
Beberapa hari kemudian Kalisa sudah bekerja kembali, selama dia sakit para karyawan banyak yang mengeluh karena kewalahan. Tidak ada yang secekatan Kalisa dalam mengatur semuanya.
"Yey… ibu udah masuk lagi, ibu sudah sembuh, syukurlah…," ucap Herlin menyambut Bos nya itu dengan riang. Dia memang gadis yang ceria, bahkan kelewat ceria, hehe…
Kalisa tersenyum, dia membuka briefing pagi itu, dia juga kangen memasak, berbaur dengan karyawan lain di dapur. Dia lebih suka di dapur daripada melayani tamu karena dia hobi memasak.
Mungkin ini hari terakhir ku bekerja disini, batin Kalisa.
Saat siang hari datang, Riki datang juga dengan menyambut kesembuhan dan kembalinya Kalisa bekerja.
"Kamu jangan terlalu capek dulu, kamu bisa diam dan hanya memerintah saja, kamu tidak perlu ikut melakukan semuanya..!" Ucap Riki.
"Gak enak lah Mas, aku ingin memberi contoh juga pada mereka, aku ingin berbaur dan dianggap sebagai partner mereka. Bukan bos yang disegani bahkan ditakuti, aku tidak nyaman jika begitu," jawab Kalisa.
"Hmm… baiklah, asal kamu tidak terlalu memaksakan diri," jawab Riki.
"Iya Mas," jawab Kalisa.
Fino hanya menjadi pendengar disana, dia fokus pada Riki , dia menilai jika Riki bukanlah orang yang benar-benar baik.
"Fino, kamu juga sudah sembuh sayang? Mau om periksa gak? Nih pake tetoskop," ucap Riki.
"Gak usah Om, Fino udah sembuh kok," jawab Fino (Rio) dengan senyuman palsunya itu.
"Padahal om pengen periksa kamu loh, ayo buka bajunya..!" Ucap Riki lagi.
Seketika Fino berlari masuk ke dalam ruangan khusus milik Kalisa, dia tidak mau jika harus diperiksa lagi, jelas-jelas dia sudah sehat.
"Menyebalkan, dia itu so baik sama Kalisa, aku tidak suka, aku bukannya cemburu, hanya tidak mau jika dia mendapatkan pasangan yang tidak baik, meski dulu aku juga tidak baik pada Kalisa, tapi kan aku sekarang sudah berubah," gumam Fino (Rio).
***
__ADS_1
Sementara di kediaman Gerhana, mereka sedang makan bersama, hari ini lelaki itu berangkat ke kantor sedikit terlambat.
"Mah, kok Nina kerja disini? Bukannya dirumah Rio ya?" Tanah Gerhana.
"Felisha ingin mempekerjakan orang yang dia pilih, dia sudah punya asisten baru Pah, makanya Nina kerja disini lagi," jawab Riani.
"Oh, padahal Nina orangnya cekatan dan sabar, Felisha ini memang suka seenaknya Mah, Papah gak suka sama dia sejak dulu, hanya saja sekarang kan dia sedang mengandung, Papah tidak bisa mengabaikan calon cucu papah," jawab Gerhana.
"Iya Mamah tau Pah, kita harus pastikan dulu itu cucu kita atau bukan..!" Jawab Riani.
"Maksud Mamah, Bukannya dia hamil anak Rio? Kenapa Mamah sampai berpikir terlalu jauh, apa Mamah mengetahui sesuatu, bukannya Mamah begitu membela Felisha dan menentang omongan Papah dulu?" Tanya Gerhana.
"Mamah hanya waspada saja Pah, bukannya kehamilan Felisha terungkap saat Rio sudah koma?" Jawab Riani.
"Baguslah kalau mata Mamah kini lebih terbuka, tidak membela Felisha terus," jawab Gerhana dengan santai.
Riani yang mendengarnya memang merasa sedikit kesal, namun dia juga menyadari betapa dulu dia mempercayai Felisha dan memanjakan menantunya itu karena sedang hamil.
***
Saat malam tiba mereka berniat pulang dan tentu saja Riki sudah siap dengan mobilnya, membuat Fino cemberut karena kehadiran dokter muda itu.
Di dalam mobil Fino mendadak manja pada Kalisa, "Bunna, Fino ngantuk," ucap Fino sambil menyenderkan kepalanya pada Kalisa.
"Ya udah sini dipeluk Bunna aja, duduk diatas Bunna..!" Jawab Kalisa sambil menggendong anak balita itu, menaruhnya dipangkuannya, memeluknya dengan hangat dan dengan sedikit tepukan pelan agar Fino tertidur.
Aku selangkah lebih maju daripada si Riki itu, batin Fino (Rio)
Fino tersenyum penuh kemenangan, karena saking nyamanya dan rasa kantuknya diapun akhirnya tertidur.
"Mas …," panggil Kalisa.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Tanya Riki.
"Sebaiknya aku berhenti saja Mas dari rumah makan, aku mau kembali ke Panti, aku harus mengembalikan Fino kesana, aku lebih memilih Fino daripada pekerjaanku," jawab Kalisa.
"Apa? Pikirkan lagi Kalisa, bukankah ada cara lain, bagaiman kalau kamu menikah saja denganku, kita rawat Fino bersama..!" Jawab Riki.
Kalisa begitu terkejut dengan pemikiran Riki ini, terkesan jika lelaki ini memang memaksakan perasaannya.
"Maaf Mas, bukankah Mas tahu kalau sttusku itu masih istri seseorang, mana bisa aku menikah begitu saja, ibu panti juga sudah menelpon kemarin menanyakan Fino kapan akan dikembalikan ke Panti, aku merasa tidak enak." jawab Kalisa.
"Memangnya kamu masih berharap sama lelaki yang tidak mencintaimu, menyakitimu dan tidak menganggapmu ada? apa kamu tidak sayang dengan bisnis yang sedang kamu jalani, bahkan itu adalah pekerjaan yang menyenangkan karena sesuai dengan hobimu?" Tanya Riki.
Kalisa diam, dia memang terlalu mengharapkan Rio berubah, dia masih berharap pernikahannya bisa diperbaiki, tapi kata-kata Riki membuatnya sadar kalau dia telah melakukan hal yang sia-sia.
Namun ini sudah terlanjur, aku akan menunggu jawaban darinya dulu saat dia sadar, kalau mas Rio memang tidak menginginkan aku, maka aku akan pergi, batin Kalisa.
"Kalisa…," panggil Riki.
"Eh iya Mas," jawab Kalisa dengan sedikit kaget karena dia sedang melamun.
"Hmm, ini udah sampai," ucap Riki.
Riki turun dari mobil, dia membukakan pintu untuk Kalisa karena dia tahu wanita itu pasti kesulitan karena Fino yang tertidur dipangkuannya.
"Hati-hati Kalisa," ucap Riki dengan lembut.
Kalisa hanya mengangguk, dia kemudian berpamitan pada Riki. Mengucapkan terimkasih kasih karena telah mengantarnya pulang.
Riki menatap punggung Kalisa terus menerus, sampai tubuh wanita itu tak terlihat lagi karena telah masuk ke dalam kontrakan, Riki menampilkan senyuman jahatnya, entah apa yang direncanakan dokter muda ini.
Bersambung ….
__ADS_1