
Sejak Felisha tahu Rio sudah sadar, dia tidak menemui Gani lagi, dia takut kalau Rio curiga padanya, padahal Rio sudah tahu, Rio hanya pura-pura tidak tahu.
"Sayang, anak kita ingin makan malam diluar, makan malam romantis, ayolah… kita makan di luar ya?" Pinta Felisha.
Aku malas sekali harus makan malam diluar, aku sedang tidak ingin kemana-mana, aku masih kepikiran sama Kalisa, tapi aku tidak mau Felisha curiga, batin Rio.
"Iya, ayo kita makan diluar," jawab Rio dengan senyuman yang dipaksakan.
Usia kandungan Felisha kini berusia 7 bulan, janin itu terkadang bergerak menendang perut Felisha tapi Rio tidak merasakan kebahagiaan atau keinginan untuk menyentuh perut istrinya itu, apakah itu feeling atau bukan yang jelas Rio sebenarnya sudah tidak ingin berhubungan dengan apapun yang berkaitan mengenai Felisha, dia sering kali mengabaikan permintaan istrinya itu, namun saat Felisha berkata ini dan itu dan mulai mengatakan kalau Rio berubah, maka Rio akan berpura-pura minta maaf.
Itu dia lakukan karena permintaan Riani, ibunya masih penasaran dengan anak yang dikandung Felisha, dia yang ingin memeiliki cucu bahkan sangat berharap jika itu anak Rio. Riani juga terkadang datang berkunjung dan berpura-pura baik pada Felisha, padahal dia hanya peduli pada bayi yang ada diperut mennatunya itu.
***
Mereka pun tiba dan mulai makan malam, Felisha memanfaatkan kehamilannya untuk mendapatkan perlakuan khusus, dia bahkan meminta Rio menyuapinya sampai makanan itu habis.
"Makasih sayang …," ucap Felisha pada Rio.
"Iya, apa kamu senang? Kalau kamu sudah puas, mari kita pulang..!" Ucap Rio yang bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo…, tapi aku mau mampir dulu ke toko peralatan bayi, aku ingin membeli baju-baju untuk anak kita nanti," ucap Felisha.
"Itu kan masih terlalu lama, nanti aja..!" Jawab Rio, lelaki itu sudah lelah dengan pekerjaan kantor hari ini, malam hari malah diajak makan diluar, dan sekarang harus mengantarnya belanja. Itu sangat membuat Rio lelah.
"Tapi bayi kita maunya sekarang," rengek Felisha.
"Yasudah ayo, jangan lebih dari satu jam..!" Ucap Rio.
__ADS_1
"Iya aku janji, makasih sayang…," jawab Felisha sambil bergelayut manja di lengan suaminya itu.
Setelah selesai berbelanja mereka benar-benar pulang ke rumah. Rio langsung terkapar dan tertidur sangat lelap karena kelelahan, sementara Felisha masih melihat-lihat pakaian bayi yang ia beli, semuanya tampak lucu dan wanita itu terus saja merapikannya meski sebenarnya tidak berantakan.
"Ini lucu sekali, pasti anakku akan setampan ayahnya, ya … aku berharap dia mirip dengan Rio, karena aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Gani, karirnya begitu mengkhawatirkan, aku tidak mau hidup miskin," gumam Felisha.
Baru saja dia membicarakan lelaki yang dulu begitu dia cintai, ternyata lelaki itu menelpon Felisha terus menerus karena diabakan oleh Felisha. Karena berisik akhirnya wanita itu mengangkat telepon itu.
"Ada apa, menelpon malam-malam begini?" Tanya Felisha.
"Aku rindu, kapan kita bisa bertemu sayang?" Tanya Gani.
"Kamu kan tahu Rio sudah sadar, kita tidak bisa bertemu lagi, itu sangat beresiko, harusnya kamu mengerti itu!" Jawab Felisha kesal.
"Tapi, kamu sudah jarang sekali menghubungiku, aku takut kamu mulai jatuh cinta lagi dengan suami dinginmu itu," jawab Gani.
"Baiklah, tapi aku lagi butuh uang sayang, kamu transfer ya 50 juta besok..!" Ucap Gani.
"Untuk apa?" Tanya Felisha yang kaget, dia tidak mau jika uang yang diperoleh susah payah dari Rio pada akhirnya harus diberikan pada Gani atau keluarganya
"Mamaku lagi butuh tambahan dana buat bisnisnya, ayolah … suamimu kan kaya raya..!, Apa kamu mau aku mendatangi Rio dan mengatakan kalau aku pernah tidur dengan istrinya ini? Ekhem…," ancam Gani.
Dia memanfaatkanku lagi? Astaga, kenapa aku dulu begitu mencintainya? Batin Felisha kesal.
***
Sementara di panti asuhan, Kalisa yang baru datang disambut hangat oleh semua anak-anak panti terutama Fino. Anak balita itu berlari kegirangan sambil berteriak, "Bunna….."
__ADS_1
Kalisa berjongkok dan memeluk Fino dengan erat. Dia bahagia karena saat dia berkunjung ke panti ini Fino ternyata masih tinggal disini, belum ada keluarga yang mengadopsinya.
"Apa kabar sayang?" Tanya Kalisa.
Fino melepaskan pelukannya, "kabar Fino baik Bunna, Fino lindu," jawab Fino.
"Bunna juga rindu, nanti Bunna akan lebih sering datang kemari menjenguk Fino, oke?" ucap Felisha sambil tersenyum.
"Tapi Fino ingin ikut sama Bunna," jawab Fino dengan mata berkaca-kaca. Membuat Kalisa bingung dan tidak tega melihat mata bulat bening indah itu.
Ah, andai saja aku bisa mengadopsi Fino, batin Kalisa.
Setelah puas bercanda ria dengan anak-anak panti, Kalisa pun berbincang dengan ibu panti. Mereka membahas Fino, anak balita itu lebih pendiam setelah kepergian Kalisa, ibu panti sedikit khawatir dan memintanya untuk mengadopsi Fino secepatnya jika memang Kalisa ingin.
"Maaf Bu, tapi saya masih belum bisa memenuhi syaratnya," jawab Kalisa.
"Bukannya kamu memiliki hubungan khusus dengan dokter Riki, apakah kalian sudah menikah?" Tanya ibu panti.
"Tidak Bu, kami ternyata bersaudara meski dokter Riki itu kakak angkat saya," jawab Kalisa.
"Kok bisa? Jadi yang kemarin datang bersama dokter Riki itu siapa?" Tanya ibu Panti.
"Beliau kakek kandung saya Bu, dan dokter Riki diangkat oleh ibuku kandung saya dulu, ceritanya panjang Bu," jawab Kalisa.
"Syukurlah kamu bertemu keluargamu, bertemu orang-orang baik seperti dokter Riki, lalu kenapa dokter Riki tidak ikut menemani kamu kesini, pasti sibuk sekali dengan pasiennya? Hehe…," Tanya Bu Panti.
"Hem…, dokter Riki sedang tersandung kasus hukum Bu, saya hanya berharap ada jalan keluar yang terbaik untuk dia," jawab Kalisa sambil menunduk.
__ADS_1
Bersambung….