
Rio menoleh ke arah ibunya, "terpikir Bu, dan selalu kepikiran sampai terbawa mimpi, memikirkan bagaimana caranya agar diterima lagi oleh Kalisa, tapi sepertinya itu sulit. Aku sempat bertemu dia makan malam dengan seorang pria, entah dengan siapa karena tak begitu jelas," jawab Rio.
"Siapa tahu itu cuma saudaranya, kamu jangan menyerah dulu dong! Atau mau Mamah carikan wanita yang baik untuk calon istrimu?" Tanya Riani.
"Gak usah Mah, kali ini aku sudah berpikir dewasa, sudah menata masa depanku nanti. Biarlah aku yang memilah dan memilihnya Mah, berhasil tidaknya rumah tanggaku nanti itu kan pilihanku, tidak akan ada pihak yang aku salahkan," jawab Rio.
Riani mengangguk, dia tidak mau mengubah keputusan anaknya itu. Kali ini Riani juga melihat perubahan pada Rio, sudah saatnya dia memberikan kepercayaan penuh pada anak lelakinya.
***
Sementara itu di kediaman Husen, terlihat Kalisa sedang berbahagia. Dia menatap kartu undangan pernikahan yang kini dipegangnya. Husen juga sudah menyiapkan baju khusus untuk Kalisa, gaun yang indah untuk membuat acara pernikahan itu semakin meriah dan meninggalkan kesan tak terlupakan.
"Kamu begitu senang sekali, tersenyum mengembang begitu, lihatlah pipimu semakin terlihat menggemaskan," ucap Riki pada Kalisa, dia bahkan mencubit pipi chubby milik Kalisa.
"Ish, sakit tahu…, lihatlah..! Bukannya Mas juga senang, pasti berbunga-bunga deh hatinya," ucap Kalisa.
"Iyalah, aku senang akhirnya menemukan wanita yang akan mendampingiku sampai masa tuaku, memberiku keceriaan , kebahagiaan dengan ditambah hadirnya anak kecil nantinya," jawab Riki.
"ish, belum resmi menikah tapi sudah berbicara anak. itu masih jauh Mas," ucap Kalisa.
__ADS_1
Riki tersenyum, dia memeluk Kalisa dengan erat, "Makasih ya Kalisa…," ucap Riki.
Kalisa tak menjawab, dia hanya mengeratkan pelukannya. Tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat Husen berdiri memperhatikan keduanya, dia mengembangkan senyumannya dan sedikit air mata keluar dari sudut matanya karena merasa terharu.
Husen berjalan mendekat ke arah cucu-cucunya, "Kalian jagalah kesehatan dengan baik..! Kakek tidak mau kalian sakit di hari bahagia kita semua, Riki cutilah, Kamu tidak perlu mengkhawatirkan pasien-pasien itu, sudah ada yang menghandle semuanya!" ucap Husen.
"Hahaha… Mas Riki memang terlalu rajin Kek, sebaiknya kakek tutup kliniknya saja, percuma kalau kliniknya masih buka , pasti Mas Riki selalu penasaran ingin mengeceknya," jawab Kalisa.
Husen dan Kalisa tertawa begitu puas sementara Riki memandang mereka satu persatu dengan pandangan tidak bersahabat.
***
Tiga hari berlalu, ibu Panti yang mendapatkan undangan pernikahan. Dia mengusahakan untuk datang mengingat kebaikan Riki yang selalu memberikan pemeriksaan gratis pada anak panti dan Husen yang selalu memberikan dana untuk keperluan anak panti sehari-hari.
"Kita mau kemana Bu?" Tanya Fino.
"Ketemu Bunna, Fino pasti senang kan?" jawab ibu Fatimah.
"Fino senang Bu, tapi apakah Bunna akan senang kalau Fino datang?" Tanya Fino.
__ADS_1
"Tentu saja, Bunna kan begitu sayang sama Fino, pasti dia rindu sama Fino," jawab Bu Fatimah meyakinkan anak itu.
"Tapi Bunna gak pernah ngajak Fino lagi, Fino selalu ditinggal bersama ibu dan teman-teman. Padahal Fino ingin dekat sama Bunna telus," jawab Fino.
Bu Fatimah diam sejenak, ya… dia berada di posisi yang serba salah. Disatu sisi dia kasihan dengan mereka yang tidak bisa tinggal bersama, tapi dia juga tidak bisa memberikan izin begitu saja pada Kalisa mengingat penculikan itu.
"Bunna sayang banget kok sama kamu Fino," jawab Bu Fatimah kemudian memeluk balita itu dengan erat. Ya… terlihat Fino mulai menangis.
Bu Fatimah merasa bersalah, seakan dialah yang menjadi penghalang mereka berdua tak bisa bersama. Tapi sudah prosedur Panti jika Kalisa harus mengadopsi Fino dulu baru bisa membawa Fino kemanapun Kalisa mau.
Selama perjalanan Fino tertidur, dia bangun saat mobil itu sampai di depan gedung pernikahan yang megah. Fino begitu terlihat tidak sabar ingin menemui Kalisa, anak itu begitu merindukan Bunnanya. Kali ini Fino tidak mau menyembunyikan rasa rindunya seperti hari-hari kemarin karena merajuk pada Kalisa.
"Bu, Bunna mana?" Tanya Fino yang celingukan, dia berjalan dengan memegang tangan Bu Fatimah karena disana terlalu ramai. Fino tidak mau tersesat di tempat seluas dan seramai itu.
"Di sana, kita kesana yu..!" Ajak Bu Fatimah sambil menunjuk ke arah pelaminan.
Fino yang tak sabar, dia menarik lengan Bu Fatimah dengan semangat. Bu Fatimah mengimbangi Fino yang malah berlari, hampir saja dia jatuh karena Fino malah berlari kencang.
Tibalah mereka di atas pelaminan, Kalisa tersenyum melihat kehadiran anak balita itu. Fino tak ragu dan tak sedingin kemarin, dia malah langsung memeluk Kalisa.
__ADS_1
"Bunna…, Fino kangen. Bunna cantik sepelti cindelela," ucap Fino yang begitu menggemaskan.
Bersambung …