
Kalisa berlari terlebih dahulu, dia tentu sampai lebih dulu sebelum ibu Panti, ada rasa lega di hatinya saat melihat Fino tidak kenapa-kenapa. Anak balita itu sedang tidur tapi memang mengigau karena mimpi buruk.
Kalisa menghampiri Fino dan langsung memeluknya, mencoba membangunkan anak itu dari mimpi yang bisa membuat Fino hingga teriak begitu kencangnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Kalisa sambil menepuk pipi Fino dengan pelan agar anak itu terbangun.
"Bunna….," Panggil Fino lalu berhambur memeluk Kalisa dengan air mata yang mengalir deras.
Rio juga tidak bisa mengendalikan air mata bocah itu, dia seharusnya tidak menangis hanya karena sebuah mimpi, tapi mimpi itu memang sangat buruk dan Rio berharap jika mimpi itu hanyalah mimpi. Perlahan Fino (Rio) mulai tenang dan bisa menghentikan tangisannya.
"Coba cerita sama Bunna, kamu kenapa Fino?" Tanya Kalisa, meski dia tahu pasti Fino hanya mimpi buruk.
"Fino mimpi, mimpi buruk Bunna, Fino jadi inget om Lio," jawab Fino.
"Kenapa jadi om Rio?" Tanya Kalisa tidak mengerti.
"Fino mimpi om Lio ada yang jahatin telus meninggal," jawab Fino (Rio) dengan sekuat tenaga menahan agar tangisannya tidak pecah lagi.
Kalisa aku takut, aku bermimpi jika aku benar-benar mati dalam keadaan seperti itu, tanpa kata maaf yang terlontarkan untukmu, tanpa memberikan penjelasan apapun pada kedua orang tuaku, padahal aku berharap kita akan bersama lagi, batin Rio.
Kalisa mencoba menenangkan anak itu dan mengatakan jika itu hanya mimpi belaka sehingga tidak perlu dikhawatirkan, padahal hati Kalisa juga gelisah. Dia teringat Rio yang belum sempat dia jenguk lagi, seharusnya dia ke Rumah Sakit terlebih dahulu sebelum memutuskan kembali ke kota ini.
__ADS_1
Aku baru ingat jika aku juga melewatkannya, aku benar-benar lupa saking terburu-buru ingin kembali ke panti, aku berharap dia akan baik-baik saja, batin Kalisa.
Setelah beberapa saat Fino pun tidur kembali, Kalisa pun ikut tidur di kamar Fino, dia berjaga-jaga saja takut Fino bermimpi buruk dan teriak-teriak lagi. Dia yang gelisah juga memilih tidur ditemani bocah balita itu.
***
Saat pagi datang, Kalisa seperti biasanya menyiapkan makanan untuk anak-anak panti, dia teringat ponsel yang dimatikan, saat di cek ternyata banyak panggilan dari Riki banyak juga pesan masuk.
"Kenapa dia masih saja menghantuiku? Aku tahu dia telah membantu dalam banyak hal, tapi karena itu juga aku tidak mau kalau balas Budi menjadi alasan dia memaksakan perasaanya," gumam Kalisa.
Dan benar saja, langsung ada telepon masuk dari Riki, wanita itu meletakan ponselnya kembali dan memilih menghampiri Fino yang terlihat tidak bersemangat itu.
"Fino kenapa? Makan ya sayang..!" Bujuk Kalisa, dengan telaten Kalisa menyuapi anak balita yang menggemaskan itu.
Namun karena memang Fino yang berkulit putih bersih dan wajahnya yang tampan dan juga menggemaskan, membuat sepasang suami istri itu menginginkan Fino.
"Bagaimana Pah, yang ini sepertinya bagus Pah, mamah juga nanti gak akan malu bawa dia kemana-mana?" Bisik wanita itu ditelinga suaminya.
Aku merasa mereka bukanlah manusia biak, batin Rio.
Suami dari wanita itu pun mengangguk setuju, bahkan dia juga ikut mencubit pipi Fino yang mengembang itu.
__ADS_1
"Dia memang tampan," gumam lelaki itu, namun Fino membuang muka.
Saatnya mereka mengajukan pilihan mereka pada ibu panti, Fino yang tidak mau diadopsi itu, dia akhirnya berlari menyusul mereka dan dia angkat bicara.
"Hei, jika kalian mengadopsiku, aku pastikan akan menjadi sosok yang nakal dan menghabiskan uang kalian, aku tidak mau ikut dengan kalian!" Ancam Fino sesaat sebelum mereka mengatakan hal penting itu pada ibu panti, Fino (Rio) mengatakan itu bahkan dengan wajah marah.
Pasangan suami istri itu saling pandang, mereka lalu berdiskusi lagi, dan mereka izin pamit pada ibu panti dan berkata akan kembali besok, sepertinya mereka ingin berdiskusi lagi dirumah karena terlihat jelas jika si istri tetap menginginkan Fino, sementara si suami tidak mau.
Aku berharap bahwa mereka tidak akan kembali kesini, aku harus memastikan jika bocah balita ini akan jatuh ke tangan Kalisa dan juga aku sebagai orangtua angkat mereka, batin Rio.
***
Sementara ditempat lain, lebih tepatnya di Kediaman keluarga Gerhana, terlihat Riani yang sedang menerima telepon dari seseorang, wajahnya berubah panik bahkan memucat saat mendengar kabar buruk dari seseorang.
"Pah…, " teriak Riani.
"Ada apa sih Mah?" Tanya Gerhana.
"Rio…, Rio Pah, kita harus ke rumah sakit sekarang!" Ucap Riani memaksa bahkan dia mulai menangis dan histeris, membuat sang suami bingung dan ikut panik.
Gerhana yang penasaran, dia bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi , tapi istrinya itu tidak menjawab, Riani malah menangis sepanjang jalan, Gerhana hanya berharap anaknya Rio itu tidak apa-apa.
__ADS_1
Bersambung …