
Fino akhirnya menangguk, dia mengakui kalau dia memang ingin tetap tinggal.
"Ya sudah, kamu tinggal disini aja sama Bunna..!" Ucap Riki.
Lelaki itu menoleh pada Kalisa, "kamu boleh kok tinggal disini sampai kapanpun, kalau masalah pekerjaan, nanti aku bantu cari, bagaimana?" Tanya Riki.
Kalisa menatap wajah Fino yang seakan memohon, "baiklah, maaf ya Dokter saya selalu merepotkan," ucap Kalisa sambil menunduk karena dia malu meminta bantuan terus pada Riki.
"Gapapa, nanti saya bantu, kalau begitu saya permisi dulu ya, saya kan tadinya mau pergi bersama kalian, eh ternyata saya harus pergi sendirian, hehe…," ucap Riki.
Lelaki itu pun pamit karena memang dia harus segera pergi.
***
Keesokan harinya Kalisa mencoba mencari pekerjaan sambil berkeliling kota, dia juga rindu kota itu. Dia sering sekali berbelanja ke pasar tradisional di sekitar sini bersama ibu mertuanya.
Kalisa kini merindukan masa-masa itu, saat ini dia merasa sedikit kecewa akan hubungannya yang tidak baik dengan mertuanya ibu Riani.
"Bunna, kenapa kita kesini?" Tanya Fino, Rio tidak suka pasar tradisional yang kotor, dia lebih suka berbelanja di supermarket.
"Kita belanja disini saja ya, persediaan makanan dikontrakan juga sepertinya mulai habis, Bunna tidak mau merepotkan om dokter terus," jawab Kalisa.
Tanpa menunggu jawaban dari Fino, Kalisa langsung menggandeng tangan Fino masuk ke dalam pasar untuk membeli beberapa bahan makanan, dia juga menanyakan lowongan pekerjaan di sana, dia tidak masalah jika harus berjaga toko yang penting dia mendapatkan pekerjaan, dia juga sadar diri kalau dia hanya lulusan Sekolah Menengah Atas.
"Bunna …," ucap Fino.
"Kenapa Fino, kamu mau beli apa? Apa mau makan sama ikan goreng?" Tanya Kalisa.
Fino menggeleng, sebenarnya Rio hanya tidak enak karena dirinya Kalisa harus mencari pekerjaan di pasar ini.
__ADS_1
"Ya udah, kalau kamu mau sesuatu bilang aja ya sayang..! Fino gak usah khawatir, Bunna punya uang kok," jawab Kalisa sambil tersenyum.
Memang wanita itu masih memiliki simpanan uang, karena perawatan Fino kemarin di Rumah Sakit sudah dibiayai oleh Riki.
Fino pun tersenyum, Rio merasa jika Kalisa memang orang yang tulus, yang terkadang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
Tanpa sengaja Kalisa bertemu Bu Riani, namun Bu Riani berpura-pura tidak melihat Kalisa, dia sibuk dengan belanjaannya, mertuanya belanja dengan ditemani asisten rumah tangganya yang bernama Hani.
"Bu, bukannya itu Non Kalisa?" Tanya Hani.
"Biarin aja Han, pura-pura gak lihat aja, cuekin aja..!" Jawab Bu Riani yang mampu membuat Hani Diam, dia tentu tidak mau melawan majikannya.
Ibu kenapa? Padahal aku lebih mempercayai non Kalisa dari pada non Felisha, aku harap ibu tidak dimanfaatkan oleh non Felisha, menurutku yang jadi korban itu non Kalisa bukan den Rio ataupun non Felisha. Pikir Hani
Pembantu Riani itu memang tahu perlakuan Rio pada Kalisa, tahu bagaimana permasalahan rumah tangga mereka karena sempat ditugaskan di rumah Rio beberapa Minggu, namun dia tidak bisa mengadukan kelakuan anak majikannya itu, dia takut Bu Riani menganggapnya memfitnah anaknya dan dia malah dipecat.
Kasian non Kalisa, batin Hani.
Akan ku suruh Rio untuk mengurus surat perceraiannya dengan Kalisa setelah dia sadar, so polos... padahal penuh tipu daya, pikir Riani.
Fino yang rindu dengan ibunya, dia menggenggam tangan Bu Riani saat melewati dirinya, ibu… kenapa ibu bersikap seperti itu pada Kalisa? Bukankah ibu selalu membanggakannya dulu? Batin Rio (Fino).
Bu Riani menghentikan langkahnya sejenak saat merasa ada yang memegang tangannya, dia melihat kebawah dan mendapati anak kecil memegang tangannya, "anak kecil, kamu menggemaskan sekali, tapi sayang nenek mau pulang dulu, lepaskan tangan nenek ya..!" Ucap Bu Riani pada Fino, dia begitu menyukai anak kecil, terlebih Fino sangat menggemaskan, namun mengingat jika dia anak Kalisa yang mungkin lahir sebelum menikah dengan Rio, itu membuat Bu Riani enggan bersikap manis pada Fino.
Fino (Rio) dengan refleks melepaskan tangannya saat mendengar ibunya menyuruhnya melepaskan tangannya.
Fino (Rio) menunduk, dia sangat kecewa karena diabaikan oleh sang ibu, dia melihat kepergian ibunya, menatap terus menerus.
lain kali aku harus membuat ibu menyukaiku, aku harus memanfaatkan penampilanku yang menggemaskan, aku harus berusaha keras agar ibu juga percaya lagi pada Kalisa, pikir Rio (Fino).
__ADS_1
"Fino…, nenek itu baik, dia hanya sedang sibuk saja, apa kamu ingin bermain dengan nenek tadi? Lain kali pasti kita bisa bermain dengan nenek," ucap Kalisa lembut.
Fino pun mengangguk, "iya Bunna…," jawab Fino, Kalisa memang pintar membujuk, dan dia selalu berpikir positif, batin Rio.
Fino memeluk Kalisa, dia bahkan kini digendong Kalisa, Fino meletakan kedua tangannya di leher sang Bunna, untuk kesekian kalinya dia ingin bermanja-manja pada Kalisa, padahal dulu dia tidak pernah berpikir akan melakukan hal ini.
Mereka pun sampai di kontrakan, Kalisa tanpa rasa lelah, dia langsung menata semua belanjaan. Sementara Fino duduk karena kelelahan, Fino memakan ice cream yang dibelinya bersama Kalisa, itu sangat menyegarkan, dulu Rio tidak suka ice cream namun sejak menjadi Fino dia mulai menyukai ice cream lagi sebagai anak kecil.
Fino dan Kalisa memang menyempatkan makan diluar sebelum pulang, setelah Kalisa membereskan semuanya bahkan menyempatkan memasak untuk makan malam, dia kelelahan dan kini tertidur di sofa.
Fino yang baru bangun dari tidur siangnya itu, dia melihat lembaran formulir yang dipegang Kalisa, Fino mengambilnya dan mulai membacanya.
Pasti ini sangat mahal, apa aku sebaiknya pulang ke panti asuhan saja ya? Kasihan Kalisa yang harus bekerja keras untuk ini, aku selalu saja menyusahkannya, pikir Rio (Fino).
Fino mengambil selimut dikamar dan menyelimuti Kalisa, dia teringat saat dulu dia selalu membiarkan wanita itu tidur tanpa selimut hingga membuat istrinya itu terkena flu, namun untuk pertama kalinya dia memakaikan selimut agar Kalisa merasa nyaman.
"Maafkan aku yang terlambat menyadarinya Kalisa," gumam Rio (Fino).
Rio merasa jika dia itu adalah lelaki yang kejam saat melihat Kalisa apalagi melihat ternyata betapa baiknya wanita itu.
Rio (Fino) mendekati tubuh Kalisa lalu membelai pipi itu, namun sepertinya Kalisa menyadarinya, dia kini memegang tangan kecil milik Fino.
Deg
Rio kaget, dia merasa kalau dirinya adalah Rio, dia takut Kalisa tahu jika dia kini bersikap manis dan tiba-tiba peduli, dia terlalu gengsi untuk mengakui itu.
Rio (Fino) berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kalisa, namun itu sangat sulit, genggamannya begitu erat.
Jangan sampai aku ketahuan, pikir Rio (Fino).
__ADS_1
Bersambung ….