
Kalisa berniat melihat keadaan Rio, dia mencari nama pasien bernama Rio Pramudya.
Ternyata memang ada, dia mendapatkan nomor kamar suaminya itu, dia bergegas mencari, namun dia melihat keluarga Rio masih ada disana. Ingin rasanya dia menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu mertuanya yang dulu selalu mendukung dan membelanya.
"Gak, aku gak boleh kesana, mamah dan papah mas Rio pasti tidak akan menerima kehadiranku, mengingat kejadian tadi, sebaiknya aku pulang dan kembali kesini lain waktu," gumam Kalisa.
"Bunna, ayo pulang..!" Ajak Fino, karena menurut pemikiran Rio, sekarang memang bukanlah waktu yang tepat bagi Kalisa menemui Rio.
"Eh iya sayang, ayo..!" Jawab Kalisa yang menggendong tubuh Fino, hampir saja dia melupakan anak balita yang sakit itu.
Kalisa mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan Rio, dia memilih mencari kontrakan yang dimaksud oleh Riki, dia merasa Fino butuh istirahat.
Kenapa kamu masih memperdulikan aku? Padahal sikapku selalu jahat padamu, pikir Rio (Fino)
Rio juga baru tahu kalau dirinya koma, itu setidaknya membuat dia merasa lega, dia punya harapan agar bisa kembali ke tubuh aslinya, sebelumnya dia berpikir jika dia reinkarnasi menjadi anak kecil dan itu akan menjadi kehidupannya yang kedua.
Meskipun Rio tidak tahu caranya agar dia bisa kembali ke tubuh aslinya, tapi dia masih mempunyai harapan itu meski harapan itu sangat kecil, namun dia yakin jika dia berusaha pasti bisa.
***
Setelah lelah mencari akhirnya Kalisa menemukan tempat itu, kontrakan yang lumayan nyaman bahkan sudah ada perabotan juga di dalamnya, lengkap.
Wanita itu membuat bubur ayam, menyuapi Fino lalu memberinya obat.
"Bunna, kenapa nangis?" Tanya Fino saat melihat mata Kalisa mulai memerah dan menahan tangis.
"Gapapa ko, Bunna gak apa-apa Fino," jawab Kalisa.
"Bunna jangan sedih..! Kaki Fino udah gak sakit kok Bunna gak usah hawatilin Fino..!" Ucap Fino yang berusaha menenangkan Kalisa, sebenarnya Rio tahu kalau istrinya itu memikirkan masa lalunya.
"Iya sayang, kamu memang anak yang kuat, sekarang kamu istirahat ya..!" Jawab Kalisa dengan senyumannya, dia tidak boleh lemah dihadapan Fino.
Fino pun tertidur, setelah meminum obat itu dia tiba-tiba merasa ngantuk, sementara Kalisa memeriksa dapur, ternyata di dalam lemari es juga sudah tersedia banyak makanan dan sayuran.
__ADS_1
Dokter Riki bahkan menyiapkan ini semua? Pikir Kalisa merasa tak percaya ada orang baik yang mempedulikan mereka.
Dengan segera Kalisa mengambil bahan untuk memasak dan memasaknya segera, perutnya kini terasa lapar.
Setelah selesai memasak, Kalisa bergegas mandi, kemudian dia makan dengan lahapnya, dia tentu tidak boleh sakit karena Fino membutuhkannya sekarang.
Dia tidak boleh egois dengan memikirkan masa lalunya terus menerus, terpuruk dan terpuruk, masih ada Fino yang membutuhkannya.
***
Hari sudah malam, Fino yang jenuh dia berjalan perlahan dengan kaki yang pincang, dia menyalakan televisi, dia melihat berita tentang dirinya sendiri, tentang Rio seorang CEO muda yang kecelakaan dan sekarang masih dalam keadaan koma.
Kalisa datang dari arah kamar, dia kemudian duduk bersama Fino, "kamu lagi apa Fino, nonton apa?" Tanya Kalisa.
Saat melihat berita itu Kalisa begitu fokus, dia ingin tahu kronologi kecelakaan yang terjadi pada Rio, Rio mengalami kecelakaan tunggal dan dia sendirian saat berada di dalam mobil.
"Apa dia mengantuk saat berkendara?, Aku hanya berharap dia cepat sadar dan sembuh seperti sedia kala," gumam Kalisa pelan.
Kenapa dia masih saja baik padaku? Terbuat dari apa hatinya itu, harusnya dia senang melihat aku kecelakaan dan hampir mati, pikir Rio (Fino) yang mendengar doa Kalisa.
"Fino, kamu nonton film kartun aja ya sayang? Kamu pasti suka," ucap Kalisa kemudian memindahkan Chanel nya, selama di panti asuhan memang Fino tidak pernah menonton televisi karena di panti tidak disediakan televisi, anak-anak panti hanya bermain dan belajar.
"Aku tidak suka itu Bunna," jawab Fino saat Chanel itu dipindahkan.
Aku bukan anak kecil yang suka menonton kucing dan tikus berlarian saling mengejar dan anehnya malah si kucing yang selalu kalah, batin Rio (Fino).
"Emm, ya sudah kamu mau nonton acara apa?" Tanya Kalisa.
"Aku mau nonton peltandingan bola Bunna, piala dunia," jawab Fino yang serius, namun membuat dahi Kalisa berkerut.
Kenapa Fino bisa tahu acara orang dewasa? Pikir Kalisa.
Tanpa bertanya lagi Kalisa pun memindahkan channel nya, dia menemani Fino menonton bola bahkan dengan cemilan, anak itu begitu antusias bahkan berteriak gol beberapa kali, Kalisa hanya memperhatikannya, aneh memang, namun wanita itu tidak mempermasalahkannya yang penting Fino merasa terhibur.
__ADS_1
***
Keesokan harinya saat pagi hari, Raka sudah datang bertamu, dia memberikan ponsel untuk Kalisa agar memudahkannya berkomunikasi.
"Terimakasih untuk semua bantuannya Dok, ponsel ini terlalu mahal, saya tidak bisa menerimanya, maaf ya Dok," ucap Kalisa dengan mengulurkan tangannya, mengembalikan ponsel itu.
"Ambilah, ini bukan masalah harga, tapi ini bisa memudahkan kamu menghubungiku jika memerlukan bantuan, disini kan kamu cuma tinggal berdua dengan Fino tidak ada sanak saudara," jawab Riki.
Dengan berat hati Kalisa pun menerima ponsel itu, dia mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih, Riki sebenarnya ingin mengantar mereka pergi ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan, namun dia harus pergi lebih dulu karena ada jadwal praktek.
Tiga jam kemudian Kalisa dan Fino sudah bersiap-siap, mereka akan pergi ke Rumah Sakit lagi.
Mereka pergi dengan menggunakan angkutan umum, untunglah Rumah sakit itu bisa dilalui dengan angkot hingga Kalisa bisa menghemat uangnya.
Mereka Pun sampai, Fino melakukan pemeriksaan lagi, setelah selesai, Kalisa yang masih penasaran dengan Rio, dia mendekati kamar milik suaminya itu.
"Tidak ada siapa-siapa," gumamnya pelan.
Dia mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Rio dengan menggendong Fino.
Kini dia bisa melihat wajah Rio yang penuh luka lebam, memakai berbagai alat bantu lainnya, hati Kalisa begitu sakit melihat pemandangan ini.
Mas sadarlah, kamu harus kuat dan bertahan Mas..! batin Kalisa.
Fino yang berada di pangkuan Kalisa pun seakan ingin berteriak menyuruh Rio yang berbaring untuk segera bangun.
Bertahanlah Rio! Kamu pasti kuat, bertahanlah sampai aku menemukan cara untuk kembali , batin Fino (Rio)
Saat Kalisa ingin menyentuh lengan Rio, tiba-tiba ada orang yang masuk.
Ceklek
Kalisa kaget, dia menarik kembali lengannya.
__ADS_1
"Anda siapa?" Tanya seseorang dibelakang Kalisa, membuat Kalisa panik dan bingung harus bagaimana, padahal dia masih istri Rio, dia berhak ada disana, namun dia seakan seperti pencuri yang ketahuan mencuri barang berharga.
Bersambung.….