Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Berniat Pulang


__ADS_3

Riki merasa kepalanya hampir pecah memikirkan semua ini, masalahnya bertambah satu lagi. Ya… dia memikirkan Fino dan ibu panti. Dia menghubungi semua orang-orang kakek Husen tapi belum ada satupun yang menemukan Kalisa.


"Percuma kakek membayar mereka mahal-mahal," gumam Riki. Dia melajukan mobilnya ke sembarang arah, dia mencari sosok wanita yang dia cari, dia berharap menemukan Kalisa dalam keadaan baik-baik saja.


Sepertinya aku harus mencari Kalisa dengan berjalan kaki menyusuri gang kecil di sekitar sini, batin Riki.


Lelaki itu pun turun, mencoba bertanya ke warga sekitar dengan menunjukan foto Kalisa dan juga Fino, tapi semua yang ditanyai menggelengkan kepalanya. Riki belum menyerah, dia melajukan mobilnya lagi dan mencari lagi meski hari sudah gelap.


"Kamu dimana Kalisa? Kamu pasti ketakutan, apalagi keadaan gelap begini," gumam Riki.


Saat tengah malam, kakek Husen menghubungi Riki agar pulang lebih dulu. Kakek Husen khawatir jika Riki malah sakit karena memaksakan diri. Lelaki itu juga tahu masalah berat yang dihadapi Riki sang cucu.


***


Saat pagi hari datang, Kalisa begitu terburu-buru pergi. Dia tidak ingin merepotkan orang lain. Kalisa menuntun Fino dan berpamitan pada sepasang suami istri yang telah menolongnya.


"Kamu yakin mau pulang sekarang? Tunggu beberapa hari lagi saja Neng..!" Ucap Bu Tika.


"Iya Bu, saya sudah baik-baik saja kok Bu, saya ingin cepat pulang karena tidak mau membuat keluarga saya khawatir," jawab Kalisa.


"Kamu benar Neng, ibu dan bapak tidak punya ponsel. Sinyal disini juga tidak memungkinkan. Kamu pulang diantar oleh bapak saja ya?, khawatir di jalan ada apa-apa," ucap Bu Tika.

__ADS_1


"Tapi…, kasihan bapak kalau nganterin saya, pasti capek kalau jalan jauh," jawab Kalisa. Dia tidak mau menyusahkan pak Damar karena umurnya juga sudah tidak muda lagi.


"Dianter setengah jalan aja Neng, gapapa kok bapak anterin," ucap Pak Damar.


Kalisa tidak bisa menolak lagi, dia mengangguk pelan. Mungkin ini keputusan terbaik, setidaknya jika dia diantar oleh pak Diman dia pasti melalui jalan yang benar dan bisa pulang.


Pagi itu cuaca terasa segar, udara pagi yang dingin tapi disinari matahari pagi yang menghangatkan. Perjalanan panjang membuat Kalisa dibekali minuman dan juga makanan oleh Bu Tika. Makanan yang dibuat oleh Bu Tika sendiri dari hasil panen.


Setelah hampir satu jam berjalan Kalisa memilih beristirahat sejenak dibawah pohon besar yang rindang. "Apakah masih jauh Pak?" Tanya Kalisa.


"Ini belum setengahnya Neng, kalau mau ke jalan yang ramai memang masih jauh sekitar 3 jam lagi," ucap pak Damar.


Terlihat wajah lelah bapak itu membuat Kalisa merasa tidak enak. Dia meminta agar pak Damar tak perlu menemaninya lagi, dia akan pergi berdua bersama Fino melalui jalan yang beraspal namun sudah rusak. Jalan itu masih cukup terlihat jelas sehingga Kalisa merasa yakin tidak akan tersesat.


"Bunna, Fino masih capek," keluh Fino yang lemas. Dia memang sempat digendong dan sempat berjalan kaki juga karena tidak mau membebani Kalisa.


"Biar Bunna gendong aja ya sayang?" Tanya Kalisa.


"Tapi, Fino kan belat Bunna, nanti Bunna makin cape," jawab Fino.


"Gapapa sayang, Bunna kuat kok," jawab Kalisa sambil tersenyum. Mereka pun melanjutkan perjalanan, Fino digendong Kalisa dengan melambaikan tangan kanannya pada pak Damar sebagai tanda perpisahan.

__ADS_1


Dua jam berlalu, Kalisa baru menempuh setengah perjalanan. Terlihat ada orang yang mengendarai sepeda motor. Satu motor dengan dua orang, mereka berhenti tepat di hadapan Kalisa. Wanita itu jelas terkejut, apalagi melihat penampilan keduanya seperti penjahat, wajah yang satunya menyeramkan dengan luka di wajahnya.


"Mau kemana? Abang anterin ya?" Ucap lelaki berwajah seram lalu turun dari motor.


"Tidak usah, terimakasih," jawab Kalisa dan berniat pergi. Tapi lelaki itu menghalangi jalan Kalisa.


"Cewek ini sombong amat, perlu kita kasih pelajaran nih," ucap lelaki itu. Sementara satu lelaki lagi yang ada di atas motor hanya tersenyum mengejek Kalisa.


"Kalian sebenarnya mau apa?" Tanya Kalisa. Padahal dia sudah ketakutan tapi mencoba berani demi Fino. Dia harus bisa kembali pulang.


"Udah biarin aja, kita punya urusan lebih penting dari ini!" Teriak lelaki yang berada di atas motor.


"Tunggu dulu lah, ini hiburan," ucap lelaki berwajah seram itu.


Kalisa semakin takut, dia mundur dua langkah. Fino hanya mempererat pegangannya pada Kalisa. Anak balita itu ternyata juga merasakan hal yang sama, rasa takut.


"Aku tidak punya apa-apa, jadi biarkan aku lewat!" Ucap Kalisa.


"Cepetan, apa mau gue tinggalin?" Tanya lelaki diatas motor. 


Lelaki berwajah menyeramkan itu tampak kesal dengan temannya, dia pun melakukan aksi ya dengan cepat. Dia mendekati Kalisa, semakin dekat dan semakin dekat. Sementara Kalisa mundur dan semakin mundur.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2