
"Fino…., Kamu kenapa sayang?" Tanya Kalisa yang masih memeluk Fino.
"Gakpapa Bunna, aku hanya Lindu," jawab Fino.
"Oh Lindu, om kira kakimu sakit lagi, baru jug ditinggal sebentar," ucap Riki sambil tersenyum, dia sedikit meledek Fino.
"Bialin…, " jawab Fino dengan wajah cemberut, dia marah namun orang malah menganggapnya menggemaskan.
"Ya udah, karena Bunna udah ada, om pulang dulu ya?" ucap Riki.
Fino mengangguk kecil, "terimakasih ya Dok," ucap Kalisa.
Riki tersenyum lalu berlalu pergi.
Kalisa menanyakan hal seru apa saja yang dia lakukan bersama dokter Riki, namun Fino menggelengkan kepalanya.
***
Kini sudah hari ke empat Fino berada di Rumah Sakit, kakinya sudah bisa diapakai untuk berjalan.
Dia masih penasaran dengan Rio yang asli, dia berjalan menuju ruangan itu saat Kalisa membeli makanan keluar Rumah Sakit.
Fino duduk dikursi depan ruangan Rio karena lagi-lagi pintu itu tertutup, tiba-tiba ada yang duduk disebelahnya.
"Kamu sedang apa Nak, ibumu mana?" Tanya Gerhana.
Fino mengenali suara itu, dia menoleh kesamping untuk memastikannya, "Fino sedang menunggu Bunna disini," jawab Fino beralasan.
Bukankah anak ini anak yang digendong oleh Kalisa? Ini anak siapa? Kalau dilihat dari usianya sepertinya ini bukan anaknya, gak mungkin Kalisa punya anak sebelum menikah dengan Rio, batin Gerhana.
"Namamu Fino ya, nama yang bagus, ya sudah kamu diam disini saja menunggu ibumu, dan jangan kemana-mana..!" Ucap Sanjaya yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Iya kek," jawab Fino.
Deg
Gerhana yang senang ada anak kecil memanggilnya kakek, dia pun menoleh, menghampiri Fino lagi, "coba kamu panggil kakek lagi?" Ucap Gerhana.
Sepertinya papah memang menginginkan sekali seorang cucu, ah.. andai aku bisa mengabulkannya, pikir Rio (Fino).
"Iya, kakek," ucap Fino sambil tersenyum, Rio sudah lama sekali tidak berbincang dengan sang ayah, bahkan dulu dia tidak begitu peduli, tidak meluangkan banyak waktu untuk ayah dan ibunya karena dia sangat gila kerja, padahal ayah dan ibunya begitu perhatian padanya.
Namun saat dulu, Rio hanya menganggap itu hanya membuang-buang waktu, malah Kalisa yang selalu menemani ayah dan ibunya saat dia bekerja.
Sesekali Kalisa akan pergi menemui ayah dan ibu mertuanya dengan membawa masakannya, dia memilih makan bersama ayah dan ibu mertuanya karena Rio tak pernah mau makan masaknnya, sebelumnya pun Rio sudah memberi ancaman agar Kalisa tidak mengatakan hal-hal aneh tentang Rumah Tangganya.
Rio takut kalau Kalisa membicarakan Felisha dan Rio yang masih berhubungan, padahal Kalisa sama sekali tidak ada niat untuk mengadukannya.
"Kakek, siapa yang sakit?" Tanya Fino.
"Fino mau lihat," ucap Fino dengan wajah manisnya itu.
Gerhana menggendong Fino sebentar untuk melihat keadaan Rio, ya… Rio masih dalam keadaan koma.
Fino menatap dengan bingung, harus dengan cara apa agar aku bisa kembali ke tubuh itu? Pikir Rio (Fino)
"Dia anak kakek yang kuat, kakek yakin dia akan sadar dan bangun dari tidurnya," ucapnya pada Fino.
"Iya kek, om itu pasti bangun kalena melindukan kakek, dan tidak mau kakek sedih," ucap Fino.
"Hmm, kamu memang anak yang pandai menghibur, makasih ya Fino, ayo kakek anterin kamu ke depan lagi," ucap Gerhana lalu berjalan menuju ke luar kamar, namun Kalisa tak kunjung datang.
"Kakek anterin kamu sampe ruangan kamu aja ya?" Tanya Gerhana.
__ADS_1
Fino pun mengangguk setuju, dia menujukan arah kemana ayahnya itu harus pergi membawanya. Rio yang digendong sambil melingkarkan kedua tangannya dileher Gerhana, dia merasa ada kehangatan, dia merasa mengulang masa kecil yang indah.
"Disini Kek," ucap Fino menunjuk nomor kamarnya.
Gerhana mencoba masuk, ternyata tidak ada Kalisa disana, "ibumu belum kembali ya?" Tanya Gerhana yang heran.
"Bunna lagi beli makanan kek, bental lagi juga pulang," jawab Fino.
Tadinya Gerhana ingin berbicara empat mata dengan Kalisa namun sepertinya ini bukan takdir mereka untuk bertemu, Gerhana pamit pada Fino, dia tidak mau meninggalkan ruangan Rio terlalu lama.
Setelah Gerhana pergi, Kalisa pun datang dengan membawa makanan, dia juga membeli buah-buahan untuk Fino.
Kalisa tampak heran dengan wajah Fino yang terlihat sedih itu, "Fino kenapa? Apa Bunna terlalu lama meninggalkan Fino?" Tanya Kalisa.
"Fino gapapa Bunna," jawab Fino lalu mengambil jeruk disana, mengupasnya sendiri, dia masih memikirkan cara agar dia bisa kembali.
***
Seminggu berlalu, akhirnya Fino sudah bisa pulang, Kalisa sangat bersyukur sekali. Dia sebenarnya ingin menjenguk Rio, namun dia yakin ibu mertuanya akan melarangnya, dia hanya berjalan sambil memegang tangan Fino menuju ruangan itu, melihat Rio dari pintu kaca.
"Aku harap kamu cepat sembuh Mas," ucap Kalisa lalu mengajak Fino pergi.
Fino bisa melihat jika Kalisa mengatakannya dari lubuk hatinya, Fino tahu kalau Kalisa memang tulus padanya, dia benar-benar salah menilai Kalisa.
Saat mereka sudah berada di luar dan harus melewati parkiran Rumah Sakit, Fino melihat lelaki yang dia kenal, lelaki itu bersama Felisha dan juga Bu Riani.
Bukankah lelaki itu selingkuhan Felisha, kenapa mamah juga kenal dan akrab dengan dia? Sebenarnya siapa laki-laki itu, Pikir Rio (Fino).
Rio melihat mereka menaiki mobil yang sama dan pergi entah kemana, jelas dia ingat lelaki itulah adalah orang yang terakhir kali membuatnya emosi, bahkan membuatnya sampai kecelakaan dan koma seperti sekarang.
Bersambung ….
__ADS_1