
Tanpa Felisha sadari, Rio melakukan tes DNA lagi. Rio tidak mau istrinya itu membuat kekacauan seperti yang dilakukan sebelumnya. Felisha yang sudah boleh pulang pun diantar oleh Riani, sementara Rio pergi ke kantor karena ada rapat penting.
"Emm gemesnya, biar Mamah yang gendong ya? Biar kamu gak repot dan gak berat. Kamu kan baru melahirkan jadi jangan capek-capek..!" Ucap Riani, ibunya Rio memang berharap sekali mendapatkan cucu. Dia senang dengan aroma bayi yang khas, dia mencoba memperlakukan Felisha dengan baik meski hatinya masih kesal dengan menantunya itu. Riani melakukan itu demi bayi yang kemungkinan adalah cucunya.
"Iya Mah," jawab Felisha singkat. Dia senang karena tidak perlu repot mengurus bayi. Tidak perlu menambah pekerja di rumah karena mertuanya bersedia menjaga bayi cantik itu.
***
Hari sudah siang, perut Rio menunjukan rasa berontak. Perutnya sedikit terasa perih, dia ingat kalau dia bahkan belum sempat sarapan. Rio yang merindukan Kalisa, dia berniat makan di rumah makan Kalisa dulu. Tempat itu masih ada meski bukan Kalisa yang mengelolanya, rasanya juga sama. Membuat Rio beberapa kali menyempatkan datang kesana untuk sekedar makan siang atau makan malam.
Rio pun berangkat menuju rumah makan, dia begitu merasa semangat jika akan disana. Rio akan menghabiskan beberapa porsi makanan saking lahapnya.
Sepanjang perjalanan dia teringat dulu dia selalu menolak saat Kalisa mengajaknya makan bersama. Dulu Rio selalu mengabaikan sarapan yang disediakan Kalisa, mengatakan kalau itu masakan kampungan yang tidak selevel dengan lidahnya. Kini dia menyesalinya, dia malah ketagihan dengan masakan Kalisa yang kebanyakan makanan tradisional dan makanan khas dari berbagai daerah.
"Akhirnya sampai juga, aku sudah kelaparan," gumam Rio.
Meski makan sendirian, Rio masih bisa semangat makan. Menghabiskan semua menu yang dia pesan, beberapa bungkus dia akan bawa pulang untuk kedua orang tuanya. Dia tahu Riani sang ibu juga menyukai masakan Kalisa.
Saat menuju parkiran, Rio melihat wanita yang menyebrang jalan tapi tidak fokus. Wanita itu hampir tertabrak, tapi sebisa mungkin Rio berlari dan berusaha menolongnya. Tubuh Rio dan wanita itu akhirnya terjatuh, terjatuh menjauh dari mobil yang melaju kencang.
"Syukurlah, kamu gapapa kan?" Tanya Rio. Dia mengulurkan tangannya untuk perempuan itu karena Rio berdiri terlebih dahulu.
Mata mereka saling menatap, ada kerinduan yang tersirat tapi Rio menepis rasa itu. Dia tidak mau memaksa Kalisa untuk kembali padanya. Rio tahu Kalisa sudah tidak mengharapkannya, itu diyakini karena surat gugatan cerai itu.
__ADS_1
"Mas Rio, makasih ya…," ucap Kalisa. terlihat Kalisa tampak sedikit bingung, dia masih syok dengan kejadian tadi. Rio pun membantu Kalisa bangun dan memapahnya masuk ke dalam rumah makan. Memesan minuman dan menemaninya sebentar.
"Kamu masih takut, tanganmu bergetar? Apa aku perlu mengantarmu ke rumah sakit?" Tanya Rio khawatir.
"Tidak usah Mas, aku sudah baikan kok, aku tidak papa, sekali lagi makasih udah nolongin aku, udah peduli padaku," jawab Kalisa sambil menyeruput teh hangat miliknya.
Peduli padanya? hmm.. iya dulu aku tidak peduli padamu Kalisa, aku menyesalinya, batin Rio.
Kalisa bingung pada hatinya, kenapa dia masih saja berharap lebih pada Rio. Kenapa hatinya tidak pernah mati untuk Rio, yang jelas-jelas sudah menyakitinya berulang kali.
Terlihat Herlin menghampiri Kalisa, gadis itu masih bekerja di rumah makan Kalisa. Rumah makan itu resmi dinamai rumah makan Kalisa oleh Riki, dan pemiliknya juga atas nama Kalisa, meski dia tidak terjun langsung dan lebih sibuk dengan urusannya yang lain. Riki juga kini fokus ke beberapa kliniknya saja.
"Bu Kalisa, anda kenapa?" Tanya Herlin khawatir.
"Eh Herlin, gapapa kok cuma kecelakaan kecil, eh kecelakaan yang tidak jadi," jawab Kalisa.
"Kamu kangen? Telepon aja, dia memang so sibuk sekarang," jawab Kalisa dengan mengulas sedikit senyuman.
Herlin menyukai Riki, dia bahkan sering memberikan perhatian secara terang-terangan, tapi Riki mengabaikannya dan gadis ini tidak mau menyerah. Kalisa suka dengan kegigihan Herlin.
Herlin pun pergi menyambut gerombolan tamu yang datang, meninggalkan Kalisa dan Rio berdua disana.
Mereka mendadak diam, suasana menjadi canggung dan hening.
__ADS_1
"Oh iya, Fino apa kabar? Apa dia sudah diadopsi olehmu?" Tanya Rio.
Bagaimana bisa aku mengadopsinya sementara aku belum menikah lagi, batin Kalisa.
"Dia ada di panti, memangnya kenapa?" Tanya kaliasa penasaran. Setelah beberapa detik Kalisa sadar kalau ada yang aneh, sejak kapan Rio tahun kalau dia berniat mengadopsi Fino. Aku tidak mengatakan apapun padanya, tapi… kenapa dia bisa tahu? Batin Kalisa.
"Ah tidak apa-apa. Apa kamu sudah menikah lagi setelah resmi bercerai dariku? Aku harap kamu bahagia setelah aku mengabulkan keinginanmu," ucap Rio.
"Keinginanku? Hmm… sebenarnya surat gugatan cerai itu aku tandatangani saat aku diculik," jawab Kalisa.
Rio tampak diam, dia berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan Kalisa, saat dia ingin menanyakan lebih jelas, saat dia ingin menuntut kebenaran itu, ternyata Kalisa lebih dulu pergi dengan rekan bisnisnya untuk membahas hal penting. Rio berniat menunggu Kalisa, tapi ada Riki juga yang langsung membawa Kalisa pulang dan menatap Rio dengan tatapan tajam.
Apakah dia masih berpikir kalau aku ada dipihak Felisha dan akan membuat adiknya itu terluka? Batin Rio.
Rio tersenyum, dia seakan mendapatkan angin segar saat mengetahui Kalisa belum menikah dan dia terpaksa menandatangani surat cerai itu. Setidaknya Rio masih berharap bahwa wanita pujaannya masih membuka hati untuknya.
"Lalu kenapa Kalisa tidak melaporkan kasus penculikannya itu dan menangkap orang yang jelas dia kenal? Apa Felisha yang melakukannya?" Gumam Rio.
***
Sesampainya di rumah, Rio melihat sang ibu yang sedang menimang-nimang bayi cantik itu. Rio merasa bingung sendiri, jika itu bukan anaknya dan ibunya kecewa, pasti Riani sangat terpukul. Rio yang egois berharap itu anaknya dan bisa kembali pada Kalisa serta membuat Felisha pergi dari hidupnya.
Jika aku bisa memenjarakan Felisha mungkin bisa? Batin Rio.
__ADS_1
Rio berencana menemui Kalisa lagi untuk membahas masalah penculikan beberapa bulan yang lalu. Rio yakin ada alasan dibalik Kalisa yang diam selama ini.
Bersambung ….