Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Pulang Ke Panti


__ADS_3

Riani baru saja pulang dari Rumah Sakit, wajahnya sedih karena belum ada kabar baik dari kesehatan Rio. Anak lelakinya itu masih saja memejamkan matanya tanpa memberikan penjelasan apapun mengenai semua yang telah terjadi.


Riani menyempatkan datang ke rumah Rio yang ditinggali Felisha saat ini, dia ingin tahu perkembangan kesehatan menantunya itu. Di halaman rumah terlihat ada mobil asing yang terparkir, membuat Riani merasa curiga.


"Apa mungkin itu mobil Gani? Lalu siapa lagi kalau bukan dia, hmm…," gumam Riani pelan.


Wanita itu masuk, meski penjaga depan gerbang menanyakan berbagai macam pertanyaan namun Riani mengabaikannya.


"Ini rumah anakku, apa aku harus memberi laporan saat ingin masuk ke Rumah anakku sendiri? Ini bukan rumah Felisha, jadi jangan mencoba melarangku masuk!" Ucap Riani pada Heri yang berjaga di depan.


Lelaki itu diam, sepertinya dia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah Riani, padahal dia hanya menjalankan tugas, tapi dia jadi bingung saat dia memiliki dua majikan sekaligus.


"Satu lagi, jangan menelpon siapapun, jangan bilang kalau aku datang!" Ucap Riani dengan tegas menatap langsung bola mata Heri.


Heri mengangguk dengan patuh, dia sebenarnya hanya takut kehilangan pekerjaan, dia bingung harus menuruti siapa, dia bingung nyonya rumah ini sebenarnya siapa, tapi Heri memilih diam dan membiarkan Riani masuk, dia nanti akan berkelit jika dia tidak tahu menahu masalah ini pada Felisha.


Riani berjalan terus menerus hingga dia sampai di pintu masuk, dia masuk perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik.


Terdengar suara gelak tawa, saking kerasnya sampai mereka tidak menyadari kedatangan Riani. Wanita itu diam memperhatikan sekumpulan manusia yang sedang makan siang.


Siapa mereka? Pikir Riani.


Terdengar percakapan yang lumayan aneh bagi Riani, membuat dia ingin marah namun dia tahan semampunya.


"Fel, ini rumah kamu? Besar juga ya? Gani pasti nyaman kalau tinggal disini, apa mamah boleh tinggal disini nemenin kamu?" Tanya wanita berbaju merah, wanita yang berumur sekitar 48 tahun.


"Boleh Mah, tapi jangan sekarang ya, nanti saja kalau anak ini lahir Mah..!" Jawab Felisha dengan cemas, dia tidak mau kalau Riani akan bertemu dengan wanita yang ada dihadapannya sekarang.

__ADS_1


Benar-benar keterlaluan, mengakui ini rumahnya dan memasukan orang seenaknya, mengganti para pekerja seenaknya pula, padahal Papah yang membiayai semua pengeluaran di rumah ini, memenuhi kebutuhan wanita itu, dasar, batin Riani.


Riani tidak ingin mencari keributan sekarang. Dia tidak mau kehilangan bayi itu jika benar itu cucu kandungnya, dia memilih pergi meninggalkan rumah itu dengan rasa emosi yang ditahan. Sepanjang jalan dia hanya diam, dia harus sampai di rumah dalam keadaan baik-baik saja, dia tidak mau suaminya tahu masalah ini, dia tidak mau membebani pikiran suaminya.


***


Sementara di Rumah Makan, Riki tampak mencari keberadaan seseorang, dia menuju ruangan khusus dan juga pergi ke dapur. Bahkan dia sempat menelpon beberapa kali namun tidak diangkat.


"Herlin, bu Kalisa mana?" Tanya Riki.


"Tidak masuk Pak, justru saya ingin menanyakan hal ini pada Bapak, biasanya kan Bapak tahu," jawab Herlin.


"Aduh, dia tidak mengabari saya, nanti kalau dia datang kasih tahu saya ya!" Ucap Riki.


"Baik Pak, sebaiknya Bapak coba cari ke kontrakan Bu Kalisa saja..!" Ucap Herlin.


"Ah, kamu benar, kalau begitu saya pergi dulu," jawab Riki berlalu pergi, sepanjang perjalanan dia berharap wanitanya masih ada disana, dia tidak mau kalau Kalisa sampai kembali lagi ke panti, karena itu akan membuatnya lebih sulit mendekati wanita itu, apalagi dengan pemikiran Kalisa yang pasti lebih sulit dipengaruhi olehnya.


"Kalisa…, kamu ada di dalam?" Teriak Riki.


Namun tak ada jawaban, hingga Riki mendengar panggilan seseorang yang dia kenal. Wanita itu bahkan kini menghampiri Riki. Dia membawa kunci rumah kontrakan itu dan memberikannya pada Riki.


"Ini kunci kontrakan, tadi Kalisa pamit dan nitipin ini sama Bibi, dia gak bilang mau kemana Ki," jawab Keka, bibi Riki yang tinggal di sebelah kontrakan rumah itu.


"Apa dia membawa semua baju-bajunya Bi?" Tanya Riki penasaran.


"Iya, dia bawa tas besar dan juga anak balita yang putih menggemaskan itu loh, Fino…," jawab Bi Keka.

__ADS_1


"Yaudah Bi, Riki pamit ya, ini kunci ambil aja sama Bibi dan jangan dikontrakan sama yang lain, cukup bersihkan saja..!" Ucap Riki berlalu pergi dengan terburu-buru.


Keka menatap kepergian keponakannya itu dengan heran, "apa dia menyukai Kalisa? Bukankah wanita itu terlalu biasa untuk Riki? Cinta memang buta," gumam Keka lalu pergi menuju rumahnya.


Riki yang mendapatkan telepon dari atasannya itu akhirnya membatalkan niatnya untuk menyusul Kalisa ke panti, dia menunda kepergiannya itu.


***


Sementara di Panti Asuhan, terlihat Fino murung sekali, membuat Kalisa merasa bersalah sekaligus bingung. "Fino kenapa? Makan dulu ya..! Nanti kamu sakit..!" Ucap Kalisa membujuk anak balita itu.


"Fino gak lapel Bunna, Fino cuma lebih suka dikota aja, Fino kangen sama om Lio," jawab Fino.


"Om Lio?" Tanya Kalisa.


"Iya, om yang tidul di ranjang Lumah sakit, anaknya kakek," jawab Fino, dia sebenarnya memang ingin memantau tubuhnya sendiri, perkembangan kesehatan Rio disana.


"Oh, iya nanti kapan-kapan kita jenguk ya, sekarang Fino makan, oke..!" Bujuk Kalisa.


Malam itu Kalisa berhasil membuat Fino merasa lebih baik, bahkan sekarang Fino tertidur lelap, Kalisa yang mendapatkan panggilan dari ibu panti, dia pun bergegas menemuinya dan berbicara empat mata dengan beliau.


"Maafkan ibu ya Kalisa, ibu tidak bermaksud memaksamu pulang kesini, hanya saja Fino masih anak panti ini, dia tidak bisa seenaknya dibawa pergi," ucap Ibu panti.


"Iya gapapa Bu Kalisa paham kok, Kalisa juga tidak boleh egois," jawab Kalisa.


Tiba-tiba mereka berdua mendengar teriakan Fino yang ketakutan, mereka berdua langsung beranjak dari tempat duduk berniat melihat keadaan Fino, jelas terdengar di telinga Kalisa kalau Fino berteriak meminta tolong dan berkata tidak berulang kali.


"Fino kenapa? Ayo kita periksa Bu..!" Ajak Kalisa.

__ADS_1


Bersambung…..


__ADS_2