
Apakah aku harus memilih diantara mereka? Padahal aku ingin hidup bersama mereka, batin Kalisa. Dengan terpaksa dan demi keselamatan Fino, dia pun menandatangani surat itu.
"Bagus," ucap wanita itu.
"Kalian bawa mereka pergi lebih jauh, tutup mata mereka dan tinggalkan mereka di suatu tempat yang jelas jauh dari tempat ini!" Perintah wanita itu pada anak buahnya.
Kalisa menggelengkan kepalanya, dia memberontak, dan dia bahkan menangis sekarang. Jangan lakukan itu pada kami! dasar kamu wanita jahat dan licik, jika tuhan berpihak padaku, maka aku pastikan kamu akan mendapatkan balasannya, batin Kalisa.
Kalisa dan Fino dibawa kembali menggunakan mobil, entah kemana mobil itu dibawa oleh mereka. Kalisa hanya berdoa semoga mereka baik-baik saja, dia bersyukur setidaknya Fino tidak terluka.
Setelah dua jam berlalu, mereka diturunkan di pinggir jalan yang sepi bahkan dengan keadaan masih terikat. Dinginnya malam membuat mereka semakin tersiksa, Kalisa tidak tega dengan keadaan Fino yang kini ada didekatnya, meski dia tidak bisa melihat Fino karena kain penutup mata, tapi dia bisa merasakan sentuhan tubuh Fino.
Dingin, angin malam membuat mereka semakin kedinginan, Kalisa berusaha membuka ikatannya, dia mencari sesuatu yang bisa membuat tali itu terputus. Aku harus bisa, aku harus kuat demi Fino!, batin Kalisa.
Setengah jam Kalisa berusaha melepaskan tali itu dengan pecahan kaca yang ada di dekatnya, akhirnya tali itu terbuka bersamaan dengan darah yang berasal dari tangannya yang terkena sayatan kaca. Kalisa tidak mempedulikan luka itu, sampai dia tidak merasakan sakit sama sekali. Wanita itu langsung membuka semua ikatan Fino dan memeluk tubuh balita yang kini terasa dingin.
"Bunna …," panggil Fino dengan pelan.
"Iya sayang Bunna disini. Kamu harus kuat, kita cari bantuan ya sayang..!" Ucap Kalisa.
"Bunna beldalah?" tanya Fino.
"Gapapa sayang, ini gak sakit kok," jawab Kalisa. Dia mengangkat tubuh Fino dan berjalan menelusuri jalan itu. Jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dipinggir.
Kalisa menggendong dengan sisa tenaganya, meski merasa lelah dan lapar karena dia belum sempat makan lagi, tapi dia memaksakan dirinya agar bisa menemukan tempat yang nyaman untuk Fino.
Ah, ada rumah kecil. Aku berharap penghuninya bisa berbaik hati menampung kami, batin Kalisa.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Permisi…," ucap Kalisa dengan sedikit keras.
Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka. Penghuni rumah ternyata sangat baik mempersilahkan Kalisa dan Fino menginap, memberi mereka teh hangat untuk menghangatkan tubuh. Dia juga mendapatkan perawatan luka di tangannya. Kalisa menceritakan kejadian yang menimpanya hari ini hingga membuat sepasang suami istri itu mengerti.
"Terimakasih ya Pak, Bu…," ucap Kalisa.
"Sama-sama, kalian boleh menginap disini malam ini, biar besok kalian bisa mulai melakukan perjalanan pulang..!" Ucap ibu Tika.
"Iya Bu sekali lagi terima kasih," ucap Kalisa sambil tersenyum.
***
Sementara ditempat lain, Riki sedang mencari keberadaan Kalisa, dia ingin menghubungi polisi tapi ini belum 24 jam. Riki hanya berusaha mencari wanita itu semampunya, dia dibantu oleh anak buah kakeknya tapi belum menemukan titik terang.
Riki mencoba melacak ponsel Kalisa, tapi tidak bisa. Ponsel itu sudah dihancurkan oleh seseorang, kemudian dibakar sampai tak tersisa.
"Kek, Kalisa masih belum ketemu juga," ucap Riki.
"Cari lagi! Kakek tidak mau kehilangan cucu kakek lagi!" Ucap Kakek Husen.
Riki mencari dan terus mencari meski tak tahu arah, dia mencari karena benar-benar khawatir pada adiknya itu, bukan karena takut oleh sang kakek.
__ADS_1
Kamu dimana Kalisa? Batin Riki.
Riki kembali ke rumah saat hari sudah pagi, dia yang lelah memilih berbaring diranjang. Meski berniat hanya berbaring saja dan ingin mencari Kalisa lagi, tapi matanya seolah memberontak. Mata itu terpejam dengan sendirinya tanpa bisa ditahan oleh Riki.
"Kalisa…," teriak Riki.
"Hah, hah, hah…, untunglah ini hanya mimpi," gumam Riki.
Terdengar suara ponselnya berbunyi menandakan ada seseorang yang menelponnya, jelas dia berharap itu telepon dari pengawal sang kakek yang memberi kabar tentang Kalisa.
Riki merasa kecewa karena yang menelpon ternyata Rio. "Ada apa dia menelponku?" Gumam Riki.
"Hallo…," ucap Riki.
"Apakah kita bisa bertemu di cafe xx jam 9 pagi ini?" Tanya Rio.
"Hmm, bisa…," jawab Riki.
"Ok, aku tunggu," jawab Rio.
Riki sebenarnya ingin mencari Kalisa lagi, tapi pertemuannya dengan Rio juga sesuatu yang penting, dia berharap lelaki itu mau memaafkannya dan mencabut laporannya itu. Riki juga berharap Rio datang sendirian tanpa istrinya yang menyebalkan.
Riki memilih tidur lagi sebentar dan menyalakan alarmnya. Dia juga belum sempat bertemu sang kakek karena pulang saat dini hari. Dia ingin mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu.
Aku tidak boleh sampai sakit! Aku harus bisa menemukan Kalisa dan memberinya kehidupan yang bahagia. Aku juga harus bisa mendapatkan maaf dari lelaki itu karena aku tidak sanggup jika karirku juga hancur seketika, batin Riki.
Bersambung ….
__ADS_1