
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Kalisa disibukkan dengan aktivitasnya di rumah makan, sementara Rio tentu sibuk dengan perusahaannya yang perlu perhatian khusus karena ada beberapa masalah besar yang terjadi.
Selama itu pula Husen mempekerjakan mata-mata di kantor Rio dan beberapa orang akan mengikuti Rio kemanapun lelaki itu pergi. Tidak ada aktivitas Rio yang aneh, bahkan lelaki itu hanya menghabiskan waktu di kantor dan rumah kedua orang tuanya. Sesekali akan pergi ke panti asuhan saja dan bertemu beberapa klien di beberapa tempat berbeda.
Husen sudah yakin dengan keputusannya, dia akan membuat hubungan sang cucu dengan Rio kembali menjadi suami istri. Hari ini Husen mengadakan janji bertemu dengan Riani, mereka membahas sesuatu yang penting. Sesekali Riani tertawa dan tersenyum, dia juga mengangguk setuju dengan paa yang dikatakan Husen.
"Jadi kita sudah sepakat bukan?" Tanya Husen.
"Tentu saja, aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Riani.
"Baiklah, semoga rencana kita berhasil," ucap Husen.
***
Rio sedang dalam perjalanan pulang. Dia mendapat pesan dari ibunya, memintanya menemaninya makan di sebuah cafe langganannya.
"Sebenarnya aku lelah dan ingin pulang, tapi… ya sudahlah lagipula cafe itu searah jalan pulang," gumam Rio.
Saat sampai cafe, Rio mencari sosok ibunya. Dia tahu betul postur dan gaya berpakaian sang ibu. Tapi tidak ada sosok ibunya disitu, hingga dia melihat sosok wanita yang membuat hatinya bergetar.
"Kalisa, apa itu benar Kalisa?" Gumam Rio.
__ADS_1
Lelaki itu berjalan menghampiri wanita yang begitu didambakannya dalam hati. Meski dia ragu karena takut kalau wanita itu sedang janjian dengan kekasihnya. Rio pun mengurungkan niatnya, dia hanya berjalan melewati Kalisa dan berniat pulang.
"Mas Rio tunggu!" Ucap Kalisa.
Rio pun menoleh, dia berusaha menyembunyikan rasa bahagianya itu. Baru dipanggil begitu saja aku sudah grogi, astaga… sepertinya Kalisa memang telah membuat hatiku tak karuan, batin Rio.
"Kalisa, kamu disini juga. Sama siapa kemari?" Tanya Rio.
"Aku lagi nunggu ibu Mas Rio, tapi kok belum datang juga ya?" Tanya Kalisa.
"Mamah? Tadi mamah juga memintaku datang. Aku hubungi mamah dulu ya," ucap Rio kemudian mengeluarkan ponselnya. Tapi sebelum dia menelpon, dia sudah mendapatkan pesan dari ibunya lebih dulu.
Rio menggelengkan kepalanya saat membaca pesan itu. Dia pun duduk satu meja dengan Kalisa.
"Gimana Mas? Tadi Kakek bilang ada sesuatu yang penting yang ingin Mamah, eh… maksudku Tante Riani katakan," ucap Kalisa.
"Sepertinya Mamah gak jadi datang, biar aku yang nemenin kamu makan ya? Aku juga lapar," ucap Rio.
Kalisa sepertinya masih menganggap Mamah adalah ibu kandungnya. Aku tahu dulu dia begitu dekat dengan Mamah, aku yang tega memisahkan ikatan itu, bahkan Mamah pun menjadi kurang suka dengan Kalisa karena hasutan Felisha, batin Rio.
Kalisa seperti kurang nyaman, tapi dia tidak bisa menolak karena dia juga masih penasaran dengan kehidupan Rio yang sekarang.
__ADS_1
Makanan pesanan mereka pun datang, Rio berbasa-basi menanyakan rumah makan yang dikelola Kalisa. Kalisa pun sempat bertanya tentang Syahla, Rio pun menjelaskannya. Membuat Kalisa ikut sedih atas pengkhianatan yang dialami Rio. Padahal seharusnya Kalisa senang karena lelaki itu mendapatkan karmanya.
"Kalisa…," panggil Rio sedikit ragu.
"Iya Mas, ada apa?" Tanya Kalisa.
"Emm… aku minta maaf atas masa lalu yang kamu lalui bersamaku dulu. Aku sungguh bodoh dan menyesali semuanya," ucap Rio pelan tapi masih bisa didengar oleh Kalisa. Lelaki itu merasa tidak punya muka kalau membahas masa lalu.
"Aku sudah memaafkanmu Mas sejak dulu, aku tidak mau mendendam. Hanya saja sifat wanita memang pengingat yang tajam. Ketika aku ingat, aku masih merasakan luka itu, tapi aku sudah menganggap itu adalah takdirku Mas, jalan hidupku, karena hal itu juga aku menemukan Fino," jawab Kalisa sambil tersenyum.
Ah, dia begitu berhati tulus. Kalau saja aku tidak berpindah jiwa ke tubuh Fino, mungkin selamanya aku buta menilai Kalisa, batin Rio.
"Terimakasih Kalisa, kamu memang baik. Aku teringat dongeng yang setiap malam kau baca agar membuatku tidur, aku sebenarnya tidak suka cerita anak karena aku bukan anak kecil. Tapi aku malah selalu menantikannya setiap malam tentu dengan pelukan hangat, lucu bukan? Aku ingat disaat kakiku sakit dan kamu membawaku ke kota bahkan rela bekerja demi aku," ucap Rio.
Kalisa tampak diam, dia bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Rio. Dia tidak merasa melakukan itu semua untuk Rio, yang dia lakukan semuanya untuk Fino. Anak balita yang memberinya semangat untuk melanjutkan hidup. Balita yang tidak lebih beruntung darinya, membuatnya iba dan memutuskan menyemangati anak itu.
"Maksud kamu apa Mas, aku tidak mengerti?" Tanya Kalisa.
Riona yang sadar kalau dia membuka rahasianya dulu, dan menyadari kalau Kalisa bingung. Dia juga bingung cara menjelaskannya pada Kalisa. Apakah aku harus jujur padanya? Apakah dia akan percaya? Batin Rio.
Bersambung…
__ADS_1