
Gerhana dan Riani akhirnya sampai di Rumah Sakit, dokter menjelaskan jika Rio tadi sempat kritis dengan detak jantung yang melemah, tapi untunglah kini dia baik-baik saja.
"Syukurlah…, Mamah gak rela Pah, gak rela kalau Rio pergi sekarang, hiks…," ucap Riani dengan tangisannya.
"Iya Mah, semoga Rio baik-baik saja dan bisa cepat bangun dari komanya, Mamah harus yakin kalau anak kita kuat dan pasti bisa sembuh..!" jawab Gerhana.
"Iya Pah, Mamah akan sabar menunggu kesembuhan Rio," ucap Riani yang kini membelai rambut Rio.
"Apa kita kabari Felisha Mah? Siapa tahu kan kondisi Rio membaik jika ada dia, meski Papah tidak menyukainya tapi jika dia bisa menjadi penyemangat untuk Rio, Papah tidak akan mempermasalahkannya," tanya Gerhana yang meminta saran dari istrinya itu.
"Tidak usah Pah, Felisha lagi bedrest. Dia pasti butuh banyak istirahat dan tidak bisa datang, biarkan saja dia fokus dengan kehamilannya Pah..!" Jawab Riani, sebenarnya Riani juga malas bertemu Felisha yang bermuka dua itu.
Gerhana mengangguk, malam itu mereka menginap di Rumah Sakit karena khawatir dengan keadaan Rio yang sempat menurun.
***
Saat pagi datang, Gerhana pamit untuk pergi ke kantor sebentar karena ada urusan yang memang tidak bisa diwakilkan.
"Gapapa, Papah pergi aja ke kantor, Mamah beneran gapapa kok Pah," ucap Riani yang meyakinkan suaminya.
"Yaudah, tapi kalau ada apa-apa langsung telepon Papah aja ya, jangan merasa mengganggu Papah..! Urusan keluarga lebih penting buat Papah," jawab Gerhana.
"Iya, Papah hati-hati di jalannya ya..!" Ucap Riani kemudian tersenyum, dia bahkan melambaikan tangannya diambang pintu.
__ADS_1
Kini Riani duduk disamping Rio, menggenggam tangan itu dengan erat, berharap ada keajaiban datang dihari ini.
"Rio jangan buat Mamah khawatir sayang..! Semoga kamu cepat sadar, mamah sangat mengharapkan kesembuhanmu Nak, mamah rindu, hiks…," ucap Riani dengan air mata yang mengalir begitu derasnya, dadanya terasa sesak, ingin rasanya dia menggantikan posisinya dengan anak lelakinya itu, dia tidak sanggup melihat anaknya sakit seperti ini lebih lama lagi.
Setiap hari Riani sangat tersiksa dengan rasa sedih, rasa khawatir dan rasa takut kehilangan Rio, dia takut jika suatu saat Rio yang koma akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Rio…, kamu yang kuat ya Nak, kamu harus sembuh..!" Ucap Riani lagi.
Siang pun tiba, Riani sebenarnya sudah menyuruh asistennya membawakan makanan, namun Kiki belum juga datang, Riani bangkit dari tempat duduknya, dia mencoba menelpon Kiki namun tidak diangkat, kemudian dia menyuruh pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Rio pergi membeli makanan ke Rumah Makan Kalisa.
"Entah mengapa aku tidak bisa lupa dengan rasa masakannya, aku selalu menginginkannya dan tiba-tiba aku juga teringat dengan Kalisa," gumam Riani.
Hati kecil Riani mengatakan jika Kalisa memang wanita baik dan tulus tapi beberapa bukti nyata yang dia lihat mengatakan kalau Kalisa tak sebaik itu, apalagi dengan kebenaran kalau Kalisa sudah memiliki calon suami, mempunyai hubungan dengan lelaki lain saat suaminya koma.
Saat ini Wanita itu yang tidak kuat menahan rasa ingin buang air, diapun memilih meninggalkan Rio sesaat, lagi pula kamar itu difasilitasi kamar mandi juga, dia tidak akan pergi jauh, tapi saat dia kembali dia terkejut dengan sosok dokter yang dia kenal.
"I-iya Bu, do-dokter Nadim menyuruh sa-saya memeriksa pasiennya, dia sedang ada urusan penting," jawab Riki dengan gugup.
"Apa benar begitu? Hmm.. jadi bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Riani yang lebih penasaran dengan keadaan anaknya tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Normal Bu, semuanya normal," jawab Riki.
Akhirnya Riki meninggalkan ruangan itu, dia pikir memang tidak ada yang berjaga di kamar Rio. Lelaki itu pergi dengan terburu-buru, bahkan dia hampir terjatuh karena kurang fokus.
__ADS_1
Kini Riki berada di dalam ruangannya, dia bernafas lega, dia mengambil air minum dan langsung meneguk air yang penuh satu gelas itu.
"Beruntung aku tidak ketahuan, kenapa bisa dia masih selamat? Apa dia kucing yang memiliki 9 nyawa? aku kira dia sudah tinggal nama," gumam Riki.
Ya .. kemarin sore ternyata Riki menyuntikan sesuatu di alat infus Rio, lelaki itu telah dibutakan oleh sesuatu, dia kini begitu menginginkan Kalisa, mencoba menghilangkan semua penghalang yang menghadangnya, entah apa spesialnya Kalisa hingga membuat dokter muda ini berbuat nekat.
***
Sementara Riani tetap setia menjaga anaknya itu, ditatap lekat wajah anaknya yang seakan sedang tertidur dengan nyenyak, wajahnya begitu tenang, wajahnya yang tampan kini sedikit putih pias membuat ibu Rio merasa semakin sedih.
"Nak, kapan kamu sadar?" Gumam Riani.
Namun terlihat gelagat aneh dari Rio, tubuhnya tiba-tiba kejang. Riani tentu saja panik, dia segera berteriak memanggil dokter, dia menekan bel darurat di dekat rajang itu berkali-kali, pengawal di depan pintu pun langsung dengan sigap memanggil dokter.
"Rio…, kamu kenapa Nak? Jangan buat Mamah takut dong Rio!" Teriak Riani sambil menangis, dia menatap tubuh anaknya yang kejang tanpa berani menyentuhnya.
Tubuh lelaki itu terus saja tak mau diam, seakan ada sesuatu yang tidak beres, dokter belum juga muncul hingga Riani menyambar ponselnya dan berusaha menghubungi suaminya.
Tut
Tut
"Hallo pah, Rio Pah Rio…, Rio kejang pah, mamah takut kehilangan Rio, hiks …. Hiks …," ucap Riani.
__ADS_1
"Astaga, mamah yang kuat ya..! Papah akan segera datang, berdoa saja supaya Rio bisa melewati masa-masa kritisnya, tunggu Papah ya..!" Jawab Gerhana.
Bersambung ….