
Riki benar-benar pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Rio. Sementara itu di sana sudah ada seseorang yang mengintai mereka, melaporkan apa yang sedang terjadi saat ini pada seseorang lewat sambungan telepon.
"Sepertinya mereka bertengkar Bu, mereka tidak melakukan kesepakatan apapun," ucap lelaki itu.
"Bagus kalau begitu, kamu sekarang ikuti kemana pun Rio pergi!" Ucap seorang wanita di seberang sana.
"Baik Bu," jawab lelaki itu dan kini dia mulai beranjak pergi untuk mengikuti mobil Rio dari belakang.
Rio memilih pulang ke rumahnya untuk mengecek Felisha, mencari tahu apa yang wanita itu lakukan. Dia curiga karena biasanya Felisha akan selalu mengganggunya dengan menelpon saat Rio ada diluar dengan berbagai alasan terutama mengatas namakan bayi yang ada dalam perutnya itu, tapi akhir-akhir ini rasanya berbeda.
Mobil itu melaju cukup kencang, lelaki yang mengikuti Rio pun tak ingin kehilangan jejak, dia ingin menelepon majikannya kalau Rio melajukan mobil itu ke rumahnya sendiri, tapi telepon itu tidak diangkat. Beberapa kali mencoba tetap saja telepon itu tidak diangkat. Lelaki itu pun mengirimkan pesan teks.
Rio yang kaget saat di parkiran rumahnya ada mobil asing, dia langsung curiga kalau Felisha sedang bersama selingkuhannya itu. Rio sudah emosi ingin memukul pria itu, dia bukannya cemburu, hanya saja ingin melampiaskan kekesalannya di masa lalu. Karena kehadiran selingkuhan Felisha ini juga Rio menjadi galau tentang bayi yang ada di dalam perut Felisha.
Rio melangkah dengan cepat, dia tidak sabar rasanya memergoki mereka. Tapi yang terdengar bukanlah kata-kata romantis melainkan suara pertengkaran.
"Bukannya aku sudah mentransfer uang padamu waktu itu 20 juta, aku tidak punya uang sebanyak itu di tabunganku aku hanya mendapatkan jatah bulanan dari Rio dan itu hanya cukup untuk kebutuhanku," ucap Felisha.
"Aku tidak mau tahu, kamu kan bisa merayu Rio. Dia kan lelaki bodoh yang tertipu dengan kecantikanmu. 200 juta itu uang yang sedikit untuknya!" Jawab Gani.
"Iya aku tahu, dulu memang Rio tidak akan masalah jika aku meminta uang banyak. Tapi sekarang berbeda Gan. Rio sepertinya sudah berubah karena perempuan kampung itu," ucap Felisha.
"Pokoknya aku akan memberimu waktu satu Minggu, kalau tidak, maka aku akan mengatakan padanya kalau bayi di perutmu itu kemungkinan adalah anakku, apa kamu mau?" Ancam Gani.
"Apa kamu b0doh? kalau kamu mengatakan itu kamu juga tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Felisha.
__ADS_1
"Tapi setidaknya kita berdua tidak mendapatkan apa-apa. Aku merasa kamu sekarang enak sendiri, dan kamu mulai melupakan aku. Apa karena karirku yang jatuh? Cih semua wanita memang selalu memandang harta," ucap Gani.
"Sudahlah, lebih baik kita bicarakan nanti saja, aku takut Rio akan datang!," ucap Felisha dengan lantang.
Rio keluar dari tempat persembunyiannya, dia melangkah dengan cepat. "Memangnya kenapa kalau aku datang? Apa aku mengganggu kalian, ini Acara keluarga bukan?" Tanya Rio. Memang Gani diakui sebagai sepupu oleh Felisha dan dulu betapa b0dohnya Rio malah percaya begitu saja.
"Sayang, kamu sudah pulang, Katanya mau di rumah mamah seharian?, Eh iya… ini Gani mampir sebentar dan dia mau pulang sekarang. Iya kan Gani?" Tanya Felisha dengan sedikit penekanan.
Gani menatap Felisha dengan sorot mata yang tajam, lalu dia memalingkan wajahnya beralih menatap Rio. "Iya, aku ada urusan dan aku pamit sekarang ya?, semoga proses melahirkan nanti lancar Fel," ucap Gani kemudian pergi. Lelaki itu tidak bisa melakukan apa-apa saat ada Rio. Dia sedang terpuruk dan memerlukan bantuan dana dari Felisha juga Rio, dia berusaha sabar dan mengalah saat ini.
Ingin rasanya aku memukul wajahnya saat ini juga, tapi aku harus mencoba menahannya, ini bukan waktu yang tepat, batin Rio.
Felisha mengajak Rio ke dalam kamar dan mencoba menyenangkan suaminya itu, menawarinya pijatan. "Tidak usah, kamu kan sedang hamil, aku mau istirahat saja," ucap Rio kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
***
Sabar, sabar Rio! Kamu harus menyelesaikan semuanya satu persatu, jika dilakukan bersamaan ini akan semakin rumit, batin Rio.
"Maaf tuan Rio, ini ada surat," ucap Bi Nani memberikan surat dengan amplop coklat.
"Surat, hmm… coba saya lihat Bi," jawab Rio dengan rasa penasarannya, dia menegakkan tubuhnya yang sedari tadi disandarkan di kursi.
Rio membuka surat itu begitu terburu-buru. Lelaki itu begitu penasaran, hingga tak sengaja hampir saja merobek isi surat didalamnya. Tatapan Rio berubah, matanya mulai basah, tapi dia menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Apakah Kalisa benar-benar ingin mengakhiri ini semua? Aku yang salah menilai jika perasaan Kalisa masih sama, ternyata sikapku yang menyakitinya itu membuatnya menyerah kali ini, jika memang dia akan menemukan kebahagiaan bersama yang lain. Maka aku akan merelakannya," gumam Rio.
__ADS_1
Felisha yang berada dibalik dinding sambil mengintip, dia tersenyum senang karena telah berhasil membuat Rio juga menyerah pada Kalisa. ya... itu surat cerai yang diajukan Kalisa dan ditandatangani oleh Kalisa secara paksa.
***
Sementara itu di kediaman Husen. Riki yang masih kesal dengan sikap Rio, dia memijat pelipisnya. Dia pusing memikirkan semua hal buruk yang menimpanya. Dari mulai kasus pembunuhan, Kalisa yang hilang dan Rio yang ternyata tidak bisa diandalkan.
Tiba-tiba telepon Riki berdering, terlihat di layar kalau itu panggilan dari ibu Panti. Riki teringat jika hari ini seharusnya dia mengembalikan Fino ke panti. Setelah berbasa-basi Riki begitu sulit menceritakan kejadian yang sebenarnya pada ibu panti.
"Dokter Riki, jadi kapan Fino kembali kesini? Saya akan menunggu sampai malam karena waktunya memang hanya dua hari," ucap ibu Panti.
"Bagaimana ya Bu, saya belum bisa mengantarkan Fino hari ini," jawab Riki.
"Loh, memangnya kenapa, apa Fino sakit?" Tanya ibu Panti.
"Sebenarnya…, fi-no…, Fino hilang Bu, sa-saya belum menemukannya," jawab Riki terbata-bata.
"Apa? Ibu benar-benar kecewa pada kalian, harusnya kalian bisa menjaga Fino dengan baik, ibu harap dokter bisa menemukan Fino dengan segera dan mengembalikannya ke panti. Dan setelah itu saya sepertinya tidak akan memberikan izin lagi," ucap ibu panti.
"Saya benar-benar minta maaf Bu, saya pasti mengabari ibu lagi, dan mengantarkan Fino segera," jawab Riki.
Tut…
Panggilan itupun terputus begitu saja, Riki mengerti jika Ibu Panti sedang marah dan kecewa. Riki bangkit dan bergegas mencari keberadaan Kalisa lagi.
Bersambung ….
__ADS_1