Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Riki Yang Cekatan


__ADS_3

"Ada apa ini Kalisa?" Tanya Riki.


"Ini Mas Felisha sepertinya mengalami pendarahan, bagaimana ini?" Tanya Kalisa dengan panik.


Riki membawa Felisha ke Rumah Sakit menggunakan mobil Felisha, meski jalanan masih macet tapi tidak separah sebelumnya karena korban kecelakaan tadi sudah dievakuasi, sementara mobil Riki dititipkan pada polisi lalu lintas tadi.


Tentu Kalisa dan Fino pun terpaksa ikut dengan mereka, Fino terlihat cemas karena dia juga tidak mau kehilangan bayi itu mengingat ada kemungkinan jika itu bayinya.


Aku sangat berharap bayi itu selamat, batin Rio.


"Ini sakit sekali, cepatlah!" Teriak Felisha.


"Sabar Fel, ini sebentar lagi sampai, sebaiknya kamu banyak berdoa agar bayi mu selamat..!" Ucap Kalisa.


Felisha tak menjawab, dia membuang muka, dia memilih mengelus perutnya yang sakit daripada mendengarkan nasihat wanita yang dia benci, dia juga merasa kesal karena Kalisa yang menolongnya bukan orang lain, bertahanlah..! Kamu harus kuat anakku, kamulah satu-satunya harapanku, batin Felisha.


Sebelum Felisha turun dia menyerahkan ponselnya pada Kalisa, "kamu telepon Mamah Riani dari ponselku, aku mau dia datang kesini!" Ucapnya dengan wajah meringis kesakitan, dia turun lalu dibantu naik ke kursi roda oleh beberapa perawat yang telah siap sedia karena Riki memberi kabar dulu kepada mereka sebelum tiba disana.


Kalisa menerima handphone itu dengan wajah bingung, bisa-bisanya Felisha meminta bantuan dengan cara seperti itu, tidak ada kata tolong atau maaf sebelumnya.


Menyebalkan, batin Kalisa.


Karena Kalisa tidak mau ada masalah lagi yang makin rumit, dia pun dengan segera menelepon sang ibu mertua.


"Hallo Fel, ada apa sayang?" Tanya ibu Riani disebrang sana, dia kira itu Felisha karena itu memang nomor ponsel Felisha.


Kalisa diam sejenak, sudah lama dia tidak dipanggil dengan nada lembut dan dipanggil sayang seperti itu, "Mah, ini Kalisa, aku mau kasih tahu mamah kalau Felisha ada di Rumah Sakit, dia mengalami pendarahan."


"Apa? Oke oke, mamah akan kesana sekarang, kamu temenin dia dan jaga dia ya Kalisa..!, mamah harap calon cucu mamah baik-baik saja," ucap Riani lalu memutuskan panggilan itu.

__ADS_1


"Ayo Fino kita turun, kita lihat keadaan Tante Felisha..!" Ajak Kalisa, Riki sudah lebih dulu pergi dari tadi mengingat dokter Riki lah yang membawa Felisha, diapun yang mengurus semuanya termasuk administrasi, lelaki itu begitu cekatan.


Kalisa masuk dia mencari Kalisa di ruangan IGD, dia hanya menunggu di luar ruangan saja sambil menunggu ibu mertuanya datang, setelah setengah jam berlalu Felisha di pindahkan ke kamar inap.


Bu Riani sepertinya mengalami kendala dijalan sehingga belum sampai juga.


"Bagaimana keadaan Felisha Mas?" Tanya Kalisa pada Riki.


"Untunglah bayinya masih bisa diselamatkan, hanya saja Felisha perlu istirahat total, dia harus bed rest," jawab Riki.


"Syukurlah," ucap Kalisa, Fino (Rio) juga mengucap syukur didalam hatinya karena bayi tak berdosa itu selamat.


Fino sudah mengantuk, bahkan dia hampir saja jatuh saat duduk dikursi tunggu, meski Rio terbiasa bergadang dengan setumpuk pekerjaanya namun dengan tubuh Fino yang balita dan membutuhkan istirahat malam itu, dia sangat tidak bisa menahan rasa kantuknya.


aku butuh kopi hitam, pikir Fino (Rio).


"Fino…," ucap Kalisa lalu menahan tubuh anak balita itu.


"Bunna, aku ngantuk," ucap Fino yang benar-benar tak kuasa menahan matanya.


"Iya sayang, sebentar ya, kita tunggu nenek dan kakek dulu..!" Jawab Kalisa, dia tidak mau kalau dituduh tidak bertanggung jawab dan meninggalkan Felisha begitu saja, setidaknya dia harus menunggu sampai ada yang bergantian menjaga Felisha, dia juga tidak enak meninggalkan Riki sendirian menunggu Felisha.


Wanita itu masih terbaring dengan mata terpejam, Kalisa masih tidak bisa menyembunyikan perasaannya kalau dia memang iri pada wanita itu, Felisha sedang mengandung anak Rio mendapat kasih sayang Rio, dan kini mertuanya juga menyayangi Felisha.


Dia lebih beruntung daripada aku, entah kenapa hidupku terasa tidak berarti, aku hanya punya Fino untuk aku perjuangkan, pikir Kalisa.


***


Setelah lama menunggu akhirnya Bu Riani datang dengan wajah paniknya, "Felisha…," ucapnya sambil menahan tangis, dia menghampiri wanita yang lemah itu, karena tidak mau mengganggu waktu istirathat menantunya itu, diapun menghampiri Kalisa.

__ADS_1


"Bagiamana dengan janinnya?" Tanya Bu Riani.


"Mamah gak usah khawatir, janinnya selamat," jawab Kalisa sambil menggendong Fino yang tertidur.


Riani menarik lengan Kalisa agar dia mau keluar dari ruangan itu, dia ingin mengajak berbicara empat mata, sementara Gerhana berbincang dengan Riki di dalam ruangan.


"Ada apa Mah?" Tanya Kalisa penasaran.


"Bagaimana bisa Felisha mengalami pendarahan? Apa itu semua gara-gara kamu yang iri dengan kehamilannya?" Tuduh Bu Riani.


Kalisa hanya tersenyum miris, entah mengapa dia selalu menjadi orang yang disalahkan, apa wajahnya itu seperti wajah pembunuh, wajah tukang selingkuh dan wajah wanita nakal.


"Ya ampun Mah, aku hanya membantunya saja," jawab Kalisa.


"Mamah heran kenapa kamu bisa bersama Felisha? Pasti ada kesengajaan," tanya Bu Riani semakin menyudutkan Kalisa.


Fino yang tertidur dengan posisi digendong itu sama sekali tidak terganggu dengan obrolan mereka, dia tertidur nyenyak, padahal Rio bisa saja membantu Kalisa dan membelanya, bukankah anak kecil tidak suka bohong dan selalu berkata jujur hingga bisa dipercaya.


"Aku gak sengaja Mah ketemu dia saat dijalan, itu saja, Mamah bisa tanyakan langsung pada dokter Riki tentang kronologinya, karena dia juga ada disana waktu itu..!" Jawab Kalisa.


Bersamaan dengan itu Gerhana dan Riki baru saja keluar dari ruangan Felisha.


"Ada apa Mah? Wajah Mamah sampai serius begitu, kalian membahas apa?" Tanya Gerhana.


"Hmmm, Mamah hanya ingin tahu kronologi Felisha bisa sampai pendarahan itu seperti apa, Mamah ingin tahu lebih jelas Pah," jawab Riani, lalu dia menatap Riki, "apa benar dokter Riki juga ada disana? Coba ceritakan, saya ingin tahu..!" Tanya Bu Riani.


"Maaf Bu, saya tidak tahu, saya datang setelah Felisha mengalami pendarahan," jawab Riki apa adanya.


Riani menganggap jika Kalisa berbohong padanya, padahal Riki memang tidak tahu kejadian itu, dia hanya tahu kalau pertemuan itu memang ketidak sengajaan dan Kalisa berkata jujur. dia menatap Kalisa dengan tatapan marah, dia melangkah mendekati wanita itu, Aku yakin dia yang menyebabkan Felisha celaka, batin Riani.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2