
Pagi pun datang, Fino sedikit meringis mengeluh kakinya sakit, bagaimana tidak sakit, semalam dia seperti orang sehat yang berjalan kesana kemari.
"Bunna sakit," keluh Fino dengan manjanya mendekati Kalisa, Rio sengaja ingin dimanja oleh wanita itu, ya.. dia masih menganggap Kalisa adalah istrinya, dia seakan punya hak bahkan dia tidak suka Riki dekat dengan Kalisa.
"Mana yang sakit? Bunna panggilkan dulu dokter ya? Kamu tunggu sebentar," ucap Kalisa berlalu pergi.
Ternyata kaki Fino bengkak, "ko bisa seperti ini ya? lebih parah dari kemarin," ucap dokter itu heran.
Fino menunduk, dia tidak mungkin jujur dengan kenakalannya malam tadi.
"Apa mungkin Dok karena Fino semalam berjalan terlalu lama? Dia sempat mencari saya yang keluar kamar," tanya Kalisa.
"Oh begitu, pantas saja membengkak , ya sudah sebaiknya lebih diperhatikan lagi ya Bu, jangan dipaksakan kakinya, kalau dipakai berjalan sakit, anak ibu bisa digendong..!" Ucap sang dokter.
Kalisa pun mengangguk paham, dia memang mengira jika semua yang terjadi semalam adalah kesalahannya, itu membuatnya merasa semakin bersalah pada Fino.
Setelah ditindak lanjuti oleh dokter, bahkan perban itu telah diganti, Fino merasa lebih baik.
Kalisa mendekati Fino, "maafin Bunna ya sayang, gak bisa jagain kamu dengan baik," ucap Kalisa memeluk Fino.
"Itu salah Fino Bunna, Bunna gak salah, Fino yang nakal, maafin Fino ya… Bunna," ucap Fino.
"Gak ko, Bunna yang salah, kalau kamu mau apa-apa bilang ya ke Bunna, jangan maksain kaki kamu yang sakit itu buat jalan..!" Ucap Kalisa serius dengan menatap kedua bola mata Fino.
Fino mengangguk pelan, jiwa Rio merasa ada yang berbeda saat ditatap oleh Kalisa, wajah mereka yang berdekatan, nafas hangat Kalisa yang juga dapat dia rasakan, dia merasa bahagia saja bisa sedekat itu dengan Kalisa, diperhatikan oleh wanita itu dengan lembut.
***
Riki datang di pagi hari, dia membelikan mereka bubur lezat yang biasa dibeli Riki.
"Pagi semua…," ucap Riki membuka pintu, dia tersenyum pada Kalisa dan Fino.
__ADS_1
"Pagi Dokter Riki," jawab Kalisa, namun berbeda dengan Fino yang mengacuhkan kedatangan dokter muda itu.
Ngapain juga pagi-pagi sudah datang, mengganggu saja, batin Rio (Fino).
"Ini saya bawakan bubur lezat paket komplit, pasti kamu suka Kalisa, ada juga buat Fino," ucap Riki sambil memberikan bungkusan itu.
"Terima kasih Dokter," ucap Kalisa, dia sebenarnya tidak enak karena merepotkan Riki terus, namun jika ditolak pun dia takut menyinggung perasaan lelaki itu yang sudah meluangkan waktunya datang kemari membawakannya sarapan.
"Sama-sama, Fino mau om dokter suapin?" Tanya Riki.
"Aku bisa makan sendili om," jawab Fino datar, dia sebenarnya malas menjawab pertanyaan lelaki yang dianggapnya pengganggu itu.
Namun saat Kalisa menawarinya untuk disuapi, Fino malah menjawab mau, bahkan dia sengaja memamerkan kemesraannya pada Riki, padahal dokter muda itu mana mungkin merasa bersaing dengan anak balita seperti Fino.
"Katanya tadi bisa sendili, tapi malah dicuapin sama Bunna," ledek Riki sambil tersenyum pada Fino, dia senang saja menggoda anak kecil.
Fino cemberut, dia sepertinya marah pada Riki, Rio merasa Riki sedang mengejek sosok Rio bukan Fino.
Saat Fino ingin pipis, dia bingung karena dia tidak boleh berjalan dulu, juga tidak ada Kalisa saat ini, dia menoleh pada Riki dengan ragu, bagaimana ini? Pikir Rio (Fino).
Rio enggan sekali meminta bantuan lelaki yang dianggapnya saingannya itu, namun dia sudah tak tahan, dia tidak mungkin pipis dicelana bukan?
"Om, aku mau pipis," ucap Fino pelan.
"Apa? Om gak denger, coba kamu ulangi sekali lagi Fino..!" Ucap Riki yang memang tidak mendengar apa yang dikatakan balita itu, dia mendekat bahkan sudah ada disamping Fino.
Apa aku harus mengulangi kata-kata memalukan tadi? Keluh Fino dalam hati.
"Hmm, Fino mau pipis om," keluh Fino.
"Oh, yaudah ayo om anterin, om gendong ya," ucap Riki yang langsung menggendong Fino, karena dia tahu kondisi kaki Fino saat ini.
__ADS_1
Saat mereka tiba di pintu kamar mandi, Fino meminta untuk diturunkan, namun karena lantai yang licin, Riki takut jika Fino terjatuh, dia mengantar Fino sampai ke dalam, bahkan dia membantu membukakan celana Fino.
"Aku bisa sendili om," protes Fino.
"Biar cepat Fino, kamu kemarin saja bilang sama om bisa sendili tapi disuapin sama Bunna, kamu gak usah malu-malu sama om, apalagi kita kan sma-sama jagoan..!," ucap Riki sambil tersenyum.
Namun senyuman itu membuat Fino merasa kesal, baru kali ini dia pipis diantar orang lain bahkan dibukakan celana.
Oh astaga, ini mimpi buruk, tapi bukankah ini tubuh Fino? Kenapa aku merasa risih padanya, batin Fino.
Setelah selesai, Fino pun duduk diatas ranjang, dia mulai merindukan Kalisa dan mulai muak dengan wajah Riki yang so manis menurutnya.
Tak berselang lama Kalisa pun datang, dia sudah segar karena sudah mandi, bahkan tercium aroma parfum yang biasa diapakai oleh Kalisa membuat Rio merasa ingat dengan masa lalunya.
Apalagi saat melihat betapa perhatiannya Riki pada Kalisa, kenapa dulu aku tidak sebaik itu pada Kalisa? Kenapa aku baru menyadari betapa berharganya Kalisa saat semuanya sudah terlambat, pikir Rio (Fino).
Teringat saat dimana dia mengabaikan Kalisa, tidak pernah menghargainya, tidak pernah mau makan masakannya yang padahal enak.
Dulu Rio selalu mencoba mencari kesalahan Kalisa sekecil apapun itu, kemudia memaki wanita itu sepuas hatinya.
Teringat saat Kalisa selalu menunggunya pulang bekerja namun dia malah bersenang-senang dengan Felisha membuat Kalisa menunggu sampai malam tiba, saat Rio pulang dalam keadaan lelah, dia sebenarnya melihat keberadaan Kalisa yang menunggunya sampai tertidur disofa, namun tanpa rasa kasihan atau rasa peduli, Rio mengabaikan Kalisa yang tidur tanpa selimut di sofa, membuat wanita itu flu dikeesokan harinya.
Bagaiman bisa dulu aku begitu kejam padanya? Pikir Rio (Fino).
Fino menunduk, dia bahkan meloloskan air mata penyesalannya yang jatuh dipipi gembul Fino.
Kalisa yang melihat itu tentu saja panik, "Fino kenapa? Kakinya sakit lagi?" Tanya Kalisa.
Fino menggelengkan kepalanya, lalu dia memeluk Kalisa dengan begitu erat.
Bersambung…
__ADS_1