Anak Genius Itu Aku

Anak Genius Itu Aku
Sering Bertemu


__ADS_3

"Ah tidak, lupakan saja..! Kamu tidak akan mempercayai apa yang aku katakan karena ini terlalu diluar nalar," jawab Rio.


"Hmm … , meski begitu. Tetap saja kamu sudah membuat aku penasaran Mas, jadi katakanlah!" Ucap Kalisa.


Karena Kalisa memaksa, Rio mulai menjelaskan kalau dia pernah terjebak ditubuh Fino. Menceritakan masa-masa yang dia lalui bersama Kalisa namun dengan fisik anak kecil yang tidak lain itu Fino.


Kalisa mendengarkan apa yang dikatakan Rio tanpa menyelanya. Rio juga tidak bisa menebak, apakah Kalisa percaya atau tidak hingga antusias begitu tanpa menyela. Lelaki itu tidak bisa menebak apa yang ada dalam hati wanita didepannya. Rio hanya berusaha jujur dan mengungkapakan perasaannya selama ini, termasuk rasa bersalahnya yang teramat dalam.


"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak Mas, ceritamu memang tidak masuk akal, tapi kamu tahu momen yang aku lalui bersama Fino berdua. Sedikit aneh memang, hmm… sudahlah, anggap saja aku percaya dengan ceritamu Mas," jawab Kalisa.


"Sudah ku duga, akan sangat sulit mempercayai apa yang aku katakan, lebih baik aku antar kamu pulang ya? Hari juga sudah mulai gelap," ucap Rio.


"Ah iya, aku juga sudah selesai makannya," jawab Kalisa.


Selama dalam perjalanan pulang Kalisa tampak diam. Dia masih memeikirkan cerita Rio tadi. Hati dan pikirannya kini sedang berperang sengit, ketika logikanya menolak ini semua, tapi hatinya merasa ada yang aneh dengan Fino yang dulu, Kalisa mengakui itu dan percaya kalau Fino yang mendadak genius itu karena ada Rio didalamnya.


Tapi apakah itu mungkin? Terlalu mustahil bagiku, batin Kalisa. Wanita itu akhirnya sadar dari lamunannya saat Rio memanggil namanya, ternyata mereka sudah sampai di depan gerbang kediaman keluarga Husen.


"Ah iya sudah sampai, makasih ya Mas," ucap Kalisa sambil tersenyum.


"Iya, jangan terlalu dipikirkan apa yang tadi aku ceritakan..!" Jawab Rio. Lelaki itu tersenyum, dia seakan tahu apa yang Kalisa pikirkan.


Ish, kenapa dia bisa tahu? Tapi siapapun yang mendengar dongeng tadi, pasti hanya akan menganggapnya dongeng belaka bukan? Batin Kalisa.


Setelah mobil itu sudah tak terlihat lagi, Kalisa masuk ke dalam rumah. Dia bisa melihat sang kakek yang tersenyum seraya menggodanya.


"Hmm… ada yang CLBK nih," ucap Husen.

__ADS_1


"Ish, memang kakek tahu artinya CLBK? Ini pasti kerjaan Kakek kan, membuat aku bisa makan berdua dengan Rio, ini bukan ketidak sengajaan. Pasti sengaja direncanakan Kakek?" Tanya Kalisa.


"Hahaha… , kan kamu yang mau kembali sama dia Kalisa. Kakek hanya membantu, harusnya kamu berterimakasih dan memeluk kakek saat ini..!" Jawab Husen.


"Hari ini lumayan kek, tapi aku lelah. Aku masuk ke kamar dulu ya kek?" Ucap Kalisa.


Husen mengangguk sambil tersenyum, dia merasa senang jika cucunya menemukan kebahagiaannya. Membina sebuah rumah tangga yang bahagia. Ya … sebelum dia tutup usia, dia harus melihat Kalisa memiliki kehidupan yang nyaman dan membuatnya tidak khawatir.


***


Pertemuan tak disengaja antara Kalisa dan Rio terus berlanjut. Bahkan kini sudah yang ke 8 kalinya. Mereka tahu ada seseorang dibalik layar, tapi karena mereka menikmati setiap pertemuan itu dan senang bisa saling berjumpa. Maka mereka menganggap itu memang hanya kebetulan saja.


"Sepertinya kita berjodoh Kalisa, selalu saja bertemu, hehe …," ucap Rio.


"Mungkin," jawab Kalisa sambil tersenyum. Hahaha… andai kamu tahu Mas, ini cuma kerjaan Kakek, tapi aku senang. Semoga ini awal yang baik, batin Kalisa.


Sebenarnya Rio tidak tertarik dengan hadiahnya, tapi dia ingin berdekatan dengan Kalisa. Dia menarik lengan Kalisa ke tengah acara pesta, diamana beberapa pasnagan sudah bersiap.


"Aku gak bisa dansa Mas," keluh Kalisa. Dia tidak mau sampai malu.


"Gapapa, aku ajarin. Kamu ikuti aja langkah aku Kalisa, kamu coba resapi lagunya dan biarkan tubuhmu bergerak sesuai irama..!" Ucap Rio.


"Tidak semudah itu Mas, ini bukan adegan film romantis, apa kamu mau aku juga menginjak kakimu seperti drama Korea?" protes Kalisa.


"Hahaha…, kamu semakin menggemaskan kalau marah dan cemberut begitu," ucap Rio sambil tertawa, lelaki itu begitu menikmati malam ini.


"Masa sebaiknya kita menepi, lagipula musiknya belum mulai!" ucap Kalisa.

__ADS_1


"Gak, aku mau hadiahnya," jawab Rio beralasan.


"Memangnya kamu mau apa Mas? Hadiahnya aku ganti deh, paling juga barang," ucap Kalisa.


Rio menggeleng, dan musik terlanjur terdengar. Kalisa kesulitan mengikuti langkah Rio, tapi dia berusaha keras karena tidak mau mempermalukan dir sendiri.


"Aww …, kakiku sakit," ucap Rio.


"Kan aku udah bilang gak bisa dansa, rasain emang enak," ucap Kalisa merasa puas dengan senyuman yang mengembang.


Bukannya marah, Rio malah suka dengan sikap Kalisa yang semakin nyaman dengannya. Berani meledek dan memarahinya, itu berarti Kalisa sudah menganggap mereka dekat.


"Kenapa malah senyum begitu? Apa Mas mau aku injak lagi?" Tanya Kalisa kesal.


"Boleh, aku rela kok," jawab Rio.


Kalisa pun mengabaikan Rio setelah mendengar jawaban Rio. Wanita itu merasa semakin dibuat kesal oleh tingkah mantan suaminya ini. Padahal dulu dia tidak pernah melihat sisi Rio yang semenyebalkan tapi menyenangkan ini, dulu hanya ada Rio yang dingin dan kejam. Hanya ada Rio yang tak berperasaan sama sekali, tapi sekarang Kalisa merasa hangat dan nyaman apalagi saat tubuh mereka kini saling berdekatan.


Tanpa Kalisa sadari, Rio menutup tariannya dengan memeluk tubuhnya erat. Tangan Kalisa tak mampu membalas pelukan itu, masih ada rasa ragu menyelimutinya. Ada rasa trauma yang masih memberinya luka, tapi beberapa detik kemudian Kalisa pun memebalas pelukan hangat itu. Memeluk erat tubuh Rio yang disaksikan oleh semua para tamu undangan.


Dunia memang serasa milik berdua. Mereka lupa kalau mereka sedang berada di acara orang. Suara tepuk tangan membuyarkan perasan yang mulai berkecamuk didalam dada, ujung mata Kalisa bahkan sudah berair.


Mereka kini melepaskan pelukan yang semula terasa nyaman. Saling menatap satu sama lain, dan jangtung Kalisa mulai berdetak tak karuan.


Entah mengapa perasanku masih sama Mas, masih mencintaimu walau sering kau sakiti, akupun tak mengerti. Terkadang aku ingin mengutuk hatiku yang tak sejalan dengan pikiranku, tapi… mungkin ini sudah takdirku, Takdir untuk selalu mencintaimu, batin Kalisa.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2