Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Mengerjai Felisha


__ADS_3

Rio (Fino) ingin memperlihatkan sifat kasar Felisha pada kedua orang tuanya terlebih ibunya kalau ayahnya memang sejak dulu tidak menyukai Felisha dan tidak merestui hubungan mereka dulu, dia berusaha menjatuhkan minuman dingin milik Felisha dan minuman itu jatuh mengenai bajunya.


"Aduh, kamu ini anak nakal, pake mata dong! Masa gelas disini gak kelihatan," ucap Felisha, lalu dia berdiri, dia menjewer telinga Fino sekencang mungkin, dia tidak rela baju mahalnya itu kena noda yang susah hilang.


"Aw, aw, sakit Tante, Fino gak sengaja," ucap Fino.


Semua pengunjung menatap ke arah Felisha, semua orang menilai kalau wanita itu bersikap berlebihan, bukankah wajar jika anak kecil menumpahkan minuman, itu ketidaksengajaan.


"Lepaskan Fel, dia hanya anak kecil, kamu keterlaluan," ucap Gerhana.


Gerhana langsung membawa Fino ke pangkuannya, "Fino gapapa sayang? Cup… cup.. jangan nangis lagi ya..! Mana yang sakit? Coba kakek lihat..!" ucap Gerhana lalu meniup pelan telinga yang memerah itu.


Sementara bu Riani diam, dia bingung harus bagaimana, dia sekarang hanya sedang menahan malu dengan tatapan semua orang, ingin rasanya dia memarahi Felisha tapi ada janin di perut menantunya itu yang nantinya akan jadi cucunya, dia tentu harus memperlakukan Felisha dengan baik dan lemah lembut.


"Udah Pah, Felisha mungkin kaget jadi dia refleks marah, sebaiknya kita pulang saja, Mamah ke mobil duluan sama Felisha, nanti Papah nyusul..!," Ucap Riani bergegas menggandeng Felisha dengan wajah yang ditutupi oleh tangannya yang sebelah lagi, Bu Riani merasa malu.


Sesampainya di mobil, Felisha dipakaikan jaket milik pak Gerhana oleh Bu Riani, "pasti dingin ya Fel? Nanti kita mampir ke toko baju ya?" Tanya bu Riani.


Felisha mengangguk, dia berusaha tenang padahal jauh di lubuk hatinya dia masih ingin marah. Sabar Fel.. kamu jangan sampai emosi lagi..! Batinnya.


Gerhana pun datang, mereka langsung pergi meninggalkan rumah makan Kalisa, lelaki itu pergi dengan wajah yang susah ditebak, dia sempat mengobrol sebentar dengan Kalisa saat mengantar Fino.


***

__ADS_1


Sesampainya di kontrakan, Kalisa merasa tubuhnya benar-benar butuh istirahat, dia mengantar Fino ke kamarnya, ya… anak itu sudah mandiri dan punya kamar sendiri, kebetulan kontrakan itu memeiliki dua kamar.


Fino pun pura-pura tidur, "Fino…, selamat malam sayang, tidur yang nyenyak ya..!" Ucap Kalisa lalu mengecup kening anak balita itu, dia pun bangkit dan bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Untung saja tadi papah tidak menceritakan tentang kejadian tumpahnya minuman ke baju Felisha dan tidak melihat telingaku yang memerah, jadi Kalisa tidak tahu, batin Fino.


Fino merasa terganggu dengan kabar kehamilan Felisha, dia mencoba mengingat sesuatu dimasa lalu.


Flashback


"Apa itu?" Tanya Rio pada Felisha yang kemudian dengan cepat istrinya itu memasukan benda tadi kedalam tas.


"Bukan apa-apa sayang, itu hanya brosur tidak penting, aku berangkat ya sayang, aku ada jadwal syuting siang ini," ucap Felisha.


"Gak usah sayang, soalnya aku pasti akan lama dan kamu tidak suka kan menunggu lama tanpa melakukan apapun?, aku takut kamu bosan nanti, aku akan pastikan pulang lebih cepat kok," jawab Felisha lalu mencium pipi suaminya, dia berlalu pergi membawa kunci mobilnya.


Rio menatap kepergian istrinya itu dengan hati yang gelisah, dia sedikit curiga ada sesuatu yang disembunyikan Felisha.


Rio akhirnya memutuskan pergi mengikuti sang istri, dia seperti penguntit, hingga mobil itu berhenti di sebuah cafe.


"Kenapa dia malah ke cafe, bukannya dia mau ke lokasi syuting?" Gumam Rio.


Dia memarkirkan mobil ditempat lain, lalu dia berjalan menuju cafe itu, dia memakai topi dan juga masker untuk menybunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Astaga, dia bersama lelaki itu lagi," gumam Rio dengan mengepalkan tangannya, dia sungguh geram, lelaki itu memang lebih tampan bahkan lebih muda darinya, "apa mungkin Felisha benar-benar berpaling dariku? apa dia lebih suka berondong?" Gumamnya lagi.


Rio memilih meja, dia duduk dan mulai memesan minuman agar tidak terlalu mencurigakan, dia mengamati dua sejoli itu, mereka tampak mesra, lalu Felisha terlihat mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya, lelaki itu berdiri seperti terkejut, bahkan Rio melihat mereka cek-cok.


Apa mereka bertengkar? Batin Rio.


Tak berselang lama, Felisha memeluk lelaki itu hingga luluh dan mulai duduk kembali, berbincang lagi dan mereka pergi dari sana.


Rio pun ikut mengikuti mereka lagi, dia berlari menuju parkiran yang lumayan jauh, untung saja dia sempat mengejar mobil Felisha, "bukankah di depan ada klinik besar? Apa mereka akan pergi kesana?" Gumam Rio.


Karena dari jarak jauh Rio melihat jika mobil itu sepertinya akan masuk ke parkiran klinik itu, namun karena Rio terlalu fokus melihat ke arah mobil Felisha, dia tidak menyadari kalau ada truk besar yang oleng dan menghantam mobilnya tanpa dia sadari dan tanpa sempat melakukan usaha untuk menghindar.


Sakit sekali, apa aku akan mati sekarang? Aku berharap bisa memiliki kesempatan kedua dan memperbaiki semuanya, aku salah karena telah memilih Felisha, aku juga ingin punya kesempatan untuk meminta maaf pada Kalisa, batinnya.


Rio merasakan sakit yang luar biasa, dia mulai pusing, dan dia tidak sadarkan diri.


Flashback off


Apa jangan-jangan yang disembunyikan Felisha dulu itu tes kehamilan miliknya? Apa dia selingkuh dan merasa bingung itu anak aku atau lelaki selingkuhannya?, Yang jelas aku harus tahu dulu berapa usia kandungannya, jika memang lebih dari 3 bulan aku harus melakukan tes DNA nanti, tapi jika kurang dari itu, aku yakin itu anak selingkuhannya, mana mungkin suami koma bisa menanam benih, batin Rio (Fino).


Anak balita itu menatap langit-langit kamarnya, "kecelakaan itu adalah takdirku, masuk ke tubuh bocah ini pun adalah takdirku, aku bisa tahu kebenaran tentang Kalisa, dan aku juga tahu kebenaran tentang felisha yang bukanlah pilihan yang tepat, aku pasti kembali ke tubuhku, entah itu kapan, tapi aku yakin itu pasti waktu yang terbaik," gumam Rio (Fino).


Rio berusaha memejamkan matanya, malam ini dia ingin tidur dan beristirahat, karena hanya dengan tertidur dia bisa melupakan semua masalahnya yang rumit ini.

__ADS_1


Bersambung …..


__ADS_2