
Setelah puas bermain, mereka lalu makan siang, Riki juga membelikan beberapa baju baru untuk Fino dan juga Kalisa.
Sekeras mungkin Kalisa menolak itu sia-sia saja, akhirnya Kalisa menerima semua pemberian Riki.
***
Keesokan harinya Rumah makan yang dirintis oleh Kalisa buka kembali, dia bekerja seperti biasanya hari ini, Fino juga ikut karena tidak ada siapa-siapa dikontrakan.
Siang itu Kalisa dikejutkan oleh kedatangan ibu panti, dia berniat membawa Fino pulang karena anak itu sudah sembuh dan sudah saatnya kembali ke Panti.
"Fino gak mau ke Panti, Fino mau disini sama Bunna," protes Fino.
"Gimana ini Bu, Fino gak mau pisah sama saya?" Tanya Kalisa pada ibu Panti Asuhan (Bu Rosi).
"Gimana ya, Ibu juga bingung, tapi sesuai peraturan Panti jika kamu membawanya seperti ini dan dalam waktu yang lama, maka kamu harus mengurus surat adopsi," jawab Bu Rosi.
"Tapi Bu, saya tidak bisa karena suami saya ternyata kecelakaan Bu, dan masih koma, kami tidak bisa mengurus Hak Asuh Fino," jawab Kalisa dengan lemas, dia tidak mau melepaskan Fino, dia tidak mau kehilangan Fino, apalagi kalau pada akhirnya sampai ada sebuah keluarga yang mengadopsinya.
"Ibu akan kembali ke Panti besok, ibu lihat Fino baik-baik saja dan terawat bersama kamu, ibu percaya sama kamu, ibu akan memberi kamu waktu Kalisa, 2 bulan saja kamu boleh membawa Fino, setelah itu kamu kembalikan Fino ke Panti atau mengurus berkas-berkas Adopsi," ucap Bu Rosi.
Bu Rosi tidak tega jika mengambil Fino secara paksa, bagaimana pun memang Fino masih tanggung jawabnya sebagai kepala Panti, tapi Fino sepertinya memang ingin bersama Kalisa dan nyaman dengannya.
"Baik Bu, saya mengerti," jawab Kalisa sambil mengangguk.
__ADS_1
Kalisa mempersilahkan Bu Rosi untuk menikmati semua hidangan yang telah ia persiapkan, Fino juga ada disana menikmati makanannya, sementara dia akan kembali ke dapur untuk melihat pekerjaan para karyawannya.
Pikirnya Kalisa saat ini sedang kacau, dia terganggu dengan masalah Hak Asuh itu, dia tidak bisa mengurus dokumen itu mengingat harus ada persetujuan dari Rio sang suami, jika Rio sadar pun Kalisa tidak yakin dia akan mendapatkan persetujuan itu, dan jika dia ingin Hak Asuh itu maka dia harus mempertahankan rumah tangganya bersama Rio.
Aku pusing, aku benar-benar tidak mau kehilangan Fino, tapi… adakah cara lain? Pikirnya.
"Aku harus menunggu Mas Rio sembuh dulu, lalu memutuskan jalan apa yang harus ku ambil nanti," gumam Kalisa, bahkan pernikahannya pun sedang diujung tanduk, jika dia berpisah dengan Rio, dia tidak mungkin langsung menikah dalam waktu cepat dengan lelaki lain, dia juga tidak mau memanfaatkan orang lain.
Pikirannya yang kalut itu membuat Kalisa tidak fokus, dia tidak melihat minyak yang tumpah, meski itu sedikit namun tetap saja itu membuat lantainya licin, Kalisa terpeleset dan dia jatuh lalu pingsan.
"Ibu … , bangun Bu…!" Ucap para karyawan yang menolong, akhirnya mereka membawa Kalisa ke ruangan khusus milik Kalisa, dimana dia bisa dibaringkan dengan nyaman, dan salah satu karyawan menelpon Riki karena panik.
Tak berselang lama, Riki berjalan memasuki Rumah makan dengan berlari, Fino yang melihat itu pun sedikit curiga, ada apa ini? Kenapa dia sampai berlari seperti itu? Batin Fino.
"Gak Bu, Fino mau menemui Bunna dulu," jawab Fino, saat melihat Bu Rosi mengangguk, diapun segera berlari, perasaannya mulai tidak enak, jangan sampai terjadi sesuatu dengan Kalisa, pikirnya.
Benar saja, Fino melihat para karyawan yang berkumpul di depan pintu ruangan Kalisa.
"Bunna….," Teriak Fino, dia sengaja berteriak agar semua orang memperhatikannya dan memberikannya jalan untuk bisa menemui Kalisa.
"Eh Fino, jangan nangis ya sayang, Bunna gapapa kok, kan ada om dokter yang mengobati," jawab Herlin salah satu karyawan disana, dia cukup dekat dengan Fino karena dia suka balita yang tampan dan menggemaskan seperti Fino.
"Aku mau Bunna, Fino mau ketemu Bunna," jawab Fino.
__ADS_1
Herlin menggendong Fino, dia menerobos di antara kerumunan hingga akhirnya dia bisa membawa Fino ke dalam ruangan itu, melihat dengan jelas tubuh Kalisa yang terbaring tak sadarkan diri.
"Bunna…," panggil Fino.
Herlin menurunkan Fino, membiarkan anak itu berlari sekencang mungkin menghampiri Kalisa, pasti Fino sangat sedih, batin Herlin.
Fino langsung memeluk Kalisa, "Bunna bangun..! Bunna…, hiks… hiks…," panggil Fino dengan tangisannya.
"Fino tenang ya sayang..!, Bunna masih diperiksa sama om dokter, Bunna gapapa ko, sebentar lagi pasti sadar," ucap Riki menenangkan Fino, dia bahkan mengusap kepala anak itu.
Fino hanya menoleh sekilas pada Riki lalu dia kembali fokus pada Kalisa yang belum sadar, sadarlah Kalisa..! Jangan sampai kamu ikut-ikutan koma sepertiku, batin Rio (Fino).
"Kenapa Bunna bisa pingsan om doktel?" Tanya Rio, dia ingin tahu penyebabnya karena tadi terakhir dia melihat keadaan Kalisa baik-baik saja.
"Terjatuh di dapur, mungkin Bunna kurang hati-hati, Bunna tidak apa-apa kok Fino," jawab Riki, dia telah selesai dengan pemeriksaanya, dia duduk menghadap Kalisa, menunggu wanita itu sadar bersama Fino.
Apa mungkin Kalisa tidak hati-hati karena memikirkan hak asuh tadi? Hmm… ternyata anak ini begitu berarti bagi dia, ya..., dia menganggap Fino itu penting dalam hidupnya, tapi itu untuk Fino bukan untuk Rio, pikir Rio (Fino).
Rio merasa sedikit kecewa dan iri pada sosok fino mengingat sudah lama Kalisa tidak menjenguk Rio di Rumah Sakit, namun dia tidak bisa menuntut istrinya itu untuk mempedulikannya sebagai suami, dia sadar diri kalau selama ini dia tidak bisa menjadi seorang suami yang baik untuk Kalisa.
Fino diam tak bergerak sama sekali, dia menunggu Kalisa sampai membuka kedua matanya.
Bersambung….
__ADS_1