
Riki yang sudah bersiap dan berniat pergi menemui Rio, dia bahkan belum sarapan. Dia akan makan di cafe yang Rio pilih untuk bertemu. Riki yang bergegas menuju pintu, dia melihat sang kakek yang mondar-mandir disana.
"Riki, apa sudah ada kabar dari Kalisa? Dan kapan kamu kembali, sampai kakek tidak menyadarinya?" Tanya Husen.
"Aku pulang dini hari Kek, aku langsung ke kamar karena aku tidak mau mengganggu kakek malam-malam," jawab Riki.
"Padahal semalam Kakek tidak bisa tidur karena memikirkan Kalisa, kalau begitu Kakek akan mencari bantuan lagi, siapa tahu Kalisa dapat dengan cepat ditemukan," ucap Husen.
"Iya kek, aku pergi dulu karena ada urusan sebentar, lalu mencari Kalisa lagi," ucap Riki.
"Iya, hati-hati..!" Jawab kakek Husen.
Selama perjalanan menuju cafe Riki mencoba memikirkan siapa yang ada dibalik semua ini. Siapa yang menculik Kalisa dan apa motifnya. Menurut penilaian Riki, Kalisa itu wanita baik dan tidak suka membuat masalah jadi dengan siapa Kalisa bermusuhan?, Itulah sederet pertanyaan di kepala Riki.
***
Begitupun Rio yang sudah bersiap, hari ini dia memang sengaja tidak masuk kantor dan memilih menemui ibu dan ayahnya terlebih dahulu lalu menemui Riki.
"Rio, kamu mau kemana lagi? Bukannya kamu merindukan ibumu yang cantik ini?" Tanya Riani.
"Hem… tentu. Tapi aku ada urusan sebentar Mah, aku harus pergi," jawab Rio.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu mau nemenin Felisha, apa benar begitu?" Tanya Riani.
"Gak Mah, dia sibuk sendiri akhir-akhir ini dan aku membiarkannya saja, daripada dia menempeili aku kemanapun, aku risih Mah," keluh Rio.
"Ish, seharusnya kamu ikuti dia, apa aktivitasnya mencurigakan atau tidak..! Setidaknya kamu tugaskan beberapa mata-mata," ucap Riani.
"Ah Mamah benar, kenapa baru terpikir sekarang ya? Hehe…," jawab Rio.
Riani hanya menggelengkan kepalanya entah mengapa anak lelakinya yang pintar dalam berbisnis justru lemah dalam menghadapi wanita, Rio tidak bisa menebak isi hati wanita, menebak mana yang tulus dan tidak. Rio terlalu santai sehingga Felisha selalu selangkah di depannya.
Benar apa kata Mamah, Felisha mencurigakan. Kemarin saja dia pulang pagi hari dan beralasan jika dia menginap di rumah temannya karena kecapean, batin Rio.
Rio pun pamit pergi, dia harus menemui Riki untuk membicarakan masalah kemarin. Terkadang saat Rio melihat wajah Riki dia akan emosi mengingat lelaki itu yang telah tega berniat membunuhnya, tapi disisi lain dia mengakui jika selama Kalisa kesulitan Riki lah yang menolong Kalisa, dan seharusnya dia juga berterimakasih pada lelaki itu karena telah menjaga istrinya. Rio juga tahu kalau Riki tidak mungkin menikahi Kalisa setelah tahu cerita kebenarannya.
***
"Disini saja dulu, tangan Neng juga masih terluka. Kasian nak Fino juga masih lemas belum bisa berjalan jauh. Kalau mau ke jalan besar memang perlu menempuh jarak yang cukup jauh," ucap Bu Tika.
"Jauh banget Bu?" Tanya Kalisa memastikan, dia ingin cepat pulang tapi harus memahami dulu situasi dan kondisi saat ini.
"Lumayan Neng, kalau jalan kaki bisa sampai dua jam, rumah ibu memang jauh dari jalan besar. Sebenarnya jalan ini dulunya ramai, tapi semenjak ada jalan tol, jalan ini sudah tidak pernah dilewati orang, hanya beberapa saja yang lewat dan penduduk sini juga sudah banyak yang pindah," jawab ibu Tika.
__ADS_1
"Oh, pantesan sepi Bu, apakah saya boleh tinggal sehari lagi sampai kondisi badan kami memungkinkan Bu?" Tanya Kalisa.
"Boleh Neng, tentu boleh," jawab Bu Tika sambil tersenyum.
Beruntungnya Kalisa dipertemukan dengan orang yang baik hati. Dia merasa lebih banyak dikelilingi orang-orang baik. Karena dia tidak mau sampai memaksakan Fino yang masih lemah, dia memutuskan pulang besok.
***
"Duduklah..!" Ucap Riki, lelaki itu tiba lebih awal bahkan sempat makan dulu. Dia sengaja karena perutnya lapar.
"Langsung ke intinya saja ya, meski aku masih merasa benci karena melihat seseorang yang hampir membunuhku, tapi aku mencoba melupakannya. Tentang Kalisa, aku mau menerima tawaranmu. Aku akui masih mencintai Kalisa," jawab Rio.
"Apa kamu serius? Tapi bukankah kemarin jelas-jelas kamu menolaknya?" Tanya Riki.
"Sebenarnya aku hanya malas jika harus berdebat dengan perempuan itu," jawab Rio.
"Maksudmu istrimu? Kamu tidak mau dia cemburu, ck.. kamu ternyata lebih menjaga perasaan dia. Kalau memang Kalisa akan dibuat menderita lagi lebih baik aku dipenjara saja," jawab Riki.
"Bukan begitu, kamu tidak akan mengerti. Tapi aku berjanji aku akan memperlakukan Kalisa lebih baik. Aku akan menceraikan Felisha setelah dia melahirkan anak itu," jawab Rio.
"Bahkan kamu tega meninggalkan anakmu sendiri, sudahlah lupakan saja kesepakatan kita!" ucap Riki yang kemudian bangkit. Dia kecewa dengan lelaki yang ada di hadapannya itu. Riki kira Rio sudah berubah, tapi dia sama saja, dia tidak mau menyerahkan adiknya (Kalisa) pada lelaki seperti itu, itulah yang dipikirkan Riki.
__ADS_1
Bersambung....