Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Terlambat


__ADS_3

Riani mengeluh sepanjang jalan, karena jalannya yang dilalui itu jalanan berbatu dan jelek.


"Aduh, udah lama, jalannya juga jelek," ucap Riani.


"Hmm, kan ibu yang mau, padahal kan teh Nina udah mau ke kota nemuin ibu," ucap Hani.


"Hmm, kamu ini malah ngingetin sih, saya jadi gak bisa ngeluh lagi kan sama pak Asep yang lagi fokus nyetir," keluh Riani.


Perkataan Riani membuat sopir dan pembantunya Hani itu menahan tawanya, memang Riani itu dekat dengan semua pekerja yang ada di rumahnya, dia orang yang membuat semuanya tidak merasa sungkan dengannya meski dia adalah majikannya, Riani sering bercanda dan mengerjai para pekerjanya.


Dengan kesabaran yang besar akhirnya Riani sampai di rumah Nina, rumah sederhana dengan bangunan kayu, meski sederhana namun rumah itu begitu asri, bersih dan rapi. Ada beberapa tanaman bunga didepan rumahnya, suasana desa ini juga sejuk, sungguh satu kata yang keluar dari mulut Riani yaitu nyaman.


Sebelum Riani sampai ke pintu rumah itu dan berniat mengetuk pintu ternyata sudah ada Nina yang keluar dari rumah itu, menyambut mantan majikannya.


Ternyata kehidupan Nina disana masih dalam keadaan kekurangan, itu membuat Riani bertanya-tanya kenapa wanita itu berhenti bekerja padahal masih membutuhkan pekerjaan.


"Nin, kenapa kamu berhenti bekerja? Kenapa gak pamit dulu sama saya?" Tanya Riani dengan serius.

__ADS_1


"Sebenarnya saya diberhentikan oleh Non Felisha Bu, saya diancam juga, jadi saya pulang kampung tanpa memberi tahu ibu, padahal saya memang masih membutuhkan pekerjaan itu," jawab Nina dengan mata berkaca-kaca, dia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Saya juga tidak menyangka menantuku selicik itu, saya kira kamu masih bekerja disana, jika kamu mau, kamu boleh bekerja lagi di rumah saya..!" Ucap Riani.


"Beneran Bu? Apa ibu lebih percaya padaku daripada non Felisha?" Tanya Nina dengan rasa penasarannya, dia juga takut kalau majikannya itu malah menyalahkan dirinya dan menuduhnya memfitnah menantu Bu Riani.


"Hmm, iya saya percaya sama kamu, kamu boleh menceritakan apa saja yang kamu lihat!" Ucap Riani yakin.


Nina pun menceritakan bagaimana rumah tangga Rio dan Kalisa sebelumnya, bagaimana Rio memperlakukan Kalisa dengan buruk hingga Felisha yang sering menginap di rumah itu meski Kalisa adalah istri Rio, hingga akhirnya Kalisa kabur dan kehidupan Nina semakin dipersulit oleh Felisha, Nina tentu tidak betah bekerja dibawah perintah Felisha yang seenaknya itu.


Hingga suatu hari Nina menerima telepon dari Riani, Felisha langsung merebut telepon itu dan memecat Nina hari itu juga, padahal waktu itu Nina tidak berniat mengadukan apapun mengingat dia masih membutuhkan pekerjaan ini.


Hani juga buka suara tentang hubungan rumah tangga Kalisa dan Rio yang tidak baik.


"Kenapa kamu baru bilang sama saya Hani? Jadi selama ini Rio bertindak seenaknya begitu dan menyakiti Kalisa?" Tanya Riani dengan kesal.


Kenapa Kalisa tidak pernah bercerita ya? Apa dia juga sama takut aku tidak mempercayainya?, Maafkan Mamah Kalisa karena telat mengetahuinya, andai saja mamah tahu lebih awal, pasti kamu masih bersama Rio, Batin Riani.

__ADS_1


"Maaf Bu, saya hanya takut ibu tidak percaya sama saya, pasti ibu lebih percaya den Rio, kalau saya dipecat kan saya yang rugi," jawab Hani dengan jujur membuat Riani pun mengakuinya, dia pasti akan lebih percaya pada Felisha dan Rio dibandingkan dengan para pekerjanya.


Setelah cukup waktu untuk berbincang dan beristirahat akhirnya Riani mengajak Nina kembali ke kota., meski dia masih merasa nyaman di rumah Nina, dia pun harus merasakan jalan rusak itu lagi yang membuat mood nya jelek.


***


Sementara di Rumah Sakit, Kalisa sudah boleh pulang, tentu Fino pun ikut pulang karena dia juga sudah membaik, namun karena kesehatan Kalisa belum pulih sepenuhnya maka Hani ikut menginap di kontrakan untuk sekedar membantu Kalisa.


Mereka pulang diantar oleh Riki, dan sepanjang jalan Fino cemberut.


"Terimakasih Mas karena selqma ini sudah membantu saya, maafkan saya karena selalu merepotkan kamu Mas," ucap Kalisa.


"Gapapa kok, aku senang kalau aku berguna buat kamu, aku senang kalau aku yang selalu ada buat kamu," jawab Riki, dan bukan suami kamu itu, suamimu mana bisa membantu kamu, sedangkan dia masih koma, batin Riki.


"Hmm, iya terimakasih," jawab Kalisa yang sedikit merasa canggung, dia merasa kalau Riki telah mencoba masuk lebih dalam ke dalam kehidupannya.


Aku rasa aku harus memberi jarak padanya, aku tidak mau kalau sampai ada lelaki yang berharap lebih padaku, karena aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan itu, apa aku harus mengorbankan bisnisku saat ini? batin Kalisa.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2