Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Apa mungkin Riki pelakunya seperti apa yang aku impikan beberapa hari yang lalu? Tapi… rasanya dia tidak mungkin sampai sebodOh itu, batin Rio.


"Sebaiknya Papah usut sampai tuntas Pah!" Ucap Rio.


"Tentu saja, Papah akan memastikan orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Gerhana.


"Bila perlu hukuman m@ti saja Pah, ini kan kejahatan yang terencana," ucap Riani geram.


"Kita selidiki dulu ya Mah, tapi Papah harap sih itu murni kesehatan Rio yang sedang menurun, Papah tidak tega mendapati anak kita menjadi korban percobaan pembunuh@n," jawab Gerhana.


Mereka semua tampak diam dengan pemikiran masing-masing, Riani berpikir jika Felisha ada dibalik semua ini, dia berniat untuk mendatangi menantunya itu. Awas saja kalau memang benar dia orangnya, batin Riani.


Belum sempat Riani mengungkapkan rasa curiganya itu pada suami dan anaknya, dia melihat sosok wanita yang dia pikirkan kini berjalan ke arah mereka yang sedang sarapan. Riani begitu kaget bukan main, rasanya dia tidak memberitahu soal Rio, tapi kenapa wanita itu bisa datang ke kediaman keluarganya? Itulah yang membuat Riani heran.


"Kak Rio…, sayang…," teriak Felisha yang berjalan mendekat, kemudian dia memeluk Rio dengan erat. Wanita itu tidak tahu kalau Rio sudah mengetahui perselingkuhannya dengan Gani.


"Hmm, aku susah bernafas kalau kamu memelukku begitu erat," protes Rio.


"Ah maaf, kamu jahat sih gak ngasih tahu aku kalau kamu udah sadar bahkan sembuh dan sehat seperti ini," protes Felisha.

__ADS_1


Terlihat Rio sudah memasang wajah marah, tapi Riani memberi kode dengan menggelengkan kepalanya agar Rio tidak tersulut emosi, agar dia berpura-pura tidak tahu apapun sampai anak itu lahir. Sepertinya aku akan muak setiap hari bertemu dengan Felisha bahkan harus berakting , batin Rio.


"Sebenarnya aku ingin memberi kejutan pagi ini, tapi kamu malah tahu lebih dulu, sayang sekali," ucap Rio beralasan.


"Berarti aku yang menggagalkan kejutan ini dong, maaf ya…!" Ucap Felisha dengan wajah kecewa, padahal dia lebih senang kalau Rio masih koma di Rumah Sakit. Mereka berdua kini sedang beradu akting, hehe...


"Gapapa sayang…," jawab Rio dengan terpaksa masih berusaha memanggilnya dengan panggilan sayang.


Riani dan Gerhana bangkit, mereka akan pergi meninggalkan Felisha dan Rio, mereka tidak ingin terlibat percakapan suami istri itu, Riani mengantar gerhana sampai ke gerbang depan.


"Sayang coba deh elus perutku..! bayi kita pasti ikut senang dengan kesembuhan ayahnya, anak kita sepertinya sudah bosan dengan mobil merah, dia ingin naik mobil baru keluaran baru sayang pasti keren," Ucap Felisha.


Apa? Dia sengaja ingin meminta mobil baru? Oh astaga baru juga sembuh, udah ditodong aja, jelas terlihat kalau dia memang hanya memanfaatkanmu saja, batin Rio.


"Hahaha, dua dua nya sayang, boleh kan?" Bujuk Felisha sambil bergelayut manja, jika dulu Rio akan langsung menurutinya, berbeda dengan saat ini, itu tidak berhasil membuat Rio berkata iya.


"Sayang, mobil mu itu masih bagus, nanti ya kalau aku sempat, aku akan menemanimu pergi memilih mobil baru," jawab Rio.


"Ih kok gitu sih, aku bisa kok beli sendiri kalau kamu sibuk," jawab Felisha.

__ADS_1


Bilang saja kalau kamu mau pergi sama Gani, batin Rio.


"Jangan dong sayang, nanti apa kata orang saat melihat seorang istri yang hamil pergi sendirian tanpa suami, apa kamu mau aku di cap suami kejam?" Tanya Rio.


Felisha pun menyerah, dia lelah membujuk Rio, padahal dia ingin pamer mobil baru kepada semua teman-teman sosialitanya. Wanita itu semakin kesal tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.


***


Sementar di Panti asuhan terlihat Kalisa berpamitan, dia sedih karena harus meninggalkan tempat yang telah dianggapnya rumah sendiri. Kalisa memandang Fino dan tak bisa menahan air matanya, dia lebih sedih karena harus meninggalkan Fino di Panti. Bunna harap kamu baik-baik saja Fino, Bunna pasti akan datang untuk menjemputmu, menjadikanmu anak Bunna dan membawamu hidup bersama Bunna, tunggu Bunna ya Fino..! Batin Kalisa.


Akhirnya Kalisa pergi melambaikan tangannya pada semua orang, dia pergi menggunakan mobil hitam mewah yang terparkir di halaman Panti.


"Kalisa, apa kamu siap pindah rumah?" Tanya Riki.


"Siap Mas, hanya saja aku masih belum rela meninggalkan tempat yang pernah menjadi penyelamatku," jawab Kalisa.


"Kita kan bisa kesini lagi dilain waktu, kapanpun kamu mau," jawab Riki.


"Hmm, iya…, aku juga masih belum percaya dengan semua ini, aku belum percaya kalau hari ini aku akan menemukan kebahagiaan, dan kehangatan keluarga," jawab Kalisa sambil tersenyum.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Kalisa tidak berbicara apapun lagi, dia diam dengan menatap jalanan yang dia lewati, sama hal nya dengan jalan hidupnya yang sulit ditebak. Satu hal yang dia ingat, kalau dia harus selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya, selalu berusaha merelakan apa yang memang bukan miliknya, seperti halnya Rio. Lelaki yang dicintainya namun tidak bisa dia miliki, Kalisa juga tidak mengerti kenapa hatinya masih tertuju pada Rio meski dia disakiti berkali-kali.


Bersambung ….


__ADS_2