Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Wanita Yang Menangis


__ADS_3

Kalisa pulang lebih dulu karena Husen mempunyai keperluan penting lainnya. Kalisa yang masih ingin tinggal di Panti melihat kehadiran Fino, dia tidak mungkin pulang bersama Rio mengingat statusnya sekarang.


Kalisa berniat pamit pulang pada Fino. Mendekati balita yang sedang minum duduk di pinggir halaman. Fino terlihat kelelahan tapi senyumnya mengembang terus karena dia bersama Rio.


"Fino, Bunna pulang dulu ya? Nanti Bunna pasti datang lagi," ucap Kalisa.


Terlihat Fino memandang Kalisa dengan serius, "iya Bunna, Bunna pasti pulang sendili, gak mau Fino ikut kan?" Tanya Fino dengan cemberut.


"Fino… ,Bunna bukannya tidak mengizinkan kamu ikut. Tapi Bunna belum bisa sayang, nanti ada saatnya kita bisa sama-sama terus," jawab Kalisa meyakinkan anak itu. Dia tidak mau membuat Fino salah paham tapi dia bingung cara menjelaskannya.


"Iya, Bunna pulang aja..!" Ucap Fino kemudian berdiri. Dia pergi menuju ke dalam panti meninggalkan Rio dan Kalisa. Anak balita itu merasa kecewa untuk kesekian kalinya. Disaat dia berharap Kalisa membawanya pulang, tapi kata-kata Kalisa tetap sama, menolak membawa dirinya secara halus. Fino berpikir dia memang tidak penting untuk Kalisa.


"Fino…, tunggu Bunna..!" Teriak Kalisa.


Tapi Rio mencegah Kalisa yang mengejar Fino dengan mencengkram pergelangan tangan Kalisa. "Kalisa, sebaiknya jangan terlalu memaksakan Fino untuk mengerti, dia hanya anak kecil, biarkan dia dulu, dia juga butuh waktu..!" Ucap Rio.


"Tapi Mas, dia terlihat kecewa, aku harus menjelaskannya," jawab Kalisa.


"Apa kamu mau menjelaskan jika kamu tidak bisa mengadopsi dia karena beberapa hal? Dia anak kecil, mana mungkin mengerti, sebaiknya nanti aku mencoba memberi pengertian juga sama Fino, kamu gak usah khawatir..!" Ucap Rio.

__ADS_1


Kalisa menunduk, dia menyetujui apa yang dikatakan Rio karena memang tak banyak yang bisa dia lakukan.


***


Sementara itu di Rumah Sakit ternyata Felisha mendapatkan kunjungan dari seseorang. Felisha malah mengamuk kala itu, dia seperti tidak suka dengan kehadiran orang tersebut.


"Pergi..!" Teriak Felisha.


Orang itu tak menjawab, dia hanya melihat Felisha dari kejauhan. Pipinya mulai basah dibanjiri oleh air mata, melihat Felisha yang mengamuk dan mendapatkan suntikan penenang, membuat seseorang itu semakin sesenggukan. Dia seakan ikut merasakan kesakitan yang dirasakan Felisha, meski Felisha tidak mau dia berada disana.


Riani yang mendapat kabar kalau Felisha mengamuk lagi, dia pun tak berpikir panjang. Dia langsung menuju Rumah Sakit Jiwa bersama Syahla, mengingat ibu dan anak ini sudah beberapa hari tidak bertemu.


Pertemuan Felisha dan Syahla beberapa hari lalu juga membuat ibu baru itu lebih tenang. Felisha menyadari kalau Syahla anaknya, meski beberapa menit kemudian dia menolak keberadaan Syahla dan mengatakan kalau dia bukan anaknya karena bukan anak Rio.


Riani takut keadaan Felisha akan seperti itu terus sampai Syahla tumbuh besar. Dimana ada saatnya nanti Syahla merasa tidak suka dengan keadaan ibunya, bahkan ada kemungkinan Syahla menolak menerima Felisha ibunya. Ditambah nanti akan ada Bullyan di sekolah jika keadaan ibunya tersebar. Itu sungguh tidak baik untuk kehidupan Syahla kedepannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Riani melihat seorang wanita yang sedang menangis berada di depan ruangan Felisha, dan lelaki yang sedang menenangkan wanita itu. Riani tak ambil pusing dia langsung menuju ruangan Felisha, disitu masih ada dokter dan Felisha yang terbaring.


Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Riani berniat pulang saja. Tapi langkah Riani terhalang wanita asing tadi.

__ADS_1


"Sebentar Bu, sebenarnya anda siapa? Apakah anda yang memasukan anak saya ke tempat ini. Maksudnya apa? Jangan-jangan Anda yang membuatnya sampai seperti ini, saya tidak akan membiarkan Anda lolos!" Ucapnya.


Anaknya, siapa? Apa dia salah orang? Batin Riani.


"Maaf Bu, saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan, saya permisi," jawab Riani kemudian mendorong roda bayi Syahla.


Baru saja beberapa langkah, wanita itu berteriak.


"Dina, kenapa Dina ku berada ditempat seperti ini? Kamu baru saja keluar dari ruangannya."


Riani berhenti, dia membalikan badannya. "Maksud ibu Felisha? Kamar yang ini?" Tanya Riani memperjelas kesalah pahaman ini, dia menunjuk ruangan Felisha.


"Felisha? Dia Dina anakku, dia memang sempat kabur dari rumah dan hilang kabar. Aku tak menyangka setelah beberapa tahun malah menemukannya di tempat seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan luka batin yang dia terima sampai bisa ada ditempat ini, ayo jelaskan padaku!" Ucap wanita itu dengan emosi dan berlinang air mata.


Riani yang melihat ibu itu menangis begitu terluka, dia pun mencari tempat yang nyaman untuk mendiskusikan ini semua. Riani menjelaskan jika itu Felisha bukan Dina, tapi setelah melihat foto-foto Felisha diponselnya. Riani terkejut dan percaya jika wanita itu memang ada hubungan keluarga dengan Felisha.


Riani bersyukur saat itu karena menemukan titik terang. Dia mulai menjelaskan semua yang terjadi antara Felisha dan Rio anaknya.


"Jadi ini cucuku?" Tanya wanita itu dengan mata berbinar.

__ADS_1


Wanita itu mendekat ke arah roda bayi itu dan menatap Syahla dengan lekat. Memperhatikan bayi itu, hidungnya, matanya, dagunya, bibirnya. Ada raut sedikit kecewa terlihat dari wajah wanita itu, dia tidak jadi menggendong Syahla.


Bersambung ….


__ADS_2