
Riki akhirnya keluar dari kamar mandi, dia celinguk kekanan dan kekiri berharap dia tidak akan melewati Kalisa, dia berlari lalu mengambil jaket yang dia bawa untuk menutupi celananya yang basah.
Untung saja aku memakai celana hitam, jadi tidak terlalu terlihat dan aku membawa jaket untuk menutupinya, batin Riki.
Kalisa datang, "Dok, masakannya sudah siap."
"Baiklah, aku akan mencicipinya," jawab Riki lalu pergi ke dapur menuju meja makan.
"Wah, tampaknya ini lezat," Ucap Riki lalu menarik kursi dan duduk disana.
"Silahkan dokter..!," Ucap Kalisa.
"Kita makan sama-sama ya, Fino kamu juga makan ya..!" Ucap Riki menoleh pada anak balita itu.
Kalisa menggendong Fino lalu mendudukkannya di kursi, mereka pun makan bertiga. Menurut pandangan Riki itu terlihat seperti keluarga kecil yang sedang makan bersama, Riki bahkan sampai tersenyum senang.
"Masakannya enak Kalisa, aku yakin bisnis kita nanti akan maju pesat," ucap Riki yang telah selesai dengan makanannya, dia mencicipi semuanya sedikit-sedikit.
Kalisa tersenyum manis mendapatkan pujian dari dokter Riki, membuat Fino kesal karena melihat kemesraan mereka berdua.
"Makasih Dok," jawab Kalisa.
Fino cemberut sepanjang hari, "Fino, kamu kenapa? Apa makanan Bunna gak enak?" Tanya Kalisa.
"Gak ko Bunna, makanan Bunna selalu enak, Fino hanya ngantuk, Fino ke kamal dulu ya Bunna?" Ucap Fino.
Kalisa menghampiri Fino, memeluknya sesaat dan ternyata Riki juga melakukan hal yang sama karena merasa sudah dekat dengan Fino.
Apa-apaan sih dia? Aku sama sekali gak mau dipeluk, oh astaga menyebalkan sekali, ingin rasanya aku mendorongnya, namun kekuatanku hanyalah kekuatan anak balita, batin Rio kesal.
***
Beberapa hari kemudian Kalisa dibawa ke sebuah tempat yang dimana itu akan menjadi tempat usahanya.
Riki memilih tempat yang luas namun bernuansa tradisional, menyesuaikan dengan menu masakan Kalisa.
Wanita itu akan membuat banyak menu makanan khas disetiap daerah, Kalisa sudah menguasai banyak menu makanan karena hobi memasaknya ia tekuni sejak dia masih kecil.
Fino pun akan dibawa saat dia bekerja, anak balita itu tidak akan membuat kekacauan mengingat betapa mandirinya dia, dan betapa cerdasnya dia, Kalisa yakin itu, dan dia tidak mungkin meninggalkan Fino sendirian dikontrakan.
"Bagaimana, tempatnya bagus kan, kamu suka?" Tanya Riki.
"Bagus Dok, saya suka," jawab Kalisa sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
***
Seminggu kemudian tempat itu akhirnya diresmikan, Kalisa mendapat banyak pegawai, dia begitu senang bisa melakukan hobinya sambil bekerja.
Fino ikut ke rumah makan, namun ada tempat khusus untuk Fino jika dia ingin beristirahat, di ruangan itu bisa digunakan untuk Kalisa menghitung pemasukan dan pengeluaran, di tempat itu juga tersedia kasur kecil untuk mereka tidur jika ingin beristirahat.
"Fino, kamu tunggu disini ya, kamu boleh tidur siang atau sekedar melihat ke bagian depan, tapi jangan lama-lama dan jangan bermain ke dapur ya..! Bunna tidak mau kalau kamu kenapa-napa," ucap Kalisa sambil membelai kepala Fino.
"Iya Bunna," jawab Fino sambil tersenyum.
Kalisa pun pergi, Fino yang memang jenuh dia ingin melihat keramaian pengunjung, dia melihat Riki disana yang sedang menelpon, Fino menghampirinya dan terdengarlah obrolan Riki dengan seseorang.
Ternyata Riki akan pergi ke salah satu Rumah Sakit dimana itu adalah Rumah Sakit tempat Rio dirawat, aku harus bisa pergi dengannya, aku harus menyelinap pergi ke mobilnya, pikir Rio (Fino).
Untung saja Riki sibuk menelpon sehingga dia tidak sadar kalau Fino mengikutinya dari samping, seolah dia seperti anak Riki, semua orang yang melihat juga tidak merasa aneh, ditambah postur Fino yang masih kecil dan pendek dia tidak terlihat oleh Riki yang berbadan tinggi.
Saat Riki membuka pintu mobil dan malah berdiri sejenak untuk menuntaskan obrolannya di telepon, Fino mencoba masuk ke pintu depan lalu dia bersembunyi di kursi belakang.
Tanpa Riki sadari Fino telah ada di dalam mobilnya dan ikut dengannya.
Aku akan pulang saat laki-laki ini hendak pulang, akan aku pastikan aku hanya sebentar disana, aku hanya ingin melihat keadaanku sendiri disana, batin Rio (Fino).
Dengan kecerdasan Rio, dengan mudah anak balita itu bisa keluar dari mobil dan mencari kamar Rio yang masih dia ingat, ternyata siang ini banyak tamu di depan kamar Rio.
Fino menunggu keadaan lumayan sepi baru dia akan masuk kesana, namun tiba-tiba ada seseorang yang memergokinya, membuat Rio jelas kaget.
"Sedang apa kamu disini Nak, mana ibumu?" Tanya seseorang dari arah belakang.
Rio (Fino) menoleh ke belakang, dia melihat sosok yang dia rindukan, "kakek…," panggil Rio pada Gerhana sang ayah.
"Eh ternyata kamu lagi anak ganteng, siapa namamu kakek lupa, hehe…, dan dimana Kalisa? bisa-bisanya dia meninggalkanmu sendirian," tanya Gerhana.
Jangan sampai ayah ikut salah menilai Kalisa, pikir Rio.
"Aku Fino kakek, Fino gak sama Bunna tapi kesini sama om doktel, om doktel sedang memeliksa jadi Fino kelual sebentar, Fino ingin melihat om yang berbaring dikamar itu lagi kakek," ucap Rio (Fino).
"Hmm, baiklah… kakek juga mau kesana, biar kakek gendong ya, kamu doain om Rio ya biar cepet sembuh..!" Ucap Gerhana.
"Iya kek," jawab Fino.
Fino digendong oleh Gerhana sampai ke ruangan itu, melewati Felisha, wanita itu menatap tajam pada Fino seakan ada ancaman di matanya, namun Fino mengabaikannya. Saat mereka masuk, disana ada Bu Riani yang sedang menangisi Rio, berharap anaknya itu segera bangun.
Aku disini Bu…, batin Fino (Rio).
__ADS_1
"Sudah Mah, kalau Mamah nangis nanti Rio juga ikut sedih..!" Ucap Gerhana.
"Mamah cuma gak kuat Pah lihat Rio dalam keadaan lemah seperti ini, kapan dia bangun Pah? Ini bahkan sudah hampir 3 bulan," keluh Riani.
"Kamu yang sabar sayang…!" Ucap Gerhana sambil membelai rambut istrinya dengan satu tangannya karena tangan yang lain menahan tubuh Fino.
"Pah, bukankah anak ini anaknya Kalisa, kenapa dia ada disini? Jangan bilang kalau wanita itu juga ada disini..!" Tanya Riani, Rio (Fino) dapat melihat dengan jelas kalau ibunya membenci Kalisa, tapi kenapa bisa begini, itulah yang menjadi pertanyaan Rio.
"Mamah, jangan begitu..! Kalisa belum tentu penyebab Rio sakit seperti ini, kamu jangan membencinya, apalagi anak ini tidak tahu apa-apa," ucap Gerhana.
"Turunkan anak itu Pah..! aku gak mau ya liat Papah peduli sama Kalisa atau anak ini, yang berhubungan dengan Kalisa, Mamah benar-benar tidak suka," ucap Riani yang kemudian berdiri, dia menurunkan Fino secara paksa.
Fino pun menangis, Rio tidak bisa mengontrol emosi anak balita ini, tanpa disadari dia menangis begitu saja.
Gerhana menggendongnya lagi, "sayang kamu jangan keterlaluan, lihatlah dia sampai menangis..! Dia hanya anak kecil, kenapa kamu begitu kasar padanya, membuatnya takut?" Tanya Gerhana.
"A-aku, maafkan aku Pah, aku hanya terbawa emosi, aku begitu membenci Kalisa, dan aku berpikir jika anak ini anaknya yang lahir sebelum menikah dengan Rio, aku yakin dia menipu Rio anak kita Pah, bahkan membuatnya celaka," jawab Riani.
"Mah, belum ada buktinya, lagi pula itu hanya pemikiran mamah saja..!" Ucap Gerhana.
Riani mendekati Fino, "maafkan nenek ya…, kamu jangan takut sama nenek, nenek tidak bermaksud jahat..!" Ucap Riani saat melihat fino sembunyi di badan suaminya.
Perlahan Riani menggendong Fino dari pangkuan suaminya, dan Rio pun memeluk ibunya erat, karena dia sungguh merindukan sang ibu.
Maafin Rio mah, selama ini Rio selalu membantah perintah mamah, padahal mamah dan papah sudah mengirimkan Kalisa untuk jadi pendampingku, maafkan aku yang mengecewakan kalian, akulah yang membuat diriku celaka seperti itu, bukan Kalisa Mah, jangan salahkan Kalisa terus..! Batin Rio.
Riani merasa pelukan anak balita itu membuatnya lebih tenang, apakah karena dia anak kecil tanpa dosa? Pelukannya begitu nyaman, batin Riani.
Setelah itu Riani mulai senang dengan kehadiran Fino, Rio (Fino) mendekati lelaki yang terbaring diatas ranjang pasien itu dia memegang tangan Rio yang lemah, "cepet sembuh ya om…!" Ucap Fino.
Riani pun memandang dengan tatapan haru, dia berharap doa Fino akan terkabul sesuai dengan doanya.
"Fino…, ayo kakek antar kembali, kakek khawatir seseorang yang membawamu akan mencari-cari mu," ucap Gerhana pada Fino, anak itu pun mengangguk setuju, dia berpamitan pada Riani lalu berjalan berpegangan tangan dengan gerhana sang ayah.
"Dimana ruangannya?" Tanya Gerhana.
"Fino lupa kek," jawab Fino jujur, karena Rio memang langsung pergi ke ruangan Rio yang koma tanpa mengikuti Riki sebelumnya.
"Astaga bagaimana ini? Emm bukannya tadi kamu bilang kesini sama om dokter, nama dokternya siapa? setidaknya kamu pasti ingat kan siapa namanya?" tanya Gerhana.
Ah… apa yang aku katakan, dia pasti tidak akan mengerti apa yang aku tanyakan, batin Gerhana bingung sendiri saat melihat Fino diam tidak menjawab.
Bersambung ….
__ADS_1