
"Maaf maaf, kalian gapapa kan?" Tanya Riki yang merasa bersalah, dia juga kaget karena tanpa sadar mengerem mendadak, untung bukan pedal gas yang dia injak.
"Gapapa ko Dok, eh Mas," jawab Kalisa.
"Syukurlah," ucap Riki, ingin sekali rasanya dia bertanya tentang kelanjutan cerita Kalisa namun keadaannya sudah seperti ini, membuatnya tidak enak jika bertanya lagi.
Mobil itu akhirnya sampai di kontrakan, Kalisa dan fino bergegas turun, Riki melambaikan tangannya pada Fino, dan Rio (Fino) pun membalas lambaian tangan Riki dengan malas dan terpaksa.
Saatnya Kalisa dan Fino istirahat, Kalisa menawarkan diri untuk membacakan dongeng malam seperti biasanya, namun Rio (Fino) menolaknya, dia tidak mau menambah pekerjaan wanita itu setelah dia kelelahan bekerja.
"Malam ini Fino gak mau dengelin celita, Fino mau langsung tidul aja Bunna," ucap Fino sambil tersenyum.
"Baiklah, selamat malam sayang," ucap Kalisa sambil mencium kening Fino, itu membuat jantung Rio sedikit berdebar.
Kalisa dan Rio (Fino) kini berada di kamar masing-masing, mereka menatap langit-langit kamarnya dengan pemikiran yang sama, mereka penasaran dengan anak yang dikandung Felisha.
"Sepertinya tidak ada harapan lagi, aku harus rela melepaskan mas Rio, lagipula dari dulu aku tak pernah dianggap olehnya, dan yang membuatku gelisah sekarang adalah bagaimana caranya mendapatkan hak asuh Fino," gumam Kalisa.
***
Seminggu setelah kejadian itu, Kalisa belum bertemu Riki lagi, bahkan Kalisa sempat mengirimkan pesan singkat namun tidak ada balasan dari dokter muda itu.
Siang ini Kalisa seperti biasa sedang berada di Rumah makan, tak sengaja dia melihat ayah dan ibu mertuanya yang memesan makanan.
__ADS_1
"Papah, mamah…," ucap Kalisa menyapa mereka.
"Eh Kalisa, biasa mamah kangen sama masakan kamu jadi beli makanan dulu disini, biasanya kan kamu suka ke rumah masak buat mamah," jawab pak Gerhana yang mampu membuat Bu Riani malu, dia menyenggol lengan suaminya itu.
"Papah, memangnya kapan mamah bilang begitu?" Ucap Bu Riani yang tidak mengakuinya, dia masih belum bisa memaafkan Kalisa dan masih berpikir Kalisa lah yang menyebabkan Rio celaka.
Pak Gerhana hanya tersenyum menanggapi istrinya itu, "Fino mana? Papah kangen sama dia."
Fino berlari dari arah lain, dia sepertinya senang dengan kedatangan orang tuanya.
"Kakek..," ucap Fino yang langsung memeluk gerhana karena ayahnya kini sudah berjongkok menyambut balita itu.
Kini Rio (Fino) sudah ada dalam gendongan sang ayah, "Fino mau ikut kakek ke rumah? Nanti kakek anterin lagi ke sini, bagaimana?”
Fino tersenyum senang, Kalisa juga mengizinkan, karena anak balita itu akan lebih bersenang-senang jika ada yang mengajaknya bermain, sementara disini Kalisa sibuk bekerja dan kurang memperhatikan Fino, dia sangat percaya pada ayah mertuanya yang super baik itu.
Sesampainya disana, Rio kecil merasa tidak ada yang berubah dengan rumah kedua orang tuanya, Bu Riani mengeluarkan makanan yang dibeli tadi, menuangkannya ke mangkuk dan beberapa piring, dia ingin makan bersama suaminya dan juga Fino.
Saat makan, Riani memperhatikan cara makan Fino, dia merasa selera makan dan cara makan Fino juga sama dengan anaknya Rio, "Fino, kenapa sayuran kol nya kamu pisahin gitu, gak dimakan kan sayang, sayuran itu menyehatkan?" Tanya bu Riani.
"Fino gak suka kol nenek," jawabnya.
Mata Riani mulai berkaca-kaca, dia teringat Rio yang kini masih koma dan belum bisa berkumpul lagi dengannya.
__ADS_1
Gerhana yang peka, dia mendekati sang istri, memeluknya dan berkata, "nanti Rio pasti sadar Mah, kita harus lebih sabar..!"
Riani tak menjawab, dia meloloskan air matanya yang tak terbendung lagi, bukankah tiga bulan itu waktu yang cukup lama? Tapi kenapa Rio belum sadar juga? Batinnya.
Rio (Fino) tidak bisa melanjutkan acara makannya, dia sedih karena dirinyalah penyebab orang tuanya menangis, aku juga berharap aku segera kembali ke tubuhku dan bangun dari koma, batin Rio.
***
Saat malam tiba sekitar pukul 8 malam, Gerhana mengantarkan Fino kembali ke rumah makan di mana Kalisa bekerja, Riani juga ikut karena dia mempunyai tempat lain yang ingin dikunjungi setelah dari sana.
Sesampainya disana, mereka melihat Kalisa yang sedang berbincang serius dengan Riki, karena Riki tidak menyadari kehadiran mereka, Riki tetap fokus dengan apa yang dibahasnya.
"Kalisa, sebaiknya kamu pikirkanlah dengan baik..!, apa kamu mau terus menerus menunggu suamimu yang bahkan belum sadar, dia juga tidak mencintaimu, dia menyakitimu dan menikah dengan wanita lain bukan?, Sebaiknya kamu berpisah saja dengannya, aku akan membantumu mengurus surat adopsi Fino, aku akan membuatmu perlahan mencintaiku dan ini juga demi Fino," ucap Riki.
Kalisa tidak menjawab, dia malah memandang mertuanya dengan tatapan terkejut, dia tidak mau masalah ini sampai diketahui mertuanya.
"Apa? Maksud kamu Fino anak yatim piatu? Dan kamu mau mengadopsinya bersama Kalisa? Kalisa masih mempunyai suami, kamu jangan menyuruh dia menceraikan suaminya yang sedang koma!" Ucap Gerhana yang marah, dia tidak rela kehilangan Kalisa, dia masih berharap Rio bersama Kalisa lagi.
"Sudahlah Pah, kan ada Felisha," ucap Riani menenangkan suaminya, lalu dia berbalik menatap Riki, "asal kamu tahu ya, Rio menikahi Felisha karena Kalisa kabur dari rumah, dia selingkuh kok malah Rio yang dituduh selingkuh."
Kini Riani mendekat ke arah Kalisa, menarik lengan Kalisa dengan keras, "coba kamu jelaskan sama dia..! kenapa kamu kabur hah? jangan menyalahkan Rio terus, dia tidak bisa membela diri karena koma, makanya kamu bebas berbicara omong kosong begini."
Keadaan semakin kacau, Rio (Fino) ingin rasanya berteriak jika dialah yang salah dan jangan menyalahkan Kalisa lagi, namun apalah daya, dia tidak bisa membela istrinya yang kini dicintainya.
__ADS_1
Maafkan aku Kalisa, semua ini gara-gara aku, batin Rio.
Bersambung…..