
Kalisa memasukan benda itu ke dalam tasnya, "ini bukan apa-apa Fino, ayo kita ke Rumah Makan, kamu juga pasti lapar kan?" Ucap Kalisa lalu menggandeng tangan Fino.
Pokoknya aku harus tahu apa yang diambil Kalisa tadi, siapa tahu ada informasi yang penting, batin Rio yang tidak sempat melihat apapun.
Mereka naik angkutan umum untuk sampai ke tempat tujuan, Kalisa langsung disambut berapa karyawan.
"Bu Kalisa, akhirnya ibu datang juga, cepat Bu bantu kami..!" Ucap Herlin panik.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Kalisa.
"Ibu ikut aja dulu sama kita Bu ke dapur..!" ucap Wulan, namun Kalisa malah melihat ke arah Fino, karena anak itu tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
"Fino, biar saya yang antar ke ruangan ibu ya? Biar dia main disana," ucap Herlin.
Kalisa mengangguk setuju, dia langsung menuju dapur, ternyata akan ada rombongan yang datang, itu adalah teman masa sekolah dokter Riki, mereka kekurangan orang dan takut jika makanan nanti akan kurang mengingat satu jam lagi mereka datang.
Kalisa mengambil alih, dia mengatur semuanya agar lebih cepat, "kenapa kalian tidak menghubungiku jika kalian membutuhkanku?" Tanya Kalisa.
"Maaf Bu, kami tidak mau mengganggu urusan ibu yang mungkin lebih penting dari ini, kami berpikir jika kami mampu melakukannya, ternyata kami kewalahan karena pengunjung yang juga ramai berdatangan," jawab Wulan.
"Yaudah gapapa, tapi lain kali kalian harus menghubungiku jika ada kejadian seperti ini..!" Ucap Kalisa.
Mereka pun menjawab dengan kompak, "baik Bu…".
Kalisa mengerahkan semua tenaganya, dia tidak mau membuat pelanggannya kecewa, apalagi Rumah Makan ini baru dibuka beberapa hari yang lalu.
Kalisa mengatur para karyawan, memanfaatkan waktu yang mereka punya sekarang, ada yang bertugas melayani pelanggan yang datang, dan sebagian mempersiapkan makanan yang dipesan Riki.
Semoga saja masakannya matang tepat waktu, batin Kalisa.
"Bu, dokter Riki sudah datang bersama semua teman-temannya, bagaimana Bu?" Tanya Jenny
__ADS_1
"Kamu tenang, kamu layani saja dulu, beri mereka minuman, tanyakan pesanan minumannya saja dulu, oke..!" Jawab Kalisa, dia menyuruh Jenny tenang padahal dia sendiri sedang gugup.
"Baik Bu…," jawab Jenny berlalu pergi.
Masakan siap sekitar 30 menit lagi, Kalisa harus mempunyai cara lain untuk mengulur waktu, dia harus menemui mereka semua didepan.
Kalisa datang memperkenalkan diri sebagai pemilik Rumah Makan, dia berusaha berbaur, kemudian dia mengajak Riki bicara berdua.
Mereka mulai memisahkan diri dari kerumunan, Kalisa memberitahu Riki tentang keadaan di dapur yang belum siap, dia berbisik di telinga Riki.
"Geli Kalisa, oke oke, aku akan mencoba mengulur waktu," jawab Riki.
Rio yang keluar dari ruangannya tadi, dia melihat momen itu dengan kilatan api cemburu, "apa-apaan sih mereka? Menyebalkan…," gumamnya pelan.
"Kak Lin, aku mau makan," ucap Fino pada Herlin.
"Fino sayang, kakak masih sibuk, sebentar ya? Kamu bisa kan menunggu sebentar lagi, sebentar saja?" Tanya Herlin.
Sebaiknya aku ikut membantunya, sekalian menjauhkan Kalisa dari pria itu, batin Rio.
Fino ikut bergabung, dia melihat Kalisa sedang memegang mix, aku gak rela kalau Kalisa menyanyi di hadapan mereka semua, pikir Fino.
Fino berlari, dia langsung memeluk kaki Kalisa karena tubuhnya yang pendek.
"Eh Fino, bikin Bunna kaget aja, ada apa sayang? Bunna lagi sibuk, kamu tunggu dulu ya didalam, diruangan Bunna..!" Ucap Kalisa membujuk Fino, namun anak itu menggelengkan kepalanya.
"Fi-Fino mau belnyanyi," ucap Fino yang mampu membuat Kalisa terkejut, sementara Rio mengutuk mulutnya sendiri, dia juga heran, kenapa dia bisa mengatakan kalau dia ingin bernyanyi, itu sangat memalukan baginya, namun dia menatap Kalisa yang tersenyum senang.
Kenapa aku jadi bodoh dihadapannya? Kenapa aku merasa jika Kalisa seperti penghipnotis sekarang?, aku menjadi rela melakukan apapun demi dia, Ah, ini memalukan, bodoh… bodoh… bodoh… kau bodoh Rio, batinnya.
Riki mengambil mix satu lagi, dia memberikannya pada Fino (Rio), "ambilah..! Kamu boleh bernyanyi," ucap Riki.
__ADS_1
Dasar, kenapa bukan kamu saja yang bernyanyi? Malah menyuruhku yang anak kecil ini, harusnya kamu berkorban untuk Kalisa..! Cintamu pasti dangkal, batin Rio mengejek.
Dengan terpaksa Rio mengambilnya, dia bingung harus menyanyi apa.
Semua teman-teman Riki bersorak dan bertepuk tangan mereka bahkan menyemangati Fino agar mau bernyanyi, terdengar banyak pujian terlontar untuk Fino.
Aku tahu aku tampan, dan aku menggemaskan, terimakasih, terimakasih… batin Rio bangga.
Dia tersenyum manis kepada semua yang dianggapnya penonton sekaligus fans nya itu.
"Fino akan menyanyikan lagu untuk Bunna," ucap Fino, dia pun mulai bernyanyi.
"Kasih ibu… kepada Beta, tak telhingga sepanjang masa, hanya membeli, tak halap kembali, bagai sang sulya menyinali dunia…"
Fino mengambil setangkai bunga mawar yang ada di didekatnya, sebenarnya itu bunga untuk menghias ruangan, lalu tanpa diduga dia memberikannya pada Kalisa, "dan ini untuk Bunna, kalena telah menyayangi fino," ucapnya lalu memeluk Kalisa yang kini sudah dalam posisi berlutut untuk menyeimbangkan tinggi mereka.
Ini hadiah kedua setelah boneka itu Kalisa, mulai sekarang aku akan membuatmu tersenyum, menggantikan semua air mata yang pernah keluar karena sikapku dimasa lalu, aku tahu ini tidak akan bisa menebusnya, tapi setidaknya aku akan selalu berusaha demi kamu, batin Rio (Fino).
Kalisa pun merasa terharu dengan perlakuan manis Fino akhir-akhir ini, ini adalah bunga mawar yang bunna dapatkan pertama kali, terimakasih fino, karena telah menjadi lelaki pertama yang membuat hidup Bunna terasa berarti, Bunna tidak akan rela melepaskanmu, batinnya.
"Uhh … so sweet….," Ucap salah satu teman Riki.
Semua orang terhibur, mereka menyukai cara bicara Fino yang lucu, yang cadel seperti itu, terlebih mereka suka sikap Fino yang amat manis, "lagi…lagi..lagi..!" Teriak semua orang menyuruh Fino bernyanyi.
Fino melepaskan pelukannya, dia mulai menatap semua orang, "lagu kedua akan dinyanyikan oleh om doktel Liki," ucap Fino yang kemudian memberikan mix itu pada Riki.
Seketika Riki kaget dan bingung dibuatnya, semua orang bersorak, "ayo Riki, nyanyi… nyanyi… masa kalah sama anak kecil..!" Ucap salah satu temannya.
Sekarang giliran dia, aku harap suaranya cempreng seperti suara ibu-ibu yang lagi berebut antrian, hehe…, batin Rio (Fino).
Bersambung ….
__ADS_1