Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Cemburu


__ADS_3

Fino yang ikut sakit, membuat Herlin semakin kerepotan karena dia harus menjaga dua pasien, untunglah dokter Riki datang dan membuat pekerjaan Herlin lebih ringan.


"Herlin, kamu fokus jagain Fino aja, biar Kalisa sama saya saja..!" Ucap Riki pada Herlin, dia berlalu masuk ke dalam ruangan itu setelah melihat Herlin menganggukan kepalanya.


Riki dapat melihat ranjang pasien yang saling berdampingan, dua duanya sama-sama sakit, Riki langsung duduk didekat ranjang Kalisa.


"Kalisa….," Panggilnya dengan lembut.


Suara Riki itu ternyata dapat terdengar oleh Rio (Fino) yang sedang tidur di sebelahnya, Fino langsung membuka mata saat mendengar suara yang terdengar seperti ancaman menurutnya.


Fino melirik ke arah samping dan benar saja dia melihat sosok yang dia benci, kenapa dia datang sih? So peduli lagi sama Kalisa, menyebalkan, batin Rio (Fino).


Ingin rasanya Fino mengganggu Riki, menjadi orang ketiga yang mengganggu setiap kedekatan mereka, namun kali ini Fino tidak sanggup karena dia merasa pusing, demam nya kali ini membuatnya pusing dan tidak mampu untuk bangun.


Terlihat Kalisa mulai membuka matanya, "Mas Riki, sejak kapan Mas ada disini?" Tanya Kalisa kaget.


"Baru juga sampai, bagaimana keadaanmu?" Tanya Riki.


"Sudah membaik Mas, Fino mana?" Tanya Kalisa yang panik karena teringat anak balita menggemaskan miliknya.


"Tenang Kalisa, Fino ada kok dan dia baik-baik saja, lihatlah..!" Ucap Riki sambil menunjuk ke arah Fino yang memang telah bangun.


"Fino sayang, maafin Bunna ya… gara-gara ketularan Bunna kamu jadi ikut sakit," ucap Kalisa pelan, dia merasa sangat bersalah.


"Bunna, Fino gapapa kok, Fino cuma pusing, Fino butuh tidul lebih banyak aja, hehe…," jawab Fino sambil tersenyum, dia tidak mau membuat Kalisa sedih, dia akan berusaha kuat di hadapan Kalisa agar tidak menyusahkan istrinya itu, apalagi sampai menghambat kesembuhan wanitanya.

__ADS_1


Kalisa pun ikut tersenyum, dia seakan mendapatkan mood booster melihat senyuman Fino yang manis itu.


Kenapa aku teringat Mas Rio ya saat melihat Fino tersenyum? Batin Kalisa, namun sebisa mungkin dia menepis perasaannya, dia tidak mau kalau dia harus terluka lagi karena terlalu mengharapkan cinta Rio yang tak pernah menjadi miliknya, bertepuk sebelah tangan itu rasanya menyakitkan untuk Kalisa, berjuang sendirian dan menelan kepahitan rumah tangga.


Riki begitu perhatian, dia benar-benar meluangkan waktunya hari itu khusus untuk Kalisa, menyuapinya, mengajaknya berjalan-jalan dengan mendorong kursi rodanya, sementara Fino dirawat oleh Herlin.


Rio merasa kepanasan, hatinya cemburu melihat kemesraan mereka berdua, apakah rasa sakit ini sama dengan apa yang Kalisa rasakan dulu saat aku selalu saja membawa Felisha pulang ke rumah dan bermesraan dengannya dihadapan Kalisa? Apa ini karma? Batin Rio.


Sesekali Rio cemberut karena kesal, namun itu malah membuat Herlin semakin gemas pada anak itu.


"Aww…, sakit kak," keluh Fino saat pipinya dicubit oleh Herlin.


"Maaf Fino, abis kamu gemesin sih, kamu kenapa cemberut gitu?" Tanya Herlin.


"Aku gak suka liat Bunna dekat sama om Doktel," jawab Rio jujur.


"Kak Herlin, sakit tau, kak kita ikuti Bunna yuk..!" Ucap Rio yang berharap Herlin mau mendorong kursi rodanya mengikuti dua orang yang sedang ditatap Rio itu.


"Hahaha …, anak kecil cemburu makin lucu aja kamu Fino, ok kita ikuti mereka," jawab Herlin sambil tertawa.


Sesekali Rio menghentakkan kakinya karena melihat Riki yang semakin menempel mencari kesempatan agar lebih dekat dengan Kalisa, jika dia sehat rasanya ingin berlari berhambur memeluk Kalisa dan memisahkan mereka, membuat Kalisa fokus padanya saja, namun sayang keadaanya kini tidak memungkinkan.


"Fino kakinya kenapa?" Tanya Herlin khawatir.


"Gapapa kak, banyak nyamuk," jawab Fino singkat.

__ADS_1


Herlin mencerna perkataan bocah itu, apa benar banyak nyamuk? Tapi rasanya dari tadi gak ada suara nyamuk lewat, aman kok, batin Herlin bingung.


"Kita kembali ke kamar kak, aku ngantuk..!" Keluh Fino pada Herlin, padahal Rio sudah tidak sanggup melihat kemesraan mereka, meski sebenarnya mereka hanya berbicara biasa saja, namun dimata Rio, itu sepertinya terlihat sebagai pengkhianatan cinta yang amat menyakitkan baginya, Rio memang lebay.


Akhirnya Herlin mendorong kursi roda itu kembali ke kamar pasien


***


Sementara di tempat lain, Riani sedang mencari alasan pada sang suami.


"Pah, besok mamah mau pergi ke luar kota, mau ketemuan sama teman lama, boleh ya Pah?" Tanya Riani.


"Papah gak bisa nemenin Mah, gak usah ya..!" Jawab Gerhana.


"Papah, kan ada banyak orang yang bisa nemenin Mamah, papah gak usah khawatir..!" Ucap Riani memaksa.


"Memangnya penting ya? Bisa ditunda kan sampai Papah ada waktu?" Tanya Gerhana.


"Emm, biasa aja sih Pah cuma ketemuan dan ngobrol aja, tapi Mamah mau nya besok, janji deh gak lama," jawab Riani sambil merayu suaminya.


"Hmm, boleh tapi harus ditemenin Mang Tatang ya Mah..! Bawa juga tuh Beni sama Beben, biar aman!" Ucap Gerhana.


"Sekalian aja Pah semuanya suruh ikut, biar rumah sepi, hmm…," jawab Riani cemberut.


"Hahaha, ngambek nih? Boleh Mah asal ada pengawal yang ikut aja," jawab Gerhana yang mampu membuat Riani membatalkan acara ngambeknya itu.

__ADS_1


Keesokan harinya Riani berangkat untuk menemui Nani, dia begitu penasaran dengan apa yang ingin diceritakan oleh wanita itu sebenarnya dan alasan apa yang membuatnya bisa berhenti bekerja tanpa memberitahunya.


Bersambung …


__ADS_2