Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Keanehan


__ADS_3

Riani kini menunggu di luar ruangan karena dokter sedang berusaha keras menyelamatkan Rio sang anak. Riani menatap pintu ruangan itu dengan tangis yang tiada henti, hingga saat dimana Gerhana datang dan dia bisa menumpahkan semua kesedihannya. Di peluklah suaminya dengan erat, dia menangis sejadi-jadinya.


"Pah, Rio … Rio …, hiks…," ucap Riani sambil menangis.


"Rio pasti akan baik-baik saja, dia anak yang kuat Mah, kamu juga harus kuat sayang..!" Jawab Gerhana mendekap istrinya itu lebih erat.


Pintu ruangan itu pun terbuka, Riani dengan cepat menghampiri sang dokter, dokter itu menampilkan wajah sedih bahkan sesekali menunduk, "maaf Bu, anak ibu tidak tertolong…, pasien meninggal di pukul 14:02, yang sabar ya Bu…!" Ucap dokter Nadim.


"Apa? Dokter pasti bohong, anakku tidak mungkin meninggal dunia, dia anak yang kuat dok," jawab Riani yang menolak tentang apa yang diberitakan sang dokter.


"Mah, kita harus bisa menerima semuanya, mungkin ini yang terbaik," ucap Gerhana memeluk istrinya itu, tubuh Riani bahkan tiba-tiba lemas dan terpaksa Gerhana membopongnya.


"Pah, Mamah mau lihat Rio," ucapnya pelan.


Gerhana membawa istrinya itu masuk, berharap istrinya itu kuat menghadapi ini semua. Riani kini duduk di samping tubuh Rio, dia tidak sanggup membuka kain yang menutupi wajah anaknya. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa itu anaknya yang telah meninggal.


Riani menangis hampir sepuluh menit disana, dan suaminya hanya menemani sambil mengelus lembut punggung sang istri, "Mah, sebaiknya kita urus secepatnya pemakaman Rio..!" Ucap Gerhana.


"Gak Pah, Rio masih hidup, dia masih hidup," jawab Riani.


Diluar ruangan terlihat seorang lelaki yang sedang tersenyum penuh kemenangan menatap pintu kamar dimana Rio dirawat.


***


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di panti asuhan Fino terlihat gelisah, dia bahkan tidak sarapan tadi pagi, siang pun hanya minum segelas susu saja, itu membuat Kalisa sangat khawatir.


"Fino, makan yuk..! Kamu mau makan sama apa, Bunna masakin ya?" Bujuk Kalisa.

__ADS_1


"Gak Bunna, Fino gak lapel, Fino tidak enak hati, Fino mimpi buluk telus," jawab Fino (Rio).


"Sayang…, itu kan cuma mimpi dan kamu tidak usah memikirkan hal itu, ayo makan disuapin sama Bunna, Bunna gak mau kalau kamu sampai sakit," bujuk Kalisa lagi.


"Gak Bunna," jawab Fino yang masih dengan pendiriannya, dia malah melamun, kemudian dia bangkit dan berjalan menuju teras melihat langit disiang itu, sedikit mendung dan Fino pikir sebentar lagi pasti akan turun hujan.


"Bunna, angkat jemuran sekalang aja, mendung Bunna..!" Ucap Fino pada Kalisa.


Kalisa pun bangkit dari tempat duduknya, "hmm… iya, sepertinya mau hujan," jawab Kalisa.


Namun tiba-tiba tubuh Fino ambruk, bocah itu pingsan di samping Kalisa, tentu saja Kalisa panik dan langsung membawa anak itu ke dalam untuk dibaringkan diranjang.


"Fino bangun sayang…!" Ucap Kalisa sambil menepuk pipi anak itu pelan. Sepertinya dia pingsan karena belum makan dari tadi pagi, batin Kalisa.


Sudah setengah jam Fino pingsan dan akhirnya dia bangun, namun Kalisa merasa ada yang berbeda dengan anak itu. Merasa kalau itu bukanlah Fino yang dia kenal.


ditambah sama kerupuk, pelut Fino lapal," ucapnya pada Kalisa saat bangun.


Bukankah dia sudah tidak menyukai bayam, dia lebih suka ayam goreng dan jika pun makan sayur, dia lebih suka jika ditumis, kenapa Fino berubah-ubah begini, batin Kalisa.


"Bunna…," panggil Fino.


"Eh, iya Fino.. Bunna masakin dulu ya, kamu mau menunggu? Atau makan sama lauk yang ada?" Tanya Kalisa.


"Fino maunya sayul bayam," rengek anak itu lagi.


"Iya sayang…," jawab Kalisa.

__ADS_1


Kalisa beranjak ke dapur, dia mulai memasak apa yang Fino mau, itu sedikit membuat Kalisa tenang karena akhirnya anak balita itu mau makan. Dia kini tinggal menunggu sayur bayam itu matang, tak lupa dia menggoreng tempe juga, karena biasanya memang Fino suka.


Ternyata benar, anak itu lahap sekali makannya, tapi ada yang berbeda dengan anak balita ini, dia tidak bisa makan sendiri, dia mau makan disuapi Kalisa, dia mencoba makan sendiri menggunakan sendok namun hasilnya makanan itu berantakan dan Fino mengeluh, akhirnya dia minta disuapi oleh Bundanya.


Aneh, bukannya dia sudah mandiri? Bahkan mandi pun sendiri, kenapa dia mendadak berubah?, Batin Kalisa.


Benar saja, saat sore hari tiba Fino mandi dimandikan Kalisa, dia dipakaikan baju oleh bundanya itu, dia sama sekali tidak bisa melakukan itu sendiri, dia berubah kembali menjadi Fino seusianya, yang memang masih harus dibantu dalam segala hal.


"Emm Fino, bagaimana dengan sekolah, Fino mau Bunna daftarin sekolah disini aja?" Tanya Kalisa, mengingat sebentar lagi pendaftaran sekolah sudah dibuka, meski dia masih ingat kalau Fino ingin sekolah di kota.


"Sekolah? Fino kan masih kecil Bunna," jawabnya polos.


"Tapi, bukannya Fino sangat ingin sekolah seperti kakak-kakak disini?" Tanya Kalisa meyakinkan lagi.


"Boleh Bunna?" Tanya Fino dengan mata berbinar.


"Boleh sayang," jawab Kalisa sambil tersenyum.


***


Di Rumah Sakit, Riani yang tak hentinya menangis membuat Gerhana bingung, namun seketika tangisan itu berhenti saat Riani melihat kain penutup tubuh Rio terbuka, dia bisa melihat wajah Rio dengan jelas, matanya terbuka dan mulai berkedip.


"Astaga, liat Rio sadar Pah!" Teriak Riani.


Gerhana kaget bukan main, dia sampai mundur beberapa langkah, berbeda dengannya ternyata Riani malah langsung memeluk anaknya itu, dia merasa kalau ini adalah keajaiban. Tak henti-hentinya dia bersyukur dalam hati.


Bersambung …..

__ADS_1


__ADS_2