
Keesokan harinya Kalisa yang sedang bersantai menikmati hari liburnya di kontrakan dengan hanya menonton televisi, dan ditemani cemilan juga Fino, anak balita itu juga seakan mengerti apa yang sedang ditonton Kalisa..
"Ngeselin deh, masa istri pertamanya dibohongi gitu, dibohongi sama semua keluarga suaminya lagi," ucap Kalisa kesal.
"Bunna, pindahin aja kalau Bunna jadi malah-malah begitu..!" Ucap Fino.
"Tapi seru Fino, Bunna penasaran," jawab Kalisa dengan mata fokus ke layar televisi.
Fino menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan Kalisa sang istri, memang wanita sulit dipahami dan terkadang menangisi yang tak perlu mereka tangisi, batin Fino.
Kini Fino melihat Kalisa yang menangis karena terbawa suasana, terlalu menikmati apa yang dia tonton, sekaan Kalisa lah yang menjadi pemeran utama yang tersiksa itu.
Fino mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Kalisa, "ini Bunna..!" Ucapnya.
Kalisa mengambilnya, bahkan dia mengeluarkan semua ingusnya kala itu, membuat Fino bergidik.
Tak berselang lama ada telepon dari Riki, Kalisa langsung mengangkatnya karena dia takut itu telepon penting mengenai bisnis mereka.
"Iya, hallo dok, hiks …," jawab Kalisa yang masih menangis karena adegan film tadi.
"Kalisa, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kamu dimana sekarang?" Tanya Riki yang khawatir.
"A-aku gapapa dok, a-aku a-ada dikontrakan dok, memangnya ada apa dokter menelpon?" Tanya Kalisa.
Tut
Telepon itu tiba-tiba terputus, Kalisa tidak menghiraukannya lagi, dia kembali fokus menonton televisi.
Fino sebenarnya tidak suka menonton film drama rumah tangga begitu, dia hanya menemani Kalisa sambil membaca buku milik Kalisa, berbagai resep makanan.
Air liurnya bahkan hampir menetes melihat gambar makanan yang menggugah selera, apa aku minta Kalisa untuk memasaknya ya? Pikir Rio (Fino).
Tok
Tok
Tok
"Kalisa…., Kalisa….," Teriak Riki dari luar.
Kalisa dengan segera membuka pintu, lelaki itu langsung menanyakan keadaan Kalisa, wajahnya begitu terlihat panik.
__ADS_1
"Aku gapapa dok," jawab Kalisa.
"Lalu kenapa kamu menangis kalau memang kamu baik-baik saja?" Tanya Riki yang belum percaya, dia merasa Kalisa menyembunyikan sesuatu darinya.
"Bunna nangis kalena menonton televisi om," jawab Fino dengan santainya sambil membaca buku, dia malas melihat tingkah Riki yang begitu lebay menurutnya, dia sedikit merasa cemburu juga melihat mereka.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, aku boleh masuk?" Tanya Riki yang masih berdiri didekat pintu.
Kalisa tertawa, lalu dia mempersilahkan Riki masuk, Kalisa bergegas pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Terlihat Riki yang menggoda Fino yang sedang membaca buku, "lagi baca apa Fino? Wah lihat gambar makanan ya? Itu kelihatannya enak, hehe…," tanya Riki.
"Iya om," jawab Fino singkat.
Kalisa datang dengan tiga gelas minuman, tentu ditambah untuk dirinya dan juga untuk Fino.
Setelah berbincang cukup lama, Riki yang memang sedang senggang, dia mengajak Fino dan Kalisa berjalan-jalan.
Kalisa awalnya menolak, namun ternyata Fino merengek, dia merasa bosan seharian berada dikontrakan.
Mereka pergi menuju mall paling besar dikota itu, Riki ingin membawa Fino ke beberapa wahana permainan anak seperti mandi bola dan yang lainnya.
Sesampainya disana, ternyata Fino menolak dia tidak mau mandi bola. Memangnya aku anak kecil apa? Protes Rio dalam hati.
"Fino mau main itu aja sama om Doktel," jawab Fino menunjuk ke arah sebuah permainan game.
Kalisa pun menggendong Fino dan membawanya mendekat kepermainan itu, "om, ayo main? Kalau om kalah, om halus mengabulkan satu pelmintaan Fino..!" Ucap Fino menantang Riki.
"Hahaha, kamu memang pemberani Fino, baikalah om akan bermain, kalau kamu kalah, jangan nangis ya..!" Goda Riki, padahal dia berniat mengalah untuk anak itu.
"Mengalah saja Dok, biar Fino senang..!" Bisik Kalisa ditelinga Riki, membuat Riki tersenyum geli karena bisikan itu.
"Hehe, iya… kamu gak usah khawatir," jawab Riki.
Permainan pun dimulai, Fino merasa sangat yakin dia akan menang.
Tanpa Riki duga ternyata kemampuan Fino diatas rata-rata, bahkan dia merasa sulit mengimbanginya, kenapa dia bisa sejago itu? Apa aku harus kalah dari bocah tiga tahun? Oh astaga, memalukan sekali, pikir Riki.
Namun dia berpikir kembali jika dia kalah, pasti Kalisa akan menganggap dia sengaja mengalah, membuat Riki tidak khawatir lagi, dia begitu menikmati permainan kali ini, dia greget sekali pada Fino yang selalu bisa menyusulnya.
"Ayo om kejal Fino..!" Ucapnya menantang Riki.
__ADS_1
"Baiklah…," jawab Riki sambil fokus melihat layar monitor.
Sementara Kalisa yang memperhatikan mereka, dia sedikit merasa aneh, kenapa mereka terlihat serius sekali? Bukankah ini hanya permainan? Pikirnya.
Pengunjung lain mulai tertarik dengan permainan Fino, bagaimana tidak? Anak balita bisa mahir seperti itu, pengunjung lain mulai mengerumuni Fino dan Riki, bahkan ada beberapa orang yang bersorak.
"Ayo Dek, kalahkan dia!" Ucap salah satu penonton.
"Paling yang tua sengaja ngalah," jawab salah satu penonton lagi.
"Tidak, ini bahkan level yang sulit, anak balita ini memang jago bermain," ucap lelaki yang ikut menonton.
Riuh sorak penonton dan tepuk tangan membuat Rio (Fino) semakin bersemangat mempermalukan Riki yang kalah dari anak balita, aku pastikan akan mengalahkanmu, batin Rio.
Riki mulai cemas, dia bingung sekali dia sangat sulit mengalahkan Fino, namun dia juga bingung dengan sorak riuh penonton, jika aku kalah aku akan merasa dipermalukan, tapi Jika aku menang pun aku merasa jahat pada Fino, ah serba salah sekali, pikir Riki.
Hingga akhirnya permainan itu dimenangkan oleh Fino, membuat banyak orang bertepuk tangan, Fino tersenyum ke arah Kalisa, dia merasa senang sekali, dia mengambil semua tiket mainan yang keluar.
Fino begitu merasa bangga, bahkan saking banyaknya, dia begitu kesulitan membawanya, hingga Kalisa membantu merapihkannya.
"Banyak sekali Fino, kamu hebat," puji Kalisa tersenyum sambil mengangkat jempol tangannya.
Fino menunjuk ke arah penukaran tiket mainan itu, dia ingin menukarnya dengan sesuatu, Riki mengikuti dari belakang, Kalisa juga sempat mengacungkan jempol pada Riki, memebuat lelaki itu merasa baik-baik saja.
Fino menunjuk ke arah boneka beruang berbulu coklat yang manis dan besar, "yang besar itu Fino?" Tanya Kalisa meyakinkan.
"Iya Bunna, tiket ini cukup buat beluang itu kan?" Tanya Fino.
Riki hanya menatap Fino terus menerus, dia mulai merasa ada yang aneh dengan bocah itu, apa dia termasuk salah satu anak yang genius ya? Pikir Riki.
Kalisa pun menukarkannya, lalu dia memberikan boneka itu pada Fino, dia baru tahu kalau Fino suka boneka seperti itu.
"Bunna….," Panggil Fino (Rio).
"Iya sayang," jawab Kalisa.
"Ini boneka buat Bunna, buat nemenin Bunna pas lagi tidul," ucap Fino (Rio) dengan mata berkaca-kaca, ya… ini pertama kalinya Rio memberikan sesuatu pada istrinya itu, pertama kalinya dia memperhatikan sang istri, karena dari dulu hanya luka yang ia berikan.
"Makasih sayang," ucap Kalisa mengambil boneka itu lalu memeluk Fino dengan erat, Kalisa merasa terharu dengan perlakuan Fino.
Riki tersenyum melihat pemandangan ini, dia bahagia melihat ibu dan anak itu saling menyayangi satu sama lain meski Fino bukan anak kandung Kalisa.
__ADS_1
Bersambung…