Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Penyelidikan Riani


__ADS_3

"Sepertinya Fino demam Bu, badannya panas sekali," ucap Herlin.


"Astaga, kenapa bisa demam? Apa karena terlalu dekat denganku?" Gumam Kalisa menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu coba panggilkan dokter ya..!" Ucap Kalisa pada Herlin, gadis itu berlari karena merasakan hal yang sama dengan Kalisa, dia begitu dekat dengan Fino sehingga dia merasa khawatir juga pada anak balita menggemaskan itu.


Setelah diperiksa, Fino belum juga bangun, dia sepertinya tertidur namun mengigau tak karuan.


"Aku yang salah, semua itu salahku dan jangan salahkan dia..! Aku memang suami yang tidak baik," Ucap Fino yang membuat Kalisa dan Herlin saling menatap heran.


"Loh, kok Fino bicaranya aneh ya Bu?" Tanah Herlin.


"Saya juga gak tahu, mungkin Fino meniru percakapan di televisi," jawab Kalisa karena hanya itu kemungkinan yang bisa terjadi.


Setelah Fino bangun, dia disuapi oleh Herlin meski sebenarnya Rio ingin disuapi oleh Kalisa, ingin diperhatikan oleh istrinya itu, Fino kemudian meminum obat dengan patuh.


Obat rasa jeruk? Oh astaga, pikir Rio yang sudah meminum obat khusus untuk anak itu dengan rasa buah-buahan.


***


Riani yang masih berada di dalam rumah milik anak lelakinya itu, dia berkeliling ke semua ruangan, dia ingat jika dulu dia sering datang ke Rumah ini, sementara Felisha sedang berbaring diranjang karena memang dia belum bisa melakukan apapun.


Riani duduk di kursi yang ada di teras rumah, membayangkan kebun bunga yang bahkan sudah tidak ada disana, mungkin Felisha tidak seperti Kalisa yang suka merawat berbagai macam bunga.


"Bu, mau minum apa?" Tanya Bi Lina yang menghampiri Riani.


"Air tawar dingin aja Bi, oh iya Bi Nani mana ya? Bisa tolong panggilkan, saya mau bicara..!" Ucap Riani pada pembantu baru itu.

__ADS_1


"Tapi maaf Bu, disini tidak ada yang namanya Nani, hanya ada saya dan bi Sri, sisanya pekerja laki-laki yang mengurus kebun juga menjaga di depan gerbang," ucap Lina.


"Apa? Kamu sudah berapa lama kerja disini Lina?" Tanya Riani.


"Saya baru sekitar 4 bulan Bu, sepertinya orang yang ibu maksud sudah tidak bekerja lagi disini," jawabnya.


Riani pun mengangguk pelan, dia menikmati angin sepoy-sepoy di depan rumah sambil memikirkan kenapa Nina sampai berhenti bekerja tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Setelah lumayan lama duduk, Riani melihat beberapa ruangan, di sana ada ruangan kerja milik Rio juga.


Ruangan itu bersih dan terawat, sepertinya memang ada yang membersihkan ruangan itu secara rutin, hingga dia tidak sengaja menemukan sebuah foto di laci meja kerja Rio.


Foto dimana Gani bermesraan dengan Felisha, foto itu terselip di tengah buku yang ada didalam laci, beruntung Riani menemukannya.


"Apa Rio memang sudah tahu perselingkuhan mereka? Lalu kenapa dia tidak memberitahuku? Aku pikir rumah tangga Rio bahagia, dia tidak pernah mengeluh, tapi ternyata dia mengalami kegagalan untuk kedua kalinya," gumam Riani sambil meremas foto itu, antara marah dan sedih menjadi satu, marah pada Felisha dan sedih untuk Rio anaknya.


Riani yang tidak ingin berlama-lama bersama Felisha yang penuh kepalsuan itu, dia memilih segera pamit dengan alasan ingin kembali ke rumah sakit menemani Rio yang koma.


"Iya Mah, terimakasih…," jawab Felisha sambil tersenyum, wajahnya masih sedikit pucat karena kondisinya memang belum membaik.


Tadinya dia merasa prihatin dan ingin memberikan perhatian secara tulus pada menantunya itu, namun setelah kejadian terakhir kali di Rumah Sakit tadi, Riani menjadi membenci menantunya ini, namun dia harus sabar, dia harus menunggu sampai bayi itu lahir.


***


Riani memilih kembali ke rumah, dia menanyakan keberadaan Nina pada semua pekerja yang ada di Rumahnya karena memang Nina adalah asisten rumah yang dulu bekerja dengan Riani namun dipindahkan ke Rumah Rio yang baru.


"Maaf Bu, saya tidak tahu, sudah lama tidak saling berkomunikasi juga, sepertinya saya hanya menyimpan nomor ponsel yang lama ketika masih bekerja disini, itupun sudah tidak aktif," jawab Karno.

__ADS_1


"Oh gitu, apa kamu tahu dimana tempat tinggal Nina?" Tanya Riani.


"Tidak Bu, hanya tahu kota nya saja, tidak tahu alamat lengkapnya, bukannya setiap pekerja pasti ada data-datanya ya Bu?" Tanya Karno.


"Justru itu, berkasnya hilang karena sudah sangat lama sekali Nina bekerja disini, ya sudah nanti kalau ada kabar kamu hubungi saya ya..!" Ucap Riani.


"Baik Bu," jawab Karno sambil mengangguk.


Riani merasa tidak rela saja Nina berhenti begitu saja, tidak pamit padanya dan menghilang begitu saja, padahal Nina sudah bekerja lama padanya, begitu percayanya Riani pada Nina bahkan pembantunya itu diutus mengurus rumah anaknya Rio.


"Ibu baru pulang? Ibu mau minum apa?" Tanya Hani.


"Buatkan saya jus ya Han, oh iya.. apa kamu tahu Nina sudah tidak bekerja di rumah Rio?" Tanya Riani.


"Tahu Bu, Teh Nina pernah nelpon, katanya titip ibu sama Den Rio, titip neng Kalisa juga, udah lama juga itu Bu," jawab Hani.


"Kenapa kamu gak pernah bilang? Coba saya minta nomor ponsel Nina..!" Ucap Riani.


Hani pun memberi nomor ponsel Nina, beruntung nomor itu masih aktif dan Nina yang mengangkatnya, Riani mulai berbicara hal serius.


"Bu, sebaiknya kita bertemu saja, saya juga ada banyak hal yang perlu disampaikan pada ibu, ini penting Bu, setelah saya tahu Den Rio koma, saya turut prihatin, dan saya tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, yang akan saya bicarakan juga ada hubungannya dengan rumah tangga Den Rio Bu," ucap Nina.


"Oke, kamu gak usah repot-repot kesini, biar saya yang mengunjungi kamu di kampung, sekalian nengokin keluarga kamu Nin..!" Ucap Riani.


"Baik Bu," jawab Nina diseberang sana.


Setelah panggilan itu berakhir, Riani memilih merahasiakan hal ini dari Gerhana, dia tidak mau melibatkan suaminya dalam penyelidikannya ini, dia ingin Gerhana fokus pada perusahaan saja, suaminya itu terlihat kewalahan mengurus beberapa perusahaan miliknya dan milik Rio.

__ADS_1


Gerhana harus mengurus perusahaan Rio juga sendirian, meski ada beberapa orang kepercayaannya, tapi tetap saja dia ikut memantau dan selalu mengawasi perkembangan perusahaan, dia tidak mau perusahaan yang dibangun Rio dengan susah payah akan hancur karena para pengkhianat.


Bersambung ….


__ADS_2