Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Tak Sengaja Bertemu


__ADS_3

Kalisa yang merindukan Fino. Dia memaksa Husen untuk pergi bersamanya, tentu Kalisa ingin Husen memberikan sumbangan pada Panti kemudian dia bisa punya kesempatan bertemu Fino.


"Apa tidak akan mencurigakan? Biasanya kakek memang memberikan dana bantuan untuk panti itu setelah berhasil menemukan kamu di Panti itu, tapi kakek selalu menyuruh bawahan kakek untuk mengantarkan semua perlengkapan anak-anak disana, uangnya juga kakek transfer saja biar cepat," ucap Husen.


"Kek, ayolah … ini demi aku, cucu kakek..!" Jawab Kalisa melingkarkan tangannya di lengan sang kakek. Dia mengedip-ngedipkan matanya dengan manja.


"Oh astaga, siapa yang mengajarimu menggoda seperti ini?" Tanya kakek.


"Ih kakek nyebelin," jawab Kalisa.


Ya, Kalisa memang bukan tipe wanita manja dan genit seperti itu. Dia lebih terkesan cuek, mandiri dan apa adanya. Tapi demi Fino, dia rela merayu kakeknya atas perintah Riki, dia diajari kakaknya itu.


"Jangan lakukan itu pada pria lain oke!" Ucap Kakek Husen.


"Siapa juga yang mau melakukan hal tadi lagi, itu menggelikan, cukup sekali saja kek karena mendesak. Ternyata gak manjur juga, berarti mas Riki bohong sama aku kek," jawab Kalisa tanpa rasa bersalah, padahal Riki sudah mewanti-wanti agar dia tutup mulut masalah ini.


"Oh jadi Riki, nanti kakek hukum dia! Beraninya dia membuat cucu kakek menjadi wanita penggoda," ucap Kakek Husen.

__ADS_1


Kalisa yang sadar telah membawa Riki dalam masalah besar. Dia berusaha membujuk kakeknya agar tidak memarahi kakaknya. Dia berjanji tidak akan mempraktekan hal tadi pada pria lain, kecuali suaminya nanti.


"Hahaha… , gapapa sayang. Kakek gak semarah itu. Pokoknya kamu harus bisa jaga diri ya, jangan sampai menggoda pria asing seperti tadi..!" Ucap Husen.


Kalisa mengangguk pelan, kemudian dia memeluk kakeknya itu. Dia merasa dikerjai, tapi dia senang karena memiliki keluarga yang bisa mengajaknya bercanda seperti ini.


***


Tibalah mereka di panti asuhan. Dimana Kalisa dan Fino dulu pernah tinggal bersama disini, kenangan itu masih melekat di ingatan Kalisa. Membuat sudut matanya kini mengeluarkan air mata yang tertahan, Kalisa tidak boleh menampilkan wajah sedih didepan Fino.


Husen yang sibuk dengan ibu panti. Para pengasuh juga sibuk membereskan barang-barang yang dibawa kakek Husen. Saat itulah Kalisa pergi menemui Fino dikamarnya. Tapi sayang, anak itu masih tidak mau bertemu Kalisa kalau dia tidak membawanya ikut dengannya ke luar kota.


"Sayang…, masa Bunna gak boleh kangen sama Fino, peluk Fino, gendong Fino sih?" Tanya Kalisa.


"Boleh, tapi Bunna janji bawa Fino pulang baleng sama Bunna, janji?" Tanya Fino.


"Fino…, Bunna janji tapi bukan hari ini sayang," jawab Kalisa.

__ADS_1


"Tuh kan, Bunna jahat!" Ucap Fino berlari kemudian menaiki kasur dan menyelimuti tubuhnya.


Dengan berat hati Kalisa kembali menemui sang kakek. Dia merasa gagal lagi membujuk Fino, padahal dia sudah sangat merindukan anak itu. sesaat Kalisa dikejutkan dengan kehadiran seseorang laki-laki yang sedang berbicara dengan Husen.


Kalisa menghampiri mereka lebih dekat, "mas Rio, ngapain disini Mas?" Tanya Kalisa.


"Memangnya cuma kamu saja yang boleh kesini? Hmm… aku hanya ingin memberikan sedikit rezeki pada anak-anak disini, sekaligus menemui Fino," jawab Rio.


"Bukan begitu Mas, hanya saja aku baru tahu kalau kamu sering kesini," ucap Kalisa.


"Aku sering kesini kok, mungkin kebetulan kita tak pernah saling bertemu saja, waktu kita berkunjung kesini selalu berbeda," jawab Rio. Lelaki itu senang sekali saat tahu Kalisa juga ada disini, tapi dia berusaha menyembunyikan rasa bahagianya. Dia berusaha bersikap senormal mungkin.


Rio menemui Fino dan Kalisa dibuat terkejut lagi melihat Fino yang mau diajak Rio bermain. Kini Kalisa melihat mereka bermain bola bersama di halaman panti. Hati Kalisa merasa sakit melihat Fino lebih dekat dengan Rio dan malah menjauhinya. "Anak itu kenapa lebih suka pada Rio daripada aku?" Gumamnya.


Terlihat Rio layaknya seorang ayah yang sedang mengajak bermain anak kandungnya sendiri. Terlihat mereka begitu dekat, bahkan terdengar canda tawa mereka, Kalisa tersenyum melihat pemandangan itu.


"Andai saja, andai saja aku bisa mengadopsi Fino bersamamu Mas, tapi… ada Felisha dan bayi itu yang lebih berhak atas dirimu. Aku tidak mau merusak kebahagiaan orang lain demi keegoisanku. Biarkan waktu yang menjawab semua keinginanku, biarlah nanti ada jalan dimana aku bisa membawa Fino pulang entah itu bagaimana caranya," gumam Kalisa memandang dua lelaki yang sangat berarti untuknya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2