
Tiba-tiba terdengar suara Felisha yang baru saja kembali, ternyata ada barangnya yang tertinggal, membuatnya terpaksa kembali ke rumah. "Apa maksud kamu hah? Jangan pengaruhi suamiku, dia udah bahagia denganku, apalagi sebentar lagi akan ada anak diantara kami! Kamu pikir kamu bisa terbebas dari jeratan hukum setelah apa yang kamu lakukan?" Ucap Felisha.
"Sayang, apa kamu mau memaafkan orang yang telah mencelakai kamu, tidak kan?" Tanya Felisha.
Riki menunduk, dia kini merasa tidak yakin kalau Rio akan menerima kerjasama ini setelah mendengar Felisha berbicara. Sementara Rio tampak sedang berpikir kembali.
"Iya istriku benar, aku tidak mau jika suatu saat kamu mencelakaiku lagi, dan memang segala sesuatu itu harus ada konsekuensinya kan? Aku akan tetap melanjutkan kasus ini," jawab Rio yakin.
Akhirnya Riki pulang dengan lunglai, dia berpikir jika Rio memang lelaki yang masih labil, buktinya tadi dia seakan ingin menerima tawaran darinya, tapi setelah dipengaruhi Felisha dia menuruti istrinya itu.
"Sepertinya aku memang harus menjalani hukuman itu," gumam Riki.
***
Riki akhirnya sampai di rumah, dia berjalan dengan lunglai. Hingga ada seseorang yang bertanya yang membuyarkan lamunannya.
"Mas dari mana?" Tanya Kalisa.
"Eh, kamu udah pulang?" Tanya Riki.
"Ditanya malah balik nanya, hemm…, iya aku sudah pulang dan membawa Fino juga, hehe…," jawab Kalisa.
"Wah, asyik dong. Berapa hari Fino menginap?" Tanya Riki.
"Cuma dua hari Mas, tapi ya setidaknya aku bisa membawanya tinggal disini meski sebentar," jawab Kalisa.
__ADS_1
Riki mengangguk, setelah itu dia pergi ke kamarnya tanpa mengatakan hal lainnya. Kalisa yang melihat tingkah kakaknya yang aneh pun dibuat penasaran. Kalisa akan menanyakan hal ini pada sang kakek.
"Bunna…, Fino mau pipis," panggil Fino dari arah belakang. Kalisa yang kaget pun langsung menoleh. Wanita itu dengan senang hati mengantar anak balita menggemaskan itu ke toilet. Kalisa sempat merasa heran dengan sikap Fino yang berubah manja lagi, padahal dulu sudah mandiri.
Mungkin dia merasa takut karena mimpi-mimpi yang buruk beberapa hari lalu, jadi selalu ingin ditemani terus. Aku tidak boleh berpikir aneh-aneh..! Dia masih Fino ku, batin Kalisa.
Karena sibuk dengan Fino bahkan Kalisa melupakan keanehan Riki sebelumnya, dia juga mengira jika kakeknya itu telah mengurus kasus Riki dan membantunya sehingga Kalisa tidak perlu khawatir. Ya... kakeknya pernah berkata begitu padanya.
***
Di hari kedua Fino menghilang saat mereka sedang bermain di taman kota. Hari itu Kalisa ingin mengajak Fino jalan-jalan, tapi dia malah kehilangan jejak anak itu.
"Fino…, Fino…," teriak Kalisa.
Fino, kamu dimana sayang? Batin Kalisa.
Wanita itu terus mencari keberadaan Fino, dia yang bingung pun mencari bantuan, dia mencoba menelpon kakeknya.
"Kek…, Fino hilang, apa kakek bisa mengirim beberapa orang untuk mencari Fino?" Tanya Kalisa.
"Baiklah…, kamu jangan kemana-mana dulu ya!" jawab kakek Husen.
Riki yang mendengar jika Kalisa sedang kesulitan, dia pun pergi menemui Kalisa dan berniat mencari Fino. Tapi ternyata Kalisa pun ikut menghilang. Astaga, kemana mereka pergi? Kenapa jadi hilang dua-duanya, batin Riki.
Ternyata Kalisa diculik, bahkan di dalam mobil itu sudah ada Fino yang terikat tali, mulutnya disumpal dan dia tampak menangis ketakutan.
__ADS_1
Fino…, sabar ya sayang..! Kamu pasti kuat, Bertahanlah..! Batin Kalisa.
Kalisa hanya bisa menatap anak itu, dia pun sama dalam keadaan terikat, jika tidak maka dia sudah berhambur memeluk anak itu untuk menenangkannya. Kalisa takut jika Fino akan trauma. Dia memberontak dan terus memberontak agar dilepaskan. Tapi itu sia-sia, entah kemana mereka dibawa pergi, yang jelas Kalisa lebih mengkhawatirkan keadaan Fino yang menangis daripada dirinya sendiri.
Bertahanlah sayang, kita pasti akan selamat..! Batin Kalisa.
Kalisa berusaha agar tubuhnya bisa mendekat ke arah Fino, dia bekerja keras untuk menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit, hingga dia berhasil dengan keringat yang bercucuran. Fino menyandarkan kepalanya pada lengan Kalisa, dia masih dalam keadaan menangis. Tangan mereka tak mampu untuk sekedar saling menggenggam, tapi Kalisa berusaha membuat Fino lebih tenang dengan kehadirannya.
Setelah sampai mereka dibawa ke suatu tempat, rumah sederhana tapi luas, rumah yang lumayan terawat. Mereka dikurung didalam satu kamar, Kalisa sangat bersyukur dia bisa satu ruangan dengan Fino.
Kemudian munculah sesosok wanita yang tersenyum jahat, dia membawa beberapa berkas. Dia memandang Kalisa dengan tatapan benci, "buka talinya..! Biarkan tangan kanannya terlepas agar bisa menandatangani surat ini!"
"Baik Nyonya," jawab lelaki bertubuh besar itu.
Kalisa yang masih disumpal mulutnya itu tidak bisa mengeluarkan rasa amarahnya, tidak bisa memaki wanita yang ada dihadapannya.
"Tanda tanganilah jika kamu ingin selamat!" Ucap wanita itu.
Kalisa menggelengkan kepalanya, dia tahu kalau ini pasti surat perjanjian yang akan merugikannya.
"Cepatlah! Apa kamu mau aku menyakiti anak kecil imut ini hah?," ancam wanita itu.
Kalisa bingung, dia tidak bisa membiarkan Finonya terluka. Dia membaca dokumen yang ada di hadapannya sekarang. Dokumen itu diletakan di lantai dekat dengannya, dia membulatkan matanya karena tidak percaya dengan isi perjanjian itu. Aku tidak mau melakukannya, tapi bagaimana dengan Fino? Batin Kalisa.
Bersambung ….
__ADS_1