
Rio dengan terpaksa bergegas pergi ke rumahnya bersama sang ayah. Rio mengkhawatirkan ibunya, dia sebenarnya tidak begitu peduli dengan Felisha mau mati sekalipun Rio benar-benar tidak khawatir.
"Jadi sebenarnya ini ada apa Rio?" Tanya Gerhana yang sudah ada di dalam mobil.
"Mamah Pah, Mamah bilang tadi ketakutan. Mamah bilang–," ucap Rio yang tak sempat ia teruskan karena hampir saja dia menabrak pengendara lain karena membawa mobil dengan cepat.
"Hati-hati dong Rio, kamu fokus saja menyetir!" Ucap Gerhana.
"Iya, maaf Pah," jawabnya.
Lima belas menit kemudian mereka akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju. Rio langsung berlari menuju rumah, membuka pintu dengan kasar.
"Mah…," teriak Rio.
Terlihat ibunya berlari dari balik pintu, wajahnya ketakutan sambil menggendong bayi. Riani berlari menuju suaminya, bersembunyi dibalik tubuh besar Gerhana.
Gerhana membalikan badannya dan mulai bertanya karena merasa bingung dengan keadaan sang istri. "Kenapa Mah, sebenarnya ada apa ini?"
"Felisha mengamuk Pah, dia mau membawa bayi ini mati bersamanya, dia mau melakukan aksi bunuh diri Pah," jawab Riani dengan cepat. Wanita itu tidak rela bayi yang digendongnya akan celaka. Apalagi mati ditangan sang ibu. Felisha sepertinya mengalami baby blues yang cukup parah, mungkin dia yang lemah tidak sanggup menanggung beban hidupnya sekarang.
Rio mendekati kamar Felisha, disana sudah ada dua asisten rumah yang memegangi lengan Felisha agar tidak melakukan hal yang membahayakan.
"Rio, hei… lelaki so suci! Kamu pikir kamu lelaki baik hah? Kamu dengan teganya menghakimiku seperti ini. Kamu ingin aku pergi bukan? Oke, aku akan pergi selamanya bersama anakku, biarkanlah aku pergi Rio!" Ucap Felisha dengan mata melotot.
__ADS_1
Tiba-tiba Felisha ambruk dan menangis, menangis sejadi-jadinya, kemudian dia tertawa. Sungguh aneh dan mengerikan. Rio dengan cepat menelpon dokter keluarga agar mau datang ke rumahnya. Dia tidak mungkin membawa Felisha ke Rumah Sakit dalam keadaan tak terkendali seperti ini.
Dikamar itu Rio menugaskan hingga 4 orang pekerja yang ada dirumah untuk menjaga Felisha agar tidak melakukan hal yang membahayakan. Sementara itu Rio menunggu kedatangan dokter di ruang tamu bersama ibu dan ayahnya.
"Rio bagaimana ini? Anak ini terus saja menangis. Sepertinya dia merasakan kesedihan ibunya," ucap Riani.
"Aku juga tidak berpengalaman Mah, seharusnya Mamah lebih tahu," jawab Rio.
"Cobalah kamu gendong sebentar, siapa tahu kalau sama kamu dia diam," ucap Riani.
Benar saja, anak itu diam di pangkuan Rio. Aku ini bukan ayahmu, kenapa kamu sangat ingin aku gendong? Batin Rio. Lelaki itu menatap bayi itu fokus ke kedua bola matanya. Tapi anak itu malah tersenyum menggemaskan, membuat Rio meleleh dan membalas senyuman bayi itu. Aroma bayi itu juga menenangkan, Rio menyukainya.
***
Rio mendengarkan sambil menunduk, dia merasa bersalah karena telah memperlakukan Felisha cukup keras. Padahal dia bisa berbaik hati memberikan kesempatan, memberikan wanita itu rumah yang layak dan kebutuhan selama dia belum mampu bekerja.
"Jadi , sebaiknya Felisha dirawat disini saja Dok?" Tanya Riani.
"Iya, karena ini baru pertama kali jadi dirumah saja dulu, kalau sudah membahayakan yang lain. Kalian bisa mencoba membawanya ke Rumah Sakit..! Usahakan bersikap lembut dan beri perhatian ekstra, karena kebanyakan ibu depresi seperti ini karena beban batinnya..!" Jawab sang dokter.
Rio mengangguk, Riani juga mengerti dengan. Keadaan Felisha. Dia akan merawat Felisha dan bayi itu dirumah ini, dia mengajak Gerhana menginap di rumah Rio. Pada akhirnya mereka semua akan menginap dan tinggal beberapa hari dirumah itu.
Percuma aku membawa baju-bajuku tadi, batin Rio.
__ADS_1
Saat malam hari, Felisha mengamuk lagi. Dia bahkan tidak mau menyusui bayinya. Riani juga khawatir memberikan bayi itu pada ibunya disaat kondisi Felisha tidak stabil seperti itu. Dengan terpaksa bayi yang bernama Syahla itu diberikan susu formula atas keputusan bersama setelah berbicara dengan dokter keluarga.
Seminggu berlalu, keadaan Felisha semakin kacau. Dia sempat melukai tangannya sampai berdarah, wanita itu benar-benar sudah melakukan aksi bunuh diri untuk yang kesekian kalinya. Rio dan keluarga merasa kewalahan sekaligus kasihan, tapi tidak ada cara lain.
Akhirnya Felisha dibawa ke rumah sakit jiwa, tentu keluarga Riani tidak akan melepaskan tanggung jawab Felisha begitu saja. Wanita itu akan menjenguk Felisha dengan rutin, berharap keluarga Felisha datang mencari dia sehingga merekalah yang mengambil keputusan terbaik.
***
Tiga bulan berlalu, Rio tetap mengurus perceraiannya dengan Felisha. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan wanita itu, meski begitu… dia memperlakukan Syahla dengan penuh kasih sayang. Rio begitu menyukai balita sekarang, awalnya dia benci dengan anak kecil karena tangisan yang membuat telinganya sakit.
"Syahla, kita pergi jalan-jalan ya sama nenek," ucap Rio pada Syahla sambil tersenyum, dia mendorong roda bayi itu menuju mobilnya. Sementara Riani berjalan mengikuti Rio dari belakang.
Mereka sampai di toko peralatan bayi, banyak juga baju lucu yang berjejer disana. Mata Rio dan Riani begitu berbinar melihat itu semua.
"Apa kita beli saja semuanya Mah?" Tanya Rio.
"Ish, kamu ini. Pilih saja yang paling bagus dan cantik, yang cocok dengan Syahla..!" Jawab Riani.
"Syahla, bagaimana dengan pilihan baju yang ini, cantik kan? Anak Papah pasti akan sangat cantik memakai ini, hmm…," ucap Rio memegang satu set baju anak. Tanpa Rio sadari ada wanita disampingnya yang memperhatikan dan mendengarkan apa yang Rio katakan.
"Dia anakmu Mas?"
Rio pun menoleh ke arah sumber suara, dia dibuat terkejut oleh sosok wanita yang kini dia tatap. Dia pun bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Bersambung….