
Kalisa mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya bersentuhan dengan dinding.
"Mah, jangan bikin rusuh disini, ayo kita masuk aja lihat keadaan Felisha, dia sepertinya sudah bangun..!" Gerhana menarik lengan istrinya, dia tidak mau kalau istrinya itu melukai Kalisa, gerhana yakin seyakin-yakinnya kalau Kalisa wanita yang baik dan tulus.
Setelah Bu Riani pergi akhirnya Kalisa kini bisa bernafas lega.
"Kamu gapapa?" Tanya Riki dengan nada khawatir.
"Gapapa ko Mas," jawab Kalisa sambil memeluk erat tubuh Fino yang digendongnya.
"Yaudah kamu tunggu disini dulu, biar aku saja yang pamit pada mereka dan kita segera pulang..!" Ucap Riki.
Kalisa mengangguk kecil, dia masih belum bisa banyak bicara karena kaget dengan kejadian barusan, biasanya ibu mertuanya itu akan bersikap lembut padanya, tapi akhir-akhir ini dia mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda, Kalisa masih belum terbiasa.
Setelah berpamitan, Riki mengajak Kalisa pulang, mereka memesan taksi online karena mobil Riki yang ditinggal di jalan tempat kecelakaan sebelumnya, mereka menuju tempat itu lagi dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil Riki.
"Kalisa kamu beneran gapapa kan?" Tanya Riki yang melihat Kalisa diam tanpa berbicara sepatah katapun selama diperjalanan.
"Aku gapapa Mas," jawabnya singkat.
"Kamu jangan melamun terus, oh iya memangnya kejadian tadi seperti apa sampai Felisha mengalami pendarahan? Maaf karena aku tidak bisa membelamu di depan ibu mertuamu karena aku benar-benar tidak tahu," ucap Riki.
"Aku juga gak tahu Mas, pas aku samperin dia udah jatuh, sebelumnya memang aku melihat dia lagi marah-marah karena jalanan macet dan sempat protes pada polisi lalu lintas tadi, tapi aku gak tahu penyebab dia bisa jatuh," jawab Kalisa.
"Oh begitu, ya sudah kalau kamu memang gak salah kamu gak usah takut dan khawatir begitu, kamu gak usah memikirkan hal yang tak penting, jagalah kesehatanmu karena Fino pasti membutuhkanmu..!" Ucap Riki.
"Ah iya," jawab Kalisa lalu mengangguk.
Mereka pun sampai di kontrakan, Fino masih tertidur membuat Kalisa masih harus menggendong anak balita itu, dia tidak tega jika harus membangunkannya.
"Besok libur, perbanyak istirahat..! Selamat malam Kalisa, aku pamit pulang ya?" ucap Riki dengan tersenyum
__ADS_1
Kalisa hanya mengangguk kecil dan membalas senyuman lelaki itu.
***
Keesokan harinya Fino bangun lebih dulu, dia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi, lalu dia berjalan ke dapur untuk melihat Kalisa yang biasanya sudah memasak.
"Kenapa belum ada sarapan, apa Kalisa masih tidur? Tidak biasanya seperti ini," gumam Fino berlalu pergi ke kamar Kalisa untuk mngecek.
Tok
Tok
Tok
"Bunna…..," teriak Fino sambil mengetuk pintu, tentu dia tidak bisa membuka pintu karena handle pintu yang tinggi.
Namun tidak ada sahutan dari dalam, apa dia sedang mandi? Batin Rio (Fino).
Ceklek
Akhirnya pintu terbuka, terlihat Kalisa yang lemah membuka pintu perlahan, dia memakai jaket tebal.
"Bunna kenapa? Bunna sakit?" Tanya Fino khawatir.
"Ah Fino, sepertinya Bunna memang sakit, apa kamu lapar sayang? Biar Bunna bikinin nasi goreng ya, kamu tunggu disini sebentar..!" Ucap Kalisa.
"Tidak usah Bunna, aku gak lapar kok," ucap Fino berbohong, dia tidak mau menyulitkan Kalisa, seharusnya dia sebagai Rio mampu merawat Kalisa bukan malah merepotkannya.
Rio (Fino) mengajak Kalisa masuk kedalam kamar, memegang tangannya yang terasa panas, Kalisa demam.
Kalisa kini duduk di ranjangnya, Rio yang tidak tega dia berinisiatif membelikan sarapan untuk Kalisa, "Bunna, Bunna istirahat saja ya, bial Fino beliin bubul ayam aja di depan sana..!" Ucap Fino.
__ADS_1
"Hmm, apa kamu bisa membelinya sendiri?" Tanya Kalisa.
Fino mengangguk, Kalisa pun memberikan dua lembar uang kepadanya, menyuruhnya membeli dua porsi bubur ayam.
Dengan ketampanan dan kepintaran Fino bahkan dia berhasil mendapatkan dua porsi bubur gratis ditambah dua plastik teh hangat, dia tersenyum senang, meski pipinya menjadi korban beberapa ibu-ibu yang berbelanja, namun itu tidak masalah, ini untuk kesekian kalinya Fino berusaha menebus kesalahannya.
Gapapa lah pipiku ini sedikit sakit, yang penting aku dapet bubur gratisan buat Kalisa, teh hangat ini juga bisa membuat perut Kalisa lebih baik, batin Rio.
Setelah selesai makan Kalisa pun istirahat, dia hanya minum obat yang tersedia saja, dia meminum obat penurun demam.
Ada beberapa panggilan telepon dari Riki namun sepertinya ponsel itu di silent hingga Kalisa tidak mendengarnya, Rio yang tak sengaja melihat nama Riki di layar handphone milik Kalisa, dia juga mengabaikannya, dia tidak ingin Riki selalu ikut campur urusan mereka.
Rio duduk di sisi ranjang, dia mengambil kain kompresan yang ada di dahi Kalisa lalu mencelupkannya lagi ke dalam air hangat dan memasangkannya lagi, dia merawat Kalisa kali ini dengan penyesalan dimasa lalu.
Cepatlah sembuh, aku tidak tega melihatmu sakit seperti ini, batin Fino (Rio).
***
Hari sudah siang, Kalisa hanya berbaring dan tak mampu berjalan karena dia mengeluh pusing, karena keadaan Kalisa yang semakin parah maka Rio tidak punya pilihan lain, dia terpaksa menghubungi Riki untuk meminta bantuan.
"Hallo, Kalisa kamu kok baru menelpon? padahal dari pagi tadi aku telepon gak diangkat, aku mau membahas bisnis kita, ada banyak pesanan untuk besok," ucap Riki panjang lebar karena dia sangka itu Kalisa.
"Om Liki, ini Fino, Bunna sakit, apa om bisa datang kesini, bantu bawa Bunna ke klinik atau Lumah Sakit?" Ucap Fino.
"Apa, Bunna sakit? Yaudah Fino tunggu disana, tungguin Bunna, om akan segera kesana..!" Ucap Riki.
"Iya om," jawab Fino lalu menutup teleponnya, dia beralih menatap Kalisa yang menatapnya dengan tatapan sayu, wajahnya juga pucat sekali.
"Bunna sabal ya, om doktel akan kesini bial Bunna bisa dipeliksa dan cepat sembuh," ucap Fino yang masih memegang ponsel itu.
Kalisa heran dengan Fino yang bisa memakai ponselnya, dia tahu kalau Fino yang menelpon Riki terlebih dulu, tapi yang terpenting kali ini adalah kesembuhannya, dia mengabaikan keanehan Fino itu, dia juga merasa bersalah karena tidak bisa merawat Fino dikala dia sakit seperti itu, membiarkan anak balita malah mengurusnya.
__ADS_1
Bersambung …