
"Astaga, Kalisa kamu kenapa? Apa salahku?" Tanya Rio.
"Hahahaha…," Husen tertawa melihat lawan mainnya disiram air.
Loh, apa ini nyata? Bagaimana ini? Batin Kalisa.
Kalisa memegang pipi Rio dengan tangannya, merasa itu bukan bayangan. Kalisa pun mundur dua langkah.
"Maaf Mas, aku tidak sengaja. Maaf ya Kek aku mengganggu kalian. Apa Kakek tidak mengantuk? Ini sudah malam loh Kek, jangan begadang..!" Ucap Kalisa.
Kalisa berusaha menahan rasa malu dan mengalihkan pembicaraan. Dia yang ingin segera pergi, tapi ternyata malah ditahan oleh sang kakek.
"Kalisa, bikinin Kakek kopi ya? Bikinan kami kan enak. Bikin dua gelas..!" Ucap Husen.
"Baik Kek," jawab Kalisa.
Rio pun pergi ke kamar Riki dan mengganti pakaiannya disana. Tentu saja dia meminjam baju milik Riki. Dokter muda itu kini sudah tinggal terpisah, membangun keluarga kecilnya dan hanya sesekali datang ke kediaman Husen.
Husen dan Rio pun menikmati kopi malam itu. Mereka berbincang bersama, Kalisa juga ada diantara mereka.
"Rio ini lagi bekerja keras, dia ingin mengalahkan Kakek biar dapet restu," ucap Husen.
Rio yang kaget sekaligus malu, dia menyemburkan kopi di mulutnya. Membuat kakek Husen sepertinya puas melihat reaksi Rio, Husen kembali tertawa puas. Sementara Kalisa bingung, dia menatap Kakeknya dan juga Rio bergantian.
"Maksudnya gimana Kek?" Tanya Kalisa.
__ADS_1
"Gapapa, Kakek sepertinya ngantuk. Kamu temenin Rio sebentar lalu antarlah sampai gerbang depan. Ingat jangan sampai dia menginap disini!" Ucap Kakek Husen berlalu pergi.
"Kakek…," protes Kalisa. Mana mungkin aku berani mengajaknya menginap disini, batin Kalisa.
Mereka berbasa basi sesaat, hingga Rio mengutarakan apa yang dirasakannya. "Apa yang dikatakan Kakek tadi benar, a-aku ingin mendapatkan restu dari Kakek," ucap Rio.
"Mas aneh, seharusnya tanya dulu perasaanku. Kalau Mas minta restu dulu tapi aku gak mau, itu kan sia-sia Mas," jawab Kalisa. Dirinya merasa tidak suka dengan sikap Rio yang seharusnya bersikap romantis dan menyatakan cintanya dulu pada Kalisa.
"Hmm…, jadi kamu menolakku?" Tanya Rio dengan lesu.
"Eh, bukan begitu Mas," jawab Kalisa yang tidak rela melewatkan kesempatan ini.
"Jadi kamu menerimaku?" Tanya Rio dengan senyumannya.
"Ih, bukan gitu maksudku Mas. Gak romantis banget deh," keluh Kalisa. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.
Rio pun bangkit dan mulai mengikuti wanita itu meski dia masih bingung dengan jawaban Kalisa. Jadi dia mau apa tidak? Batin Rio. Rio berpikir jika wanita memang sulit dimengerti.
Kini Rio sudah ada di depan mobilnya, saat ingin menanyakan perihal tadi. Kalisa malah keburu pergi, membuat Rio kini kecewa dan pulang dengan hati yang patah.
***
Saat pagi datang, Rio sarapan bersama keluarganya. Dia memang memilih tinggal bersama orang tuanya karena tidak mau kesepian.
"Kamu kenapa Rio, ada masalah di perusahaan?" Tanya Riani.
__ADS_1
"Gak Mah," jawab Rio singkat, dia masih memainkan sendoknya tanpa berniat memakan makanan yang hanya dia aduk-aduk itu.
"Jangan mainin makanan begitu Rio, kamu kan bukan anak kecil!" Ucap Gerhana.
"Maaf Pah, Rio gak nafsu makan sama sekali. Hari ini aku cuti aja Mah, Pah. Aku ke kamar dulu," ucap Rio berlalu pergi.
Gerhana dan Riani merasa kebingungan dengan anaknya yang berstatus duda itu.
"Padahal baru saja menduda tapi sudah begitu dia Mah, coba Mamah bicara sama Rio..! sepertinya dia galau karena wanita," Ucap Gerhana.
Riani pun mengangguk, dia pergi menghampiri Rio yang ada dikamarnya. Rio yang dalam keadaan galau itu mengeluarkan keluh kesahnya tentang jawaban Kalisa semalam.
"Hahahahaha….," Riani tertawa.
"Mamah kok malah senang anaknya galau, jadi menurut Mamah… Kalisa itu mau apa tidak?" Tanya Rio.
"Rio, kamu ini gak peka. Kalisa ingin kamu itu menyatakan cinta dengan serius. Melamarnya dengan membawa bunga dan cincin mungkin, yang romantis dong Rio!, mana ada melamar to the point begitu, hahaha…," tawa Riani pecah lagi.
"Hmm…, jadi aku harus bagaimana?" Tanya Rio.
"Persiapkanlah acara makan malam romantis, jangan lupa cincinnya..!" Ucap Riani kemudian bangkit dan melanjutkan tawanya sampai Rio masih saja bisa mendengar itu.
"Mamah masih menertawakan ku? Astaga… apa aku sebodoh itu? Aku memang tidak peka," gumam Rio.
Rio mengambil ponsel dan segera menelpon seseorang.
__ADS_1
"Aku harap semua akan berjalan sesuai rencanaku," gumam Rio.
Bersambung …