
Akhirnya Kalisa bangun, itu sungguh membuat Rio merasa bersyukur.
"Bunna….," Panggil Fino.
Kalisa memegang kepalanya yang masih terasa sakit, dia ingat kalau dia sempat terjatuh, "Fino, Bunna gapapa ko," jawab Kalisa lalu memeluk anak balita itu, ya… dia terjatuh karena saking takut kehilangan Fino, memikirkan masalah Fino.
Bu Rosi yang mencari keberadaan Kalisa pun pada akhirnya sampai di ruangan itu, "Kalisa, kamu kenapa? Ibu menunggu kamu di luar tapi tak kunjung datang, Fino juga pergi eh gak balik lagi," tanya Bu Rosi.
"Saya gapapa Bu, hanya kecelakaan kecil saja," jawab Kalisa.
"Syukurlah, eh ada Dokter Riki juga, apa kabar Dokter?" Tanya Bu Rosi.
"Saya baik Bu, ibu kapan datang?" Tanya Riki.
"Tadi kok belum lama, besok ibu mau kembali ke Panti, berniat pulang sekalian dengan Fino, tapi ternyata Fino masih betah disini sama Kalisa," jawab Bu Rosi sambil tersenyum.
"Oh begitu, iya Bu Fino memang sangat sayang sama Bunnanya, begitupun sebaliknya," jawab Riki.
Bu Rosi pun mengangguk kecil sambil tersenyum, memang semua orang yang melihat akan tahu jika ada ikatan diantara Kalisa dan Fino, mereka saling menyayangi seperti ibu dan anak.
Tapi, peraturan tetaplah peraturan, Bu Rosi juga tidak mau jika bertindak sesuka hati, dia memiliki amanah untuk menjaga anak-anak itu dan tidak sembarangan dalam hal memberikan hak asuh.
Setelah keadaan Kalisa membaik, Kalisa pun pulang ke kontrakannya, Bu Rosi juga pergi menuju penginapan yang disewa, dia memang ada keperluan di kota ini.
Sepanjang jalan Kalisa hanya melamun, Riki yang berada di kursi depan memperhatikan wanita itu dari kaca spion, ada apa dengannya? Seperti ada masalah besar yang dia pikirkan, apakah itu tentang suaminya? Pikir Riki.
Sebenarnya dari jauh-jauh hari Riki ingin tahu masa lalu Kalisa, status Kalisa saat ini, agar dia tidak berharap lebih jika memang wanita itu masih dengan status menikah.
"Kalisa, kamu kenapa?" Tanya Riki.
"Eh, iya Dok ada apa?" Tanya Kalisa lagi, dia memang sedang tidak fokus.
"Hmm, kamu kenapa melamun sepanjang jalan?" Tanya Riki.
__ADS_1
"A-aku gapapa Dok, hehe…,"jawab Kalisa sambil tersenyum sedikit, dia ingin memberi tahu kalau dia benar-benar baik saja dan tidak mau mendapatkan pertanyaan seperti itu lagi.
"Syukurlah, aku hanya khawatir, kalau kamu punya masalah yang sulit dipecahkan, masalah yang tak sanggup kamu selesaikan, kamu bisa cerita sama aku, siapa tahu aku bisa membantu," ucap Riki.
"Hmm, iya Dok, makasih..," jawab Kalisa sambil mengelus-ngelus kepala Fino yang tertidur di pangkuannya.
Fino begitu nyaman tidur sambil memeluk Kalisa, ya… itulah cara Rio mencuri-curi kesempatan sebagai Fino.
"Jangan panggil aku Dokter terus Kalisa, aku sedang tidak praktek," protes Riki.
"Terus aku harus panggil apa? Rasanya kurang pantas kalau aku hanya memanggil nama saja," jawab Kalisa.
"Hmm, kalau di luar jam praktek, kamu boleh memanggilku Mas Riki, usiaku lebih tua darimu bukan? Kita juga partner bisnis, jadi kamu tidak usah canggung atau sungkan padaku..!" Jawab Riki.
"Baiklah," jawab Kalisa datar, dia sedang memikirkan masalahnya yang belum selesai, bagaimana mau selesai jika Rio saja masih dalam keadaan koma.
***
Keesokan harinya Kalisa izin, dia memberitahu jika dia akan datang ke Rumah Makan saat siang hari karena ada keperluan penting, dia mempercayakan semuanya pada karyawannya yang bernama Meri karena dia karyawan yang paling mahir memasak.
"Fino, kita jenguk om Rio dulu ya, nanti kita ke Rumah Makan setelah dari sini?" Tanya Kalisa.
Fino pun mengangguk sambil tersenyum, Rio senang karena dia akan dijenguk Kalisa.
Kalisa ingin tahu perkembangan Rio dan bertanya kira-kira kapan suaminya itu sadar, dia berharap bisa berbicara hari itu juga dengan Rio, berharap ada keajaiban, namun ada sedikit rasa ragu dihatinya, dia takut jika ibu mertuanya melarangnya, dia takut jika ada Felisha disana dan membuat ulah, karena kedatangannya kesana hanya ingin melihat keadaan Rio.
Kalisa berjalan dengan menggandeng Fino, dia berjalan perlahan, dia ingin memastikan tidak ada orang yang akan menghalanginya.
Benar saja, disana hanya ada pak Gerhana, mungkin ini terlalu pagi untuk Felisha datang kemari.
"Pah…," panggil Kalisa.
"Kalisa, eh Fino juga, kalian mau jenguk Rio?" Tanya Gerhana.
__ADS_1
Mereka mengangguk, tentu Gerhana menyambut kedatangan mereka dengan sangat baik, Kalisa masuk dengan langkah ragu, dia masih mengingat bagaimana perlakuan Rio padanya dimasa lalu, masih tersisa rasa sakit di hatinya, namun dia berusaha menepis rasa itu, itu hanya masa lalu Kalisa, maafkanlah mas Rio, batinnya.
Dia duduk di kursi dekat ranjang, "mas… apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, maafkan aku yang sempat kabur dari rumah, maafkan aku karena tidak bisa menjenguk mas setiap hari, tapi aku yakin Felisha pasti selalu ada buat kamu mas, aku tidak perlu mengkhawatirkan mu," ucap Kalisa dengan lembut.
Rio (Fino) mendengarkan apa yang diucapkan Kalisa, itu membuat hatinya sakit, sakit karena pada kenyataannya dia telah menyakiti hati istrinya sebegitu dalamnya, dan sakit karena pada kenyataannya Felisha bukanlah wanita yang tepat.
Kamu salah Kalisa, Felisha tidak sebaik dirimu, dia tidak memperlakukan aku sebaik apa yang kamu pikirkan, andai kamu tahu kalau aku begitu berharap padamu bukan pada Felisha, batin Rio (Fino).
"Mas, semoga kamu cepat sembuh ya..!, Kamu harus kuat karena ada buah hati yang menantikan ayahnya, Felisha sedang mengandung anakmu mas, kamu seharusnya bangun demi anakmu yang membutuhkan kasih sayangmu..!," ucap Kalisa dengan menahan air matanya.
Jelas dia sakit mengucapkan itu, istri mana yang bahagia mendapat kabar kalau suaminya akan memiliki anak dari wanita lain.
Gerhana yang melihat itu pun, dia begitu mengerti perasaan Kalisa, dia tahu kalau Kalisa sebenarnya tidak bisa menerima adanya orang ketiga, apalagi kini akan hadir bayi mungil Rio dan Felisha, terlihat jika Kalisa akan mundur dari pernikahan ini.
Fino (Rio) mematung, dia yang dulu berpikir kalau dia korban perjodohan orang tuanya, namun nyatanya Kalisa lah yang jadi korban karena sikapnya dulu.
Tak ingin berlama-lama, Kalisa pun menghapus air mata yang sempat lolos dari matanya, dia memandang ayah mertuanya, "ayah.. kapan mas Rio sadar? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Kalisa.
Gerhana menunduk, "belum ada perkembangan apapun, kami hanya berharap pada keajaiban," jawab Gerhana sedih.
Kalisa pun ikut sedih, meski dia sakit hati namun dia tetap berdoa untuk kesembuhan Rio.
Kalisa pun pamit karena dia harus bekerja, dia juga tidak ingin berlama-lama disana dan bertemu Felisha.
Namun Kalisa yang berniat pulang, dia malah melihat Felisha yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan, sepertinya dia telah memeriksakan kandungannya.
Hati Kalisa begitu perih, dia tidak sengaja melihat kertas jatuh dari tangan Felisha dan wanita itu tidak menyadarinya, Kalisa buru-buru mengambil kertas itu, bahkan sempat meninggalkan Fino sejenak karena jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Apa ini?" Gumam Kalisa.
Ternyata itu hasil USG milik Felisha, Kalisa dengan fokus mencari tahu berapa usia kandungan Felisha sebenarnya.
Dan mata Kalisa tertuju pada tulisan itu, membuat dia tersenyum miris.
__ADS_1
"Bunna, Fino mau lihat..!" Ucap Fino dengan berjinjit, dia juga begitu penasaran.
Bersambung…