1


Zen membawa Sean ke dalam kamar nya, Zen bermain dengan Sean dengan asik nya.


"Mommy, Sean boleh tidur dengan mommy?" Tanya Sean menunduk.


Zen tersenyum memandang putra nya yang mirip dengan Ken, Zen mengangkat dagu Sean.


"Tentu saja boleh sayang" Balas Zen tersenyum.


Sean meloncat-loncat di atas kasur Zen dengan teriakannya membuat luka hati akan kematian nenek nya menghilang dengan kesenangan putra nya.


Malam hari tiba, Sean sudah siap dengan baju tidur berwarna biru nya. Sean naik ke atas ranjang di susul oleh Zen.


Zen menceritakan dogeng malam untuk Sean dan tak lama Sean sudah tertidur lelap. Zen turun dari ranjang menyimpan buku dogeng lalu mencium kening Sean dan menyelimuti nya.


Perut Zen terasa lapar, Zen keluar dari kamar nya. Saat turun dari tangga nampak ayah dan ibu nya yang kelelahan duduk di sofa ruang keluarga.


Zen ikut duduk di sofa menyilakan kaki nya di atas sofa.


"Dari mana bu, yah?" Tanya Zen.


"Dari kantor pengurusan biaya pensiun nenek" Balas Tari.


Kim yang kelelahan pamit ke dalam kamar untuk mandi membersihakan tubuh nya meninggalkan Zen dan Tari.


"Lah baru beberapa minggu nenek pergi, emang udah ada bu?" Tanya Zen penasaran.


"Ibu juga tak tahu Zen, ibu hanya di telpon oleh pihak bank nya" Balas Tari.


"Mau wine? Sudah lama kita gak minum sama-sama kan bu" Tawar Zen.


"Boleh" Balas Tari semangat.


Zen memanggil pelayan untuk membawa wine dan camilan untuk nya, sambil menunggu Zen memutar film kesukaannya bersama dengan Tari.


Pelayan pun datang dengan membawa pesanan Zen, Zen menuangkan sedikit demi sedikit ke gelas. Tari dan Zen berbincang hingga larut.


Sudah habis dua botol Zen dan Tari belum selesai juga, Kim datang membawa Tari yang sudah mabuk berat ke dalam kamar nya meninggalkan Zen yang masih minum sendirian.


Saat sedang merancau ponsel Zen berdering, Zen mengangkat asal saja tanpa melihat nama si penelpon yang tak lain ialah Ken.


*Zen apa kau sudah tidur?. Tanya Ken.


*Aku mencintai mu Ken, sungguh mencintai mu!!!. Rancau Zen tak sadar.


*Apa aku tak salah dengar Zen?. Tanya Ken penasaran.


Zen menjatuh kan ponselnya karena sudah kehilangan kesadarannya dengan ponsel yang masih tersambung dengan Ken, sudah beberapa lama jam namun sambung telpon belum Ken tutup juga.

__ADS_1


 


Ayo dong bantu like dan vote karya author receh ini!!!


__ADS_2