Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Hamil


__ADS_3

Namun ternyata Fino menjawab pertanyaan Gerhana meski jawaban itu sedikit membuatnya bingung.


"Kek, Fino kesini naik mobil om doktel Liki," jawab Fino.


"Liki? Fino yakin namanya dokter Liki?" Tanya Gerhana lagi.


"Bukan kek, tapi doktel Liki," ucap Fino dengan susah payah, meski dia berusaha menyebut Riki namun mulutnya malah mengucapkan Liki, susah memang karena Fino berbicara cadel.


"Katanya bukan, tapi Liki lagi, hmm…, ya sudah kakek tanyakan dulu," ucap Gerhana.


"Maaf saya ingin bertanya, memang ada yang namanya dokter Liki disini? Ruangannya sebelah mana ya?" Tanya Gerhana pada resepsionis.


"Setahu saya tidak ada Pak," jawab wanita itu.


"Bukan Liki, tapi doktel Liki," ucap Fino kedua kalinya, dia seakan tidak mau menyerah namun jawabannya tetap sama dan membingungkan bagi yang mendengar.


"Cucu bapak sepertinya cadel ya, mungkin yang dimaksud dokter Riki, iya kan dek?" Tanya wanita itu.


Fino pun mengangguk, sementara Gerhana merasa bodoh karena tidak menyadari ucapan Fino yang memang tidak bisa mengucapkan huruf R.


"Dokter Riki disini ada 3 orang, saya tidak tahu yang mana, yang praktek hari ini dokternya sudah pulang," jawab wanita itu.


Gerhana akhirnya memutuskan untuk mengantar Fino pulang lebih dulu, "bisa-bisanya dia meninggalkan anak kecil begitu saja," gumamnya kesal.


"Kakek, mungkin om doktel bulu-bulu, dia lupa membawaku pulang," jawab Fino.


Mana mungkin dia melupakan kamu seperti barang, batin Gerhana, namun dia tidak mau berkata terus terang, dia hanya manut-manut seakan menyetujui pendapat Fino.


Fino memberitahu alamat rumah makan Kalisa, dia tentu tahu semua jalan dan nama daerah di kota ini karena ini tempat tinggalnya, kota dimana Rio dilahirkan dan tinggal sampai dewasa seperti sekarang.


"Wah, kamu pintar sekali Fino, kamu mengingat dimana Bunna kamu bekerja," puji Gerhana.


Sesampainya disana, Fino tidak mau kena marah, dia berniat kembali ke dalam dengan hati-hati tanpa diketahui Kalisa.


"Kakek makasih ya udah Antelin Fino, dadah kakek…," ucap Fino pada Gerhana, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya untuk menemui Kalisa lebih dulu.


"Tapi, kamu yakin disini tempat Bunna kamu kerja?" Tanya Gerhana memastikan.

__ADS_1


"Iya kek, kakek gak usah khawatil," jawab Fino.


"Hmm.., ya udah kakek pulang dulu ya, cepet kamu masuk..!" Ucap Gerhana pada Rio (Fino).


Itu membuat Fino benar-benar masuk meninggalkan Gerhana disana, Gerhana melihat rumah makan itu dengan seksama, lain kali aku akan mengajak keluargaku makan disini, pikir Gerhana.


"Fino, kamu dari mana saja sayang? Buna cari-cari dari tadi," protes kalisa berhambur memeluk Fino.


"Maaf Bunna, aku tidak kemana-mana kok Bunna," Jawab Rio (Fino) dengan kebohongannya.


***


Suatu hari saat Kalisa yang sedang memantau pengunjung, dia tak sengaja melihat ibu dan ayah mertuanya sedang makan siang di rumah makannya, namun disana ada Felisha juga membuat dia enggan untuk menghampiri mereka karena akan menimbulkan keributan nantinya.


Kalisa berniat pergi menuju dapur, namun tak sengaja dia melihat Fino yang menghampiri mereka dan ikut bergabung, "astaga Fino, aku tidak mau kalau Fino dianggap pengganggu oleh mereka, aku takut Felisha melakukan hal buruk padanya," gumam Kalisa.


Kalisa terpaksa pergi menghampiri mereka untuk membawa Fino segera pergi dari sana.


"Mamah, Papah…," ucap Kalisa menyapa mereka terlebih dahulu, tanpa menoleh pada Felisha karena dia tidak ingin menyapanya.


"Eh Kalisa, pantas saja Fino ada disini ternyata kamu disini juga, jagain anak aja gak bisa sampe berkeliaran kesana kemari," ucap Bu Riani yang masih tidak menyukai Kalisa.


"Terus aja belain dia Pah, hmmm…," ucap Riani pada sang suami.


"Kalisa kamu kerja disini kan? Biar papah yang jagain Fino disini, papah senang bermain dengannya," ucap Gerhana pada Kalisa, bahkan Fino sedang duduk dipangkuannya.


"Udah Pah kasih aja Fino sama dia, kita kan sebentar lagi bakal punya cucu dari Felisha," ucap Bu Riani.


Pernyataan itu membuat Kalisa terkejut bahkan Rio yang ada di tubuh Fino pun tak percaya dengan berita ini.


Apa dia benar-benar hamil? Aku tidak yakin kalau itu anakku, pikir Rio (Fino).


Bukannya Mas Rio koma udah lama ya? Pikir Kalisa.


"Oh begitu, selamat ya Felisha, selamat juga buat Mamah dan Papah yang akan menjadi nenek dan kakek," ucap Kalisa.


"Ayo sayang, ikut Bunna…!" Ucap Kalisa pada Fino, dia tidak mau anak balita itu malah mengganggu kebahagiaan mereka.

__ADS_1


"Gak mau, Fino mau sama kakek," jawab Fino yang malah memeluk erat tubuh Gerhana.


"Udah gapapa Kalisa, biar Fino disini aja, Papah justru senang," ucap Gerhana sambil tersenyum.


Kalisa pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih banyak, dia meninggalkan Fino dengan hati yang cemas, aku harap Fino tidak akan membuat masalah dan tidak terjadi apa-apa padanya, batin Kalisa.


***


"Kek, Tante itu lagi hamil ya kek, ada dedek bayinya?" Tanya Fino sengaja bertanya.


"Iya, kamu anak pintar," jawab Gerhana.


"Papa dedek bayinya mana kek?" Tanya Fino.


Sementara Felisha yang mendengar pertanyaan Fino, dia mulai geram, dasar anak ini cari masalah aja, cerewet pula, batin Felisha.


"Papanya kan masih di Rumah Sakit, om yang kemarin Fino doain supaya cepet sembuh itu," jawab Gerhana.


"Oh iya kek, om kemalin belum sembuh kek?" Tanya Fino.


Gerhana menganggukan kepalanya.


Fino penasaran berapa usia kandungan Felisha, kenapa baru sekarang dia mengaku hamil, bukankah Rio koma sudah hampir 3 bulan, apa benar itu anaknya, Rio harus mencari tahu tentang itu, tapi bagaimana cara dia bertanya, Rio mulai bingung.


"Kek, kapan dedek bayinya lahil?" Tanya Fino yang berusaha mencari tahu.


"Emm, masih lama," jawab Gerhana singkat.


"Oh, pelut Tante belum membesal sepelti balon ya?" Tanya Fino lagi.


"Hahaha…, kamu ini Fino, belum… karena usia kandungannya masih sekitar 3 bulan," jawab Gerhana sambil mencubit pipi Fino.


"Anak ini lucu sekali ya Pah, Mamah harap nanti anak Felisha dan Rio juga sama menggemaskannya dengan Fino," ucap Riani.


"Iya…," jawab Gerhana, Felisha hanya tersenyum.


Oh jadi 3 bulan ya? Aku tidak yakin itu anakku dan aku tidak yakin usia kandungannya tiga bulan, kenapa aku merasa dia menipu keluargaku ya? pikir Rio (Fino).

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2