Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Mengejutkan


__ADS_3

Tapi keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Riki, makanan yang dipesan Riki datang, semuanya makanannya sudah siap.


"Syukurlah…," ucap Kalisa dan Riki kompak, Kalisa juga bersyukur karena dia tidak akan mendapatkan masalah karena makanan telah siap tepat pada waktunya.


"Kalian kayaknya jodoh, haha… ups," ucap Laila sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Fino mulai cemberut mendengar penuturan salah satu teman Riki itu.


Kalisa hanya diam, dia sadar diri kalau dia masih berstatus istri orang dan dia tahu kalau dokter Riki terlalu baik untuknya, sementara Riki tersenyum malu-malu, dia memang berharap mereka akan berjodoh meski kemungkinannya sangat kecil.


Dia memang belum menanyakan status Kalisa secara langsung, tapi dia pernah mendengar jika Kalisa masih bersuami dan anehnya suaminya tidak pernah terlihat, itulah yang disebut kesempatan kecil, dia berharap Kalisa sedang dalam masa perceraian.


Mereka mulai menyantap hidangan yang ada, sementara Kalisa dan Fino kembali ke dalam, Kalisa memilih pergi ke dapur untuk memastikan semuanya aman, sementara Fino yang teringat sesuatu dia pergi begitu cepat ke ruangan Kalisa.


Dia mencari tas wanita itu, dimana ya dia menyimpannya? Pikir Rio (Fino).


Mata Fino menyisir semua sudut ruangan itu, jika biasanya tas itu akan tergeletak diatas meja kerja Kalisa, namun kali ini tidak ada, dia mencari lagi dan lagi.


Fino keluar dari ruangan itu, dia terpikir untuk mencarinya di dapur, mungkin saja tertinggal disana karena wanita itu sibuk disana sedari tadi.


"Fino, jangan ke dapur sayang, disini bukan tempat bermain, bahaya Fino..!" ucap Herlin mendekati anak balita itu.


"Bunna mana kak?" Tanya Fino.


"Didepan, melayani pelanggan, biar kakak anterin ya ke Bunna?" Tanya Herlin.


"Emm, Fino mau tas Bunna, biar Fino simpan ke luangan Bunna," ucap Fino meminta pertolongan pada Herlin, berharap wanita itu tahu dimana Kalisa meletakkannya.


Ternyata benar dugaan Rio, Herlin datang membawa tas Kalisa, "yang ini? Ini berat loh, kamu yakin bisa membawanya?" Tanya Herlin menatap Fino.


Fino mengangguk sambil tersenyum, Fino mengambil tas itu yang hampir seukuran tubuhnya yang mungil, membuat Herlin sampai tertawa karena merasa lucu, Herlin merasa kasihan dan ingin membantu membawakan tas itu, tapi dia masih mempunyai banyak pekerjaan hingga dia mengurungkan niatnya.


Fino masuk ke ruangan Kalisa yang sengaja tidak ditutupnya, dia membiarkan pintu itu sedikit terbuka karena kalau pintu itu tertutup dia akan kesulitan untuk masuk lagi, tangannya tidak sampai ke handle pintu.

__ADS_1


"Akhirnya, aku penasaran dengan kertas tadi," gumam Rio.


Dia membuka tas itu, mencari sesuatu yang dia inginkan, dia mengambil lalu melihatnya dengan seksama.


"Apa ini, Ini gambar bulatan atau apa? Tidak jelas," ucap Rio kesal, namun saat dia melihatnya lagi, dibagian atas ada nama Felisha.


Rio memang sempat melihat Felisha juga keluar dari ruangan pemeriksaan, dia mulai berpikir jika itu adalah hasil pemeriksaan kehamilan istri keduanya itu, Rio menyembunyikan hasil USG itu, meskipun dia tidak bisa membaca hasilnya tapi dia akan menanyakannya pada seseorang yang bisa menjelaskan itu semua.


Rio menyimpannya dengan sangat baik, dia berharap Kalisa tidak menanyakan kertas itu.


***


Saat hari sudah malam, Fino berniat menghampiri Kalisa untuk mengajaknya pulang, "sudah jam sepuluh malam, aku akan menemui Kalisa, aku sudah mengantuk," gumam Rio (Fino).


Dia berjalan keluar ruangan, melihat ke kanan dan ke kiri mencari Bunnanya, ternyata Kalisa masih bergelut dengan pekerjaannya mengecek persediaan bahan makanan.


Rio menoleh ke arah lain dan dia dapat melihat keberadaan Riki disana, bukankah dia seorang dokter, dia pasti mengerti dengan hasil kertas ini, aku harus mencoba menanyakannya, batin Rio (Fino).


"Eh Fino, matamu kelihatannya sudah berat begitu, kamu ngantuk? Tidur aja di ruangan Bunna, nanti om akan angkat kamu ke dalam mobil..!" Ucap Riki.


"Nanti aja Om, Fino mau nungguin Bunna disini," jawab Fino.


"Fino sayang sama Bunna? Fino kenapa tidak mau pulang sama ibu panti?" Tanya Riki yang mencoba mencari tahu.


"Sayang… sekali, Fino tidak mau, Fino mau sama Bunna terus dan nanti ada Om pangelan Bunna juga," jawab Fino yang sengaja ingin memberitahu kalau Kalisa masih punya suami.


"Om pangelan, siapa itu?" Tanya Riki.


"Om pangelan Bunna yang lagi sakit di lumah sakit om doktel, kata Bunna dia pangelan yang seperti di cerita dongeng," jawab Fino, hahaha… akan aku buat kamu kepanasan dan berhenti berharap Riki! pikir Rio (Fino).


Riki tak bertanya lagi, dia malah menatap langit yang gelap, Riki merasa patah hati malam ini, dia sepertinya telah kehilangan harapan kecilnya itu.


Tidak, aku harus memastikannya terlebih dahulu, aku harus menanyakannya langsung pada Kalisa, bukankah Fino hanya anak kecil, yang terkadang suka berbicara tidak jelas, batin Riki.

__ADS_1


"Om," panggil Fino yang membuat Riki langsung menoleh.


"Iya Fino, ada apa?" Tanya Riki.


"Om, om kan doktel, pasti pintal kan? Pasti Om tahu ini maksudnya apa? Pino penasalan," tanya Fino.


Riki sempat kaget karena Fino memungut hasil USG milik orang lain, namun bocah itu mengatakan jika itu ada ditas Kalisa, Fino membujuk Riki untuk menjawab pertanyaannya, dia mengatakan jika Riki bukan dokter yang pintar dan tidak tahu apa-apa, itu membuat Riki terpaksa menjelaskannya.


Dia menjawab setiap apa yang ditanyakan Fino, dan Riki kagum ternyata Fino sudah pandai membaca, dia tahu ada nama Felisha dan ada tulisan 17W1D. Fino juga menjelaskan jika Felisha adalah orang yang dia kenal jadi dia ingin tahu.


"14w 1d itu artinya 14 week 1 day Fino," jawab Riki.


"Oh, 14 Minggu dan 1 hali?" Tanya Fino.


"Kamu pintar sekali Fino, kamu tahu bahasa Inggris? Om bangga padamu, iya itu usia kehamilan Tante Felisha, tiga bulan lebih," jawab Riki sambil mengelus kepala Fino, Riki sangat mengagumi kepintaran anak balita itu.


Percakapan mereka berakhir saat Kalisa mengajak mereka pulang karena telah menyelesaikan laporannya, mereka berada di dalam satu mobil yang sama sekarang, Fino langsung menyembunyikan hasil USG itu.


Riki akan mengantar mereka pulang saat memiliki waktu luang, itu kesempatan Riki untuk bisa lebih dekat dengan Kalisa, sepanjang jalan Fino tampak diam, 3 bulan lebih, ada kemungkinan dia adalah anakku, dan Kalisa pasti memilih mundur dari pernikahan ini, bagaimana ini? Pikir Rio (Fino).


Riki yang amat penasaran dia menanyakan hal yang dia ingin tanyakan pada Kalisa.


"Oh iya Kalisa, ibu-ibu dan wanita muda yang sempat berbicara kasar padamu di Rumah Sakit, siapa mereka?" 


Kalisa kaget dengan pertanyaan tak terduga itu, dia sebenarnya tidak mau membahas masa lalunya, tapi karena Riki sudah menjadi teman dekat dan Kalisa merasa nyaman, dia pun menjawabnya dengan jujur.


"Apa, jadi itu ibu mertuamu dan madumu?" Tanya Riki sambil menginjak pedal rem seketika, dia merasa terkejut dengan jawaban Kalisa.


Mobil yang berhenti mendadak membuat tubuh Kalisa dan Fino hampir saja terjungkal, apa-apaan sih dia? protes Rio (Fino) dalam hatinya.


"Astaga," ucap Kalisa.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2