Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Harapan Rio


__ADS_3

Aku dimana? Apa Kalisa membawaku ke rumah sakit karena telat makan, ya… aku pasti pingsan tadi, batin Rio. Tapi dia mendengar suara ibunya memanggil namanya, bahkan Riani memeluk tubuhnya saat ini.


Apa yang terjadi? Kenapa ada mamah disini dan dia memanggilku Rio? Apa aku sudah kembali ke tubuh asliku, atau ini hanya mimpi? Batin Rio tak percaya..


Lelaki itu mengangkat tangannya, dia melihat tangan orang dewasa, bukan tangan Fino melainkan tangan Rio. Syukurlah aku akhirnya bisa kembali kupikir aku akan selamanya terjebak ditubuh anak kecil itu, batin Rio.


"Rio kamu sudah sadar? Kamu masih ingat kan ini Mamah? Rio…," ucap Riani dengan berlinang air mata, air mata kesedihan yang berubah menjadi air mata bahagia karena inilah yang dinantikan wanita itu.


"Mamah …," panggil Rio pelan.


"Syukurlah…, Mamah kangen sama kamu Rio, akhirnya kamu sadar juga, Mamah takut kehilangan kamu Nak," ucap Riani kemudian memeluk Rio lagi, dia ingin memastikan bahwa ini nyata, bahwa yang dipeluknya memang tubuh Rio bukan mayatnya.


"Rio, coba kamu sentuh pipi Mamah Nak..!" Ucap Riani pelan, dia mencoba meyakinkan dirinya lagi kalau itu adalah kenyataan.


Rio pun mengangkat tangannya perlahan, dia berusaha keras melakukan itu karena tangannya terasa kaku akibat sudah lama tidak digunakan, tentu saja selama berbulan bulan dia hanya berbaring diranjang. Tangan itu berhasil meraih pipi sang ibu, diusapnya lah air mata yang membasahi pipi ibu yang dia rindukan, ibu yang selama ini disakitinya.


"Mah, maafin Rio ya? Mamah jangan nangis..!" Ucapnya pelan dan masih mencoba menghapus air mata sang ibu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, kamu gak salah apapun, Mamah bersyukur kamu sudah sadar kembali, jangan buat Mamah sedih lagi ya, jangan koma lagi..!" Ucap Riani dengan tatapan berkaca-kaca, dipeluknya lagi tubuh sang anak.


Sementara Gerhana hanya melihat interaksi ibu dan anak itu, dia juga sudah memerintahkan pengawal yang ada didepan ruangan Rio untuk memanggil dokter Nadim. Setelah Riani puas meluapkan perasaannya kini giliran gerhana, dia mengelus tangan Rio dan berkata, "terimakasih karena kamu sudah bertahan Rio..!" Gerhana menatap Rio dengan senyuman, matanya berkaca-kaca mencoba menahan air mata yang tak ingin diloloskan dari matanya karena dia merasa malu, tentu itu air mata kebahagiaan sang ayah.


Beberapa saat kemudian, "Ada apa ini Pak?" Tanya dokter Nadim yang baru tiba, dia bingung karena baru saja keluar dari ruangan ini tapi sudah mendapatkan panggilan lagi.

__ADS_1


"Periksalah anak saya dengan benar Dok..! Saya harap anak saya baik-baik saja," ucap Gerhana di dekat pintu, dokter Nadim belum melihat keadaan Rio yang dianggapnya telah meninggal.


"Maksud Bapak bagaimana? Bukannya anak Bapak sudah meninggal, cobalah untuk mengikhlaskannya meski berat Pak..!" Jawab Dokter Nadim.


Tak mau menjelaskan lebih panjang, Gerhana menyuruh dokter Nadim melihat keadaan Rio, dia memaksa dokter itu masuk ke dalam, dan betapa terkejutnya dokter itu melihat Rio yang kini sadar.


"Astaga, ini keajaiban, kalau begitu biar saya periksa dulu," ucap dokter Nadim.


Setelah beberapa saat memeriksa, dokter Nadim menyatakan kalau keadaan Rio sehat, detak jantungnya normal. Dokter itu kembali ke ruangannya dengan banyak pertanyaan dikepalanya, dia seakan tidak mempercayai orang yang meninggal bisa hidup lagi. Dia juga tidak bisa menyalahkan hasil pemeriksaanya, jelas-jelas tidak ada kesalahan dari pemeriksaan sebelumnya yang menyatakan jika tubuh Rio memang sudah tidak bernyawa tadi.


***


Saking senangnya Riani menawarkan Rio banyak makanan, bukankah selama ini Rio hanya berbaring dengan banyak alat bantu dan tidak bisa menikmati makanan enak. "Rio, kamu mau makan sama apa sayang? Sebutin aja..!" Tanya Riani.


Tentu saja Riani dan Gerhana kaget bukan main, bagaimana Rio bisa tahu sementara selama ini dia koma. Riani menatap anaknya dalam-dalam.


"Ih, Mamah kenapa? Bukannya dibeliin malah memandang Rio begitu," keluh Rio.


"Kenapa kamu tahu kalau Kalisa punya Rumah Makan?" Tanya Riani menyelidiki sesuatu.


Astaga, kenapa aku bisa keceplosan begini, aku tidak pernah berpikir sampai kesini, bagaimana ini? Batin Rio.


"Emm, a-aku hanya merasa pernah mendengarnya saja Mah, selama aku koma aku terkadang mendengar kalian berbicara," jawab Rio beralasan.

__ADS_1


"Apa? Jadi selama ini kamu mendengar kita berbicara disini?" Tanya Riani.


Rio mengangguk pelan, dia kemudian mengeluh lapar. Dengan begitu Riani pun segeraenyuruh orang memebbelikan makanan pesanan Rio. Gerhana sempat menanyakan pada Rio jika dia akan memberitahu Felisha tentang kesembuhan Rio ini, tapi lelaki yang sedang berbaring di atas ranjang pasien itu tidak mau melihat Felisha.


Riani menanyakan alasannya karena sebelumnya Rio begitu mencintai Felisha bahkan sampai mengorbankan Kalisa, akhirnya Rio menceritakan tentang perselingkuhan Felisha yang dia ketahui, kemudian penyebab dia sampai kecelakaan seperti ini.


Riani menampakan wajah marah, tapi sebisa mungkin Rio menenangkan ibunya agar tidak terbawa emosi. "Iya Mamah akan sabar, Mamah juga khawatir jika anak itu memang benar cucu Mamah, kamu tahu kan kalau Felisha hamil?" Tanya Riani pada Rio, jika memang dia bisa mendengar saat koma, harusnya dia tahu juga tentang hal ini.


"Aku tahu Mah, cuma memang aku juga tidak yakin jika itu anak aku," jawab Rio.


Rio menjalani perawatan hingga dia benar-benar sembuh, selama seminggu ini dia ia berada di Rumah sakit untuk melatih otot-ototnya yang sudah lama tidak digerakan. Dia tiba-tiba teringat Kalisa, "Mah…, nanti temenin Rio ke panti asuhan ya, Mamah mau kan?" Tanya Rio.


"Panti asuhan? Untuk apa kamu kesana, panti asuhan kan banyak, kamu mau ke Panti yang ada dimana?" Tanya Riani.


"Yang ada di luar kota Mah," jawab Rio.


"Kamu kan baru sembuh, panti asuhan di dekat sini aja kalau kamu memang mau berbagi atas kesembuhan kamu..!" Bujuk Riani.


"Bukan begitu Mah, tapi aku ingin menemui Kalisa," jawab Rio sambil menunduk.


Riani pun mengangguk pelan, dia yang bahagia dengan kesembuhan Rio merasa harus menuruti semua kemauan anaknya itu, dia yakin sekarang Rio tahu mana yang terbaik untuknya.


Benar saja, setelah diperbolehkan pulang, Rio bukannya pulang ke rumahnya, dia malah langsung menyuruh sang sopir untuk membawanya pergi menemui Kalisa. Apakah Kalisa akan menyambut kedatanganku, atau dia akan menolak kehadiranku dan malah minta cerai dariku? Batin Rio gelisah.

__ADS_1


Bersambung …...


__ADS_2